INDOZONE.ID - Dalam zaman modern yang penuh dengan kesibukan dan konektivitas digital yang tak terhindarkan, pentingnya kesehatan mental semakin meningkat.
Sebagai respons terhadap kebutuhan ini, muncul sebuah fenomena dari Jepang yang menarik perhatian dunia: Shinrin Yoku, atau yang lebih dikenal sebagai 'terapi hutan'.
Shinrin Yoku adalah praktik yang sengaja melibatkan diri dalam lingkungan alam dengan tujuan untuk merasakan keberadaan alam dengan segala indera.
Baca Juga: 9 Manfaat Mengonsumsi Selada Merah, Kaya Nutrisi Hingga Menurunkan Berat Badan
Terapi alam ini telah menjadi pusat perhatian bagi peneliti dan praktisi kesehatan mental karena manfaatnya yang signifikan terhadap kesejahteraan manusia.
Secara ilmiah, Shinrin Yoku terbukti dapat mengurangi tingkat stres, meningkatkan suasana hati, meningkatkan konsentrasi, dan bahkan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Pada tahun 1982, di Jepang, sebuah program kesehatan nasional untuk Shinrin-yoku diusulkan oleh Badan Kehutanan Jepang dengan tujuan mengurangi stres pada pekerja dan meningkatkan kesehatan manusia.
Baca Juga: 5 Kebiasaan Kecil yang Bisa Membuat Cepat Lupa di Usia Muda
Pada awalnya, pada tahun 1980-an, saat orang-orang mulai mengadopsi Shinrin-yoku, praktik ini hanya didasarkan pada pemikiran intuitif bahwa berada di hutan yang indah akan memberikan manfaat bagi kesejahteraan kita.
Namun, pada waktu itu, belum ada bukti medis yang cukup untuk mendukung manfaat Shinrin-yoku.
Baru pada tahun 2004, penelitian dilakukan yang membuktikan bahwa Shinrin-yoku memiliki manfaat dalam meningkatkan kesehatan fisik dan mental dengan mengurangi tingkat stres.
Baca Juga: Kenali Ciri-Ciri Tubuh Terkena Penyakit DBD, Wajib Simak!
Manfaat utama Shinrin Yoku terhadap kesehatan mental terletak pada interaksi manusia dengan alam. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa berada di alam dapat mengurangi produksi hormon stres seperti kortisol dan meningkatkan produksi hormon bahagia seperti serotonin dan dopamin.
Selain itu, terapi alam juga meningkatkan aktivitas sistem saraf parasimpatik, yang bertanggung jawab atas relaksasi dan pemulihan tubuh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: National Institute Of Health