INDOZONE.ID - Setiap hari, kita selalu dihadapkan pada pilihan.
Mulai dari hal kecil seperti menentukan sarapan pagi untuk hari ini sampai keputusan besar seperti memilih jurusan kuliah, karier, atau hubungan, semuanya adalah proses mengambil keputusan.
Tapi kenapa banyak dari kita sering merasa takut ambil keputusan?
Kenapa hal yang seharusnya sederhana bisa bikin kepala pusing, overthinking, bahkan bikin kita stuck berhari-hari tanpa memilih apa pun?
Percaya atau tidak, ada alasan psikologis dan ilmiah di balik rasa takut membuat keputusan ini.
Baca juga: Puasa Ramadhan dalam Islam: Dalil, Tafsir, dan Keutamaannya bagi Setiap Muslim
Artikel ini akan membahas berbagai faktor penyebabnya, mulai dari decision fatigue, analysis paralysis, hingga bias psikologis yang bikin kita makin ragu.
Apa penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya? Simak sampai habis.
Decision Making Itu Berat, Bukan Karena Kita Lemah
Kalau Kamu sering merasa ragu atau nervous saat harus memilih sesuatu, itu bukan berarti Kamu lemah atau enggak kompeten.
Otak kita sebenarnya didesain untuk menghindari risiko.
Secara evolusi, manusia punya insting untuk menghindari bahaya dan kerugian, karena itu membantu bertahan hidup.
Baca juga: Cerita Ketegaran Istri dan Peran Suami Usai Melahirkan di Rumah Sakit Jadi Perhatian Warganet
Tapi di zaman modern yang penuh pilihan, insting ini sering berlebihan dan bikin kita takut mengambil langkah.
Salah satu penyebab yang paling sering dibahas ilmuwan adalah decision fatigue.
Ini fenomena di mana otak kita kelelahan karena harus membuat terlalu banyak keputusan dalam sehari, sehingga kemampuan kita untuk membuat keputusan yang baik menurun seiring waktu.
Makanya, setelah seharian kerja, Kamu mungkin merasa lebih sulit memutuskan makanan untuk makan malam dibandingkan saat bangun tidur di pagi hari.
Terlalu Banyak Pilihan Tidak Selalu Membantu
Dalam dunia sekarang yang serba digital, kita punya lebih banyak pilihan dibanding generasi sebelumnya.
Baca juga: Cerita Ketegaran Istri dan Peran Suami Usai Melahirkan di Rumah Sakit Jadi Perhatian Warganet
Pilih pekerjaan, pasangan, gaya hidup, bahkan konten hiburan yang ingin ditonton, semua tersedia dalam jumlah yang luar biasa banyak.
Sebagai manusia, kita berpikir semakin banyak pilihan berarti semakin besar kemungkinan kita menemukan yang terbaik.
Tapi ternyata penelitian psikologi justru menunjukkan sebaliknya.
Istilah overchoice atau choice overload menjelaskan kondisi di mana kita jadi kewalahan karena terlalu banyak pilihan, sehingga malah sulit untuk mengambil keputusan.
Ketika otak harus membandingkan banyak opsi yang seolah-olah semua bagus, itu justru bikin kita mengalami kebingungan dan stres.
Baca juga: Bacaan Bilal Sebelum dan Sesudah Sholat Idul Fitri, Lengkap Arab-Latin dan Maknanya
Akibatnya, kita sering takut memilih sama sekali atau menunda keputusan sampai semuanya terasa “sempurna”.
Analysis Paralysis: Saat Otak Terlalu Banyak Berpikir
Pernah ngerasa Kamu nimbang pro dan kontra sampai ribuan kali, baca artikel, tanya pendapat orang, tapi tetap nggak bisa memutuskan apa pun?
Itu yang disebut analysis paralysis atau paralisis karena analisis berlebihan.
Dalam istilah psikologi, ini terjadi ketika kita terlalu fokus pada semua kemungkinan yang bisa terjadi, sehingga malah gak bergerak sama sekali.
Baca juga: Nenek Ini Bertahan di Depan Warung hingga Pagi Hari karena Alasan Tak Terduga
Istilah ini dikaitkan dengan kecenderungan manusia untuk ingin menemukan jawaban paling sempurna, bukan cuma jawaban yang baik atau cukup baik.
Ketika kita terlalu takut membuat kesalahan, kita cenderung menunda atau bahkan menghindari sama sekali proses pengambilan keputusan.
Rasa Takut Akan “Kesalahan” dan Penyesalan
Salah satu alasan terbesar kenapa orang takut membuat keputusan adalah karena takut salah dan merasa akan menyesal nantinya.
Ketika Kamu menghadapi dua atau lebih pilihan, pikiranmu mungkin langsung membayangkan skenario terburuk yang bisa terjadi.
Rasa takut akan menyesal terus mengikuti langkahmu, membuat Kamu ragu untuk memilih apa pun.
Baca juga: Cowok Ini Cerita Tentang Circle Pertemanan Enam Agama di Lima Tempat Ibadah, Harmoni Bak Kemenag
Psikologi perilaku juga menyebut fenomena ini sebagai loss aversion atau kecenderungan manusia untuk lebih merasa rugi kalau kehilangan sesuatu ketimbang merasa bahagia saat mendapatkan sesuatu dengan nilai yang sama.
Itulah alasan kenapa kita sering lebih fokus menghindari hasil yang buruk daripada mencari hasil yang baik, dan ini bikin proses pengambilan keputusan jadi lebih menakutkan.
Pernah Dengar Tentang Decidophobia?
Satu istilah yang mulai muncul dalam literatur psikologi adalah decidophobia, yaitu ketakutan ekstrem atau kecemasan yang kuat saat menghadapi keputusan.
Orang yang mengalami decidophobia cenderung merasa overwhelmed bahkan hanya dengan pilihan sederhana sekalipun.
Ketidakpastian, tekanan sosial, kurangnya rasa percaya diri, atau pengalaman buruk di masa lalu bisa menjadi penyebabnya.
Decidophobia tidak selalu berarti penyakit mental berat, tapi rasa takut ini bisa mempengaruhi kualitas hidup.
Orang yang terganggu oleh decidophobia mungkin menghindari keputusan penting, membiarkan kesempatan lewat begitu saja, atau terlalu sering bergantung pada pendapat orang lain.
Emosi dan Heuristik dalam Pengambilan Keputusan
Selain faktor pilihan dan rasa takut salah, emosi kita sendiri juga mempengaruhi keputusan.
Ada bias psikologis yang disebut affect heuristic.
Ini adalah kecenderungan ketika keputusan kita dipengaruhi oleh emosi atau perasaan terhadap sesuatu, bukan oleh fakta objektif.
Baca juga: Tangis Rindu Seorang Ibu di Tanah Suci, Dipertemukan dengan Sosok yang Mengingatkan pada Anaknya
Contohnya, kalau pengalaman masa lalu terhadap sesuatu itu baik, kita cenderung merasa yakin dan cepat memilihnya lagi.
Sebaliknya, kalau pengalaman itu buruk atau bikin takut, kita cenderung menilai risiko lebih besar daripada kenyataannya.
Ini membuat kita sulit memutuskan secara logis, karena perasaan kita sudah “mengunci” cara pandang terhadap pilihan itu.
Tekanan Sosial dan Perfeksionisme
Tak hanya faktor dalam diri sendiri, lingkungan sosial juga bisa bikin kita takut ambil keputusan.
Kadang kita takut mengecewakan orang tua, pasangan, teman, atau takut dikritik kalau pilihan kita ternyata bukan yang terbaik.
Baca juga: 40 Contoh Surat Izin Tidak Masuk Sekolah untuk Grup WhatsApp
Tekanan ini bikin keputusan terasa seperti target yang harus dipenuhi, bukan pilihan yang bisa dilakukan secara alami.
Selain itu, perfeksionisme, keinginan untuk selalu melakukan yang sempurna, bisa bikin kita menghabiskan waktu lebih banyak daripada seharusnya hanya untuk mencari satu keputusan paling tepat.
Padahal kenyataannya, tidak semua keputusan memiliki hasil yang sempurna, dan seringkali yang kita buat adalah pilihan dengan informasi terbaik yang ada saat itu.
Bagaimana Cara Mengatasi Rasa Takut Ambil Keputusan?
Kalau Kamu sering merasa takut ambil keputusan, berikut beberapa cara yang bisa membantu supaya Kamu gak terjebak dalam decision paralysis:
Baca juga: Ditinggal Liburan Kuliah Sebulan, Kamar Kos Mahasiswi Ini Berantakan dan Ada Bangkai Kucing
1. Kurangi Jumlah Pilihan
Kadang kita perlu memfilter pilihan yang terlalu banyak. Fokuskan pada 3 sampai 5 opsi terbaik dulu, baru bandingkan dari situ.
2. Ingat Bahwa Tidak Ada Keputusan yang “Sempurna”
Hampir semua keputusan punya pro dan kontra. Lebih baik memilih yang cukup baik dengan pengetahuan yang ada daripada menunggu opsi sempurna yang mungkin tidak akan pernah datang.
3. Terima Risiko dan Ketidakpastian
Keputusan apapun selalu punya risiko. Belajar menerima ketidakpastian sebagai bagian dari hidup bisa bikin Kamu lebih berani bergerak maju.
Baca juga: Kenapa Kita Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain? Ini Penjelasan Psikologinya
4. Belajar dari Pengalaman
Semua orang pernah membuat keputusan yang buruk. Yang penting adalah bagaimana Kamu belajar dari pilihan itu dan menggunakannya untuk keputusan berikutnya.
Takut ambil keputusan itu bukan sekadar perasaan aneh atau kelemahan, tapi fenomena psikologis yang bisa dijelaskan oleh sains.
Dari decision fatigue yang bikin otak kelelahan hingga analysis paralysis yang bikin kita overthinking, hingga bias psikologis seperti affect heuristic dan loss aversion, semua itu bisa membuat kita takut menentukan pilihan.
Kenapa kita sering takut ambil keputusan? Karena kita takut salah, takut menyesal, atau takut kehilangan sesuatu.
Kita juga sering dibingungkan oleh terlalu banyak pilihan dan tekanan dari luar.
Baca juga: Hindari Kesalahan Mencuci Peralatan Makan dan Masak Ini, Bisa Berbahaya!
Memahami proses psikologis di balik keputusan ini membuat kita bisa lebih bijak dan berani bertindak.
Pada akhirnya, belajar membuat keputusan adalah bagian dari tumbuh dewasa. Semakin Kamu sering melatihnya, semakin mudah Kamu menghadapi ketidakpastian hidup.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber