INDOZONE.ID - Kita dibesarkan sama film-film romcom yang ngajarin kalau setiap orang pasti punya setidaknya satu kisah cinta life-changing—yang bikin gak bisa makan, gak bisa tidur, dan ngechat temen jam 2 pagi.
Tapi studi baru bilang: realitanya beda.
Penelitian yang dipublikasi di jurnal Interpersona ini ngelibatin lebih dari 10.000 orang dewasa lajang di AS.
Mereka cuma ditanya satu hal: seumur hidup, berapa kali lo ngerasa passionately in love? Gak dikasih definisi, gak dikasih contoh. Terserah responden aja nafsirinya sendiri.
Baca juga: Represif adalah: Pengertian, Contoh, dan Dampaknya dalam Kehidupan
Rata-rata Cuma 2 Kali Seumur Hidup
Hasilnya? Rata-rata jawaban ada di angka 2. Iya, dua kali seumur hidup—bukan per dekade. Lebih gila lagi, sekitar 14 persen responden jawab "nol."
Artinya, 1 dari 7 orang dewasa lajang ngaku gak pernah ngerasain cinta yang membara. Sekitar 11 persen aja yang ngerasain 4 kali atau lebih.
Studi ini ngedefinisin passionate love sebagai intensitas tahap awal yang paling orang kenal: mikirin doi terus, kangen pas lagi jauh, dan ngerasa hal lain di hidup jadi nomor dua.
Psikolog Robert Sternberg bahkan masukin passion sebagai salah satu komponen segitiga cinta teorinya tahun 1986.
Passion biasanya memanas di awal, lalu mendingin pas hubungan mulai stabil.
Baca juga: Keren! Dua Anak Merangkai Robot Barongsai dengan Coding untuk Meriahkan Imlek
Usia Ngaruh, Tapi Gak Signifikan
Orang tua punya sedikit lebih banyak pengalaman cinta membara—masuk akal karena mereka punya lebih banyak tahun buat pacaran. Tapi peningkatannya kecil.
Waktu aja gak cukup jamin lebih banyak momen head-over-heels.
Satu-satunya tempat di mana gender bikin beda adalah grup heteroseksual. Pria laporkan sedikit lebih banyak pengalaman cinta membara daripada wanita.
Tapi partisipan gay, lesbian, dan biseksual gak ngikutin pola itu.
Bukan Berarti Hidup Lo Kurang
Tentu ada caveats: sampelnya cuma orang dewasa lajang, bukan yang lagi berpasangan.
Definisi "passionately in love" juga diserahkan ke responden, jadi "that was intense" versi orang A bisa jadi "that was a situationship with good playlists" versi orang B. Self-reporting selalu punya fuzz.
Tapi angka-angka ini tetap striking karena bentrok sama cultural script yang ngajarin kalau cinta membara itu required life experience, kayak semacam rite of passage.
Baca juga: Resensi Novel: Pengertian, Struktur, Unsur, dan Contohnya
Riset ini nunjukin itu lebih langka dari film. Dan gak ngerasain bukan berarti lo broken.
Itu bikin lo normal di negara yang oversells romance dan undersells banyak cara lain buat ngerasa hidup lo penuh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Vice.com