INDOZONE.ID - Pernahkah Anda membayangkan bagaimana kantong kresek, botol minum, hingga komponen smartphone Anda dibuat?
Plastik sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern.
Namun, perjalanannya dari bahan mentah hingga jadi produk siap pakai ternyata sangat panjang dan melibatkan proses kimia yang rumit.
Dirangkum dari laman British Plastics Federation (BPF), plastik tidak muncul begitu saja. Ia berasal dari kekayaan alam yang diolah sedemikian rupa. Yuk, intip proses pembuatannya!
Baca juga: Kenapa Kucing Tidak Suka Makanan Kering? Ini Penyebab dan Solusinya
1. Bahan Baku Berawal dari Minyak dan Gas
Mayoritas plastik berasal dari bahan alam seperti gas alam, minyak bumi, hingga batu bara. Bahan-bahan ini mengandung senyawa hidrokarbon yang menjadi "fondasi" utama plastik.
Namun, di era modern, para ahli juga mulai mengembangkan plastik dari bahan terbarukan seperti jagung atau tebu.
2. Proses Distilasi di Kilang Minyak
Minyak mentah yang baru diambil dari dalam bumi tidak bisa langsung dipakai. Minyak tersebut harus melalui proses distilasi di kilang minyak.
Di sini, minyak dipanaskan hingga terpisah menjadi kelompok-kelompok yang disebut fraksi. Nah, salah satu fraksi yang paling penting untuk plastik adalah Naphtha.
Baca juga: So Sweet, Kakek Ini Abadikan Gaya Istrinya di Bawah Air Terjung dengan Cara Tak Biasa
3. 'Cracking': Memecah Molekul Besar
Fraksi Naphtha tadi masih terlalu kompleks. Melalui proses bernama cracking, molekul besar dalam Naphtha dipecah menggunakan panas tinggi dan tekanan.
Hasilnya adalah molekul-molekul kecil yang disebut monomer, seperti etilena, propilena, dan butilena.
4. Polimerisasi: 'Menjahit' Molekul Jadi Rantai Panjang
Ini adalah tahap inti. Monomer-monomer kecil tadi harus disatukan agar menjadi kuat. Proses ini disebut polimerisasi. Bayangkan monomer seperti butiran manik-manik yang dirangkai menjadi kalung yang sangat panjang.
Kalung panjang inilah yang kita sebut sebagai polimer atau resin plastik.
Ada dua jenis utama polimerisasi: Polimerisasi Adisi adalah Monomer disambung satu per satu. Sedangkan Polimerisasi Kondensasi adalah Monomer digabung dengan membuang molekul kecil (seperti air).
Baca juga: Dua Pengantin Tak Sengaja Bertemu di Jalan yang Sama, Lalu Tukar Bunga di Tengah Perjalanan
5. Compounding: Memberi Bumbu pada Plastik
Polimer murni biasanya masih kaku atau belum berwarna. Di tahap compounding, polimer dicampur dengan bahan tambahan (additives) untuk menentukan karakteristiknya.
Ingin plastik yang lentur? Tambahkan plasticiser. Ingin warna-warni? Tambahkan pewarna. Ingin tahan api? Tambahkan flame retardants.
6. Pembentukan (Moulding)
Setelah campuran siap, plastik yang biasanya berbentuk pelet (butiran kecil) dipanaskan hingga meleleh. Cairan plastik ini kemudian dicetak dengan berbagai teknik:
- Injection Moulding: Untuk produk presisi seperti tutup botol.
- Blow Moulding: Untuk membuat benda berongga seperti botol minum.
- Extrusion: Untuk membuat pipa atau lembaran plastik.
Baca juga: Apa Itu Catnip? Manfaat dan Cara Aman Memberikannya ke Kucing
Kenapa Kita Perlu Tahu?
Memahami cara plastik dibuat menyadarkan kita bahwa prosesnya membutuhkan energi besar dan sumber daya alam yang terbatas.
Oleh karena itu, langkah terbaik setelah plastik selesai digunakan adalah dengan melakukan daur ulang (recycling) agar rantai polimer tersebut bisa digunakan kembali tanpa harus mengeksploitasi minyak bumi baru.
Jadi, sudah tidak penasaran lagi kan bagaimana botol plastik di meja Anda "lahir"?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: British Plastics Federation