INDOZONE.ID - Keluar dari lingkaran pertemanan yang toxic sering kali terasa seperti “bebas tapi kosong” di waktu yang sama.
Di satu sisi kamu sudah lepas dari hubungan yang melelahkan secara emosional, tapi disisi lain muncul rasa hampa, canggung, bahkan takut untuk percaya lagi pada orang baru.
Banyak orang akhirnya memilih menarik diri dari semua hubungan sosial setelah pengalaman seperti ini. Padahal, mengisolasi diri terlalu lama justru bisa memperlambat proses pemulihan emosional.
Baca juga: Sudah Muak dengan Teman Toxic tapi Bingung Cara Mengakhirinya? Begini Cara ‘Putusinnya’
Kenapa Putus dari Teman Toxic Bisa Bikin Sulit Percaya Orang Lagi?
Pertemanan yang tidak sehat biasanya meninggalkan luka yang tidak langsung terlihat, misalnya sering direndahkan atau tidak dihargai, manipulasi emosional atau gaslighting, dikhianati atau dijadikan “tempat sampah emosi”, atau dibuat merasa bersalah terus-menerus.
Pengalaman seperti ini bisa bikin seseorang jadi lebih waspada berlebihan. Akibatnya, muncul pikiran seperti:
“Jangan-jangan orang lain juga akan sama saja?”
“Kalau aku dekat lagi, nanti disakiti lagi.”
Ini adalah respons yang wajar, karena otak sedang mencoba melindungi diri dari pengalaman buruk yang pernah terjadi.
Baca juga: Viral Jemaah Haji Lansia Panik di Pesawat, Minta Turun untuk Beri Makan Ayamnya
Menghindari Semua Orang Bukan Solusi Jangka Panjang
Setelah keluar dari hubungan toxic, wajar kalau kamu butuh waktu sendiri. Tapi jika terlalu lama menjauh dari semua orang, efeknya bisa berkembang jadi merasa kesepian meskipun “aman”, sulit membangun koneksi baru, overthinking saat berinteraksi dan kehilangan support system yang sebenarnya penting.
Manusia pada dasarnya tetap butuh koneksi sosial yang sehat. Bukan banyaknya teman yang penting, tapi kualitas hubungan yang kamu punya.
Mulai dari Lingkaran Kecil yang Aman
Tidak perlu langsung membuka diri ke banyak orang. Mulailah dari yang paling aman dulu, seperti teman lama yang dulu pernah baik, satu atau dua orang yang kamu percaya, serta keluarga atau orang terdekat.
Baca juga: Sering Diremehkan Teman Sendiri? Ini Cara Tegas Pasang Batasan agar Pertemanan Nggak Jadi Toxic
Kuncinya adalah pelan-pelan membangun kembali rasa nyaman. Tidak harus langsung deep talk, cukup mulai dari hal sederhana seperti ngobrol ringan atau sekadar tanya kabar.
Tidak Semua Orang Sama: Belajar Membedakan Pengalaman Lama dan Orang Baru
Salah satu tantangan terbesar setelah keluar dari hubungan toxic adalah “menyamakan semua orang dengan pengalaman buruk sebelumnya”.
Padahal setiap orang berbeda. Ada yang memang tidak sehat, tapi ada juga yang tulus dan suportif.
Belajar membedakan ini penting supaya kamu tidak menutup diri dari peluang hubungan yang sebenarnya bisa membawa dampak positif.
Baca juga: Rindu Ayahnya, Cewek Ini Habiskan Waktu Berjam-jam Telusuri Dokumentasi Trans7
Berani Jujur dengan Perasaan Sendiri
Kalau kamu sudah mulai nyaman dengan seseorang, tidak ada salahnya untuk jujur secara perlahan tentang pengalaman yang pernah kamu alami.
Kamu tidak perlu cerita semuanya sekaligus. Cukup sampaikan bahwa kamu sedang belajar membangun kepercayaan lagi. Orang yang tepat biasanya akan mengerti tanpa menghakimi.
Ini juga bisa menjadi cara untuk melihat apakah seseorang benar-benar layak masuk ke lingkaran pertemananmu.
Baca juga: 5 Cara Menghadapi Teman Toxic Tanpa Drama Berlebihan!
Proses Pulih Itu Bertahap, Bukan Perlombaan
Tidak ada timeline pasti untuk kembali “normal” setelah keluar dari hubungan toxic. Setiap orang punya prosesnya masing-masing.
Ada hari di mana kamu merasa siap membuka diri, tapi ada juga hari di mana kamu ingin menjauh lagi — dan itu normal.
Yang penting adalah kamu tetap bergerak, meski pelan.
Kamu Berhak Punya Pertemanan yang Lebih Sehat
Keluar dari hubungan pertemanan yang toxic adalah langkah besar yang tidak semua orang berani ambil. Tapi prosesnya tidak berhenti disitu saja.
Baca juga: Kalau Kamu Sering Merasa Seperti Ini, Waspada! Diam-Diam Temanmu Merusak Mentalmu
Kamu tetap berhak punya lingkungan yang sehat, suportif, dan membuatmu merasa dihargai.
Mulai dari langkah kecil, buka sedikit demi sedikit ruang untuk orang yang tepat, dan jangan biarkan pengalaman buruk di masa lalu menutup kemungkinan baik di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline