Ilustrasi persahabatan yang toxic. (freepik)
INDOZONE.ID - Pertemanan idealnya jadi tempat paling nyaman untuk berbagi cerita, mencari dukungan, dan tertawa bersama. Namun kenyataannya, tidak semua teman membawa pengaruh positif dalam hidup.
Ada kalanya seseorang justru merasa lelah secara emosional karena terus berhadapan dengan teman yang suka merendahkan, berbohong, tidak konsisten, hingga mengabaikan perasaan orang lain.
Parahnya, banyak orang tetap bertahan dalam hubungan seperti ini karena takut kehilangan teman atau merasa hubungan tersebut masih bisa diperbaiki.
Jika kamu mulai merasa tidak nyaman dalam sebuah pertemanan, bisa jadi itu tanda bahwa hubungan tersebut sedang tidak sehat.
Baca juga: Kocak! Ibu-ibu Ini Cium Ban Bus agar Tidak Mabuk Perjalanan
Hubungan pertemanan yang toxic sering kali dimulai dari hal-hal kecil yang dianggap sepele.
Misalnya, teman yang sering menjadikanmu bahan candaan di depan orang lain dengan dalih “cuma bercanda”, suka membocorkan rahasia pribadi, gemar bergosip, sering berbohong, atau terus membatalkan janji secara mendadak tanpa penjelasan.
Perilaku seperti ini mungkin terlihat biasa jika hanya terjadi sekali. Namun jika terus berulang, dampaknya bisa membuat seseorang merasa tidak dihargai, kehilangan kepercayaan, bahkan stres secara emosional.
Baca juga: PNM Perluas Akses Pendidikan Lewat Beasiswa hingga Ruang Pintar PNM di Pelosok Negeri
Banyak orang memilih diam meski merasa tersakiti. Alasannya beragam.
Ada yang takut dianggap terlalu sensitif, ada yang tidak ingin memicu konflik, dan ada juga yang merasa hubungan pertemanan yang sudah lama terjalin terlalu berharga untuk diakhiri.
Padahal, terus memendam rasa kesal hanya akan membuat hubungan semakin tidak sehat.
Baca juga: “Teman Dekat” Ternyata Bisa Bikin Stres Kamu Meningkat Tanpa Disadari, Kok Bisa?
Jika kamu masih ingin mempertahankan hubungan tersebut, langkah paling penting adalah membuat batasan yang jelas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline