INDOZONE.ID - Pernah merasa sulit fokus saat bekerja, tapi justru merasa bersalah saat ingin berhenti sejenak? Kalau iya, bisa jadi kamu sedang terjebak dalam hustle culture.
Hustle culture adalah pola pikir yang menganggap kesuksesan hanya bisa diraih jika seseorang mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk bekerja tanpa henti.
Padahal, kamu bukan robot, tubuh dan pikiran tetap butuh istirahat agar bisa berfungsi dengan baik.
Nah, bagi kamu yang masih bingung cara menyikapinya, berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan.
Ciri-ciri Hustle Culture yang Sering Tidak Disadari
Salah satu ciri utama seseorang terjebak dalam hustle culture adalah merasa bahwa produktif berarti harus bekerja terus-menerus tanpa jeda.
Saat tidak bekerja atau memilih beristirahat, ia justru merasa bersalah, seolah-olah sedang membuang waktu.
Padahal, pola pikir seperti ini bisa membuat seseorang kehilangan batas antara bekerja dan menjalani hidup.
Baca juga: 5 Mindset yang Harus Diterapkan untuk Mengurangi Hustle Culture
Akibatnya, pekerjaan terus memenuhi kepala, bahkan saat sedang berada di rumah, berkumpul dengan orang lain, atau seharusnya beristirahat.
Beberapa ciri hustle culture yang perlu diwaspadai antara lain:
- Selalu memikirkan pekerjaan kapan pun dan di mana pun.
- Mengorbankan waktu tidur demi menyelesaikan tugas.
- Mengabaikan saran orang lain untuk beristirahat.
- Terlalu terobsesi dengan kesuksesan dalam pekerjaan.
- Memiliki rasa takut berlebihan terhadap kegagalan.
- Bekerja terus-menerus untuk menutupi rasa bersalah, stres, atau tekanan batin.
- Sulit menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
- Menjadikan pekerjaan sebagai alasan untuk menjauh dari hubungan sosial.
- Sering merasa tidak percaya diri dan menganggap diri sendiri belum cukup baik.
- Jarang merasa puas dengan pencapaian yang sudah diraih.
- Tidak punya waktu untuk memikirkan kebahagiaan diri sendiri.
- Mengabaikan kesehatan, seperti lupa makan, kurang tidur, dan terus merasa lelah secara mental.
Jika dibiarkan, hustle culture bukan hanya berdampak pada kondisi mental, tetapi juga bisa memengaruhi kesehatan fisik.
Seseorang bisa lebih sering mengalami keluhan seperti pusing, sakit perut, tubuh tidak enak badan, hingga kelelahan berkepanjangan akibat bekerja terlalu berlebihan.
Cara Mengatasi Hustle Culture agar Tidak Terjebak
Ada beberapa cara mengtaasi hustle culture yang bisa kamu lakukan. Berikut penjelasannya.
Kenali tanda tubuh mulai lelah
Kalau tubuh sudah terasa capek, kepala penuh, atau sulit fokus, jangan dipaksa terus bekerja. Segera ambil waktu untuk istirahat agar kondisi fisik dan mental tetap terjaga.
Tetapkan batas waktu kerja
Buat batas yang jelas antara waktu bekerja dan waktu pribadi.
Baca juga: Hustle Culture VS Work Life Balance: Pengertian dan Contoh Konkrit Dalam Kehidupan
Misalnya, setelah jam kerja selesai, hindari membuka laptop atau mengecek pekerjaan terus-menerus.
Buat daftar prioritas harian
Tulis pekerjaan yang paling penting dan harus diselesaikan lebih dulu.
Cara ini bisa membantu kamu bekerja lebih terarah tanpa merasa semua hal harus selesai dalam satu waktu.
Susun jadwal yang realistis
Jangan hanya memasukkan pekerjaan ke dalam jadwal harian.
Sisipkan juga waktu istirahat, makan, tidur, dan melakukan hal yang kamu suka.
Tetapkan target sesuai kemampuan
Punya target itu penting, tapi jangan sampai terlalu memaksakan diri.
Sesuaikan target dengan tenaga, waktu, dan kapasitas yang kamu miliki.
Berhenti membandingkan diri dengan orang lain
Setiap orang punya proses dan ritme hidup yang berbeda.
Jadi, jangan merasa gagal hanya karena pencapaianmu tidak sama dengan orang lain.
Komunikasikan beban kerja jika sudah terlalu berat
Kalau pekerjaan terasa menumpuk dan sulit ditangani sendiri, jangan ragu bicara dengan atasan atau manajer.
Dengan begitu, kamu bisa mencari solusi yang lebih sehat tanpa harus memendam semuanya sendiri.
Itu dia beberapa cara mengatasi hustle culture yang bisa kamu lakukan. Ingat pekerjaan bukan segalanya, jadi biasakan di sela-sela kesibukan kerjaan untuk istirahat ya!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Verywell Mind