Ilustrasi jerawat batu (Pixabay/Sharon McCutcheon)
INDOZONE.ID - Ketidakseimbangan hormon dapat berdampak signifikan pada kesehatan kulit, menyebabkan berbagai masalah seperti jerawat, kulit kering, hiperpigmentasi, dan penuaan dini. Hormon-hormon penting seperti estrogen, progesteron, testosteron, kortisol, dan insulin memiliki peran besar dalam mengatur fungsi kulit, sehingga fluktuasi hormon dapat mempengaruhi penampilan dan kesehatan kulit.
Salah satu efek paling umum dari ketidakseimbangan hormon pada kulit adalah jerawat. Hormon androgen, termasuk testosteron, berperan dalam produksi sebum, minyak alami yang dihasilkan oleh kelenjar sebaceous di kulit. Ketika kadar hormon androgen meningkat, produksi sebum juga meningkat, yang dapat menyebabkan penyumbatan pori-pori dan menimbulkan jerawat.
Kondisi ini sering terlihat pada remaja selama masa pubertas, ketika hormon androgen mulai diproduksi dalam jumlah besar. Namun, ketidakseimbangan hormon juga dapat terjadi pada orang dewasa, terutama pada wanita selama menstruasi, kehamilan, atau menopause. Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS) juga dapat menyebabkan jerawat pada wanita akibat peningkatan kadar androgen.
Baca juga: 8 Ciri-ciri Hormon Kortisol Tinggi, Bisa Ganggu Kualitas Tidur
Penurunan kadar estrogen, terutama selama menopause, dapat menyebabkan tanda-tanda penuaan kulit yang lebih cepat. Estrogen adalah hormon yang membantu menjaga elastisitas dan kelembapan kulit dengan merangsang produksi kolagen dan minyak alami. Ketika kadar estrogen menurun, kulit bisa menjadi lebih kering, lebih tipis, dan kehilangan elastisitasnya, sehingga keriput dan garis halus lebih mudah terlihat.
Selain itu, progesteron yang juga menurun selama menopause dapat mempengaruhi tekstur kulit. Kulit bisa kehilangan kelembutan dan tampak lebih kusam. Perubahan hormon ini juga dapat mempengaruhi kemampuan kulit untuk menyembuhkan diri dan menjaga pertahanan alaminya.
Ilustrasi kulit kering (Pexels/Jenna Hamra)
Hormon tiroid memainkan peran penting dalam mengatur metabolisme tubuh, termasuk kesehatan kulit. Ketika kelenjar tiroid tidak memproduksi hormon dalam jumlah yang cukup (hipotiroidisme), kulit cenderung menjadi lebih kering, kasar, dan terkadang bersisik. Selain itu, hipotiroidisme juga dapat menyebabkan kulit menjadi lebih sensitif dan mudah iritasi.
Sebaliknya, hipertiroidisme (kadar hormon tiroid yang terlalu tinggi) dapat menyebabkan kulit menjadi tipis dan lembut, seringkali disertai dengan peningkatan produksi keringat. Kedua kondisi ini memerlukan penanganan medis, karena selain berdampak pada kulit, juga dapat memengaruhi banyak sistem tubuh lainnya.
Ketidakseimbangan hormon juga dapat menyebabkan perubahan warna kulit atau hiperpigmentasi. Kondisi ini sering terjadi selama kehamilan atau saat menggunakan kontrasepsi hormonal, di mana perubahan kadar hormon estrogen dan progesteron memicu peningkatan produksi melanin, pigmen yang memberi warna pada kulit.
Melasma, atau dikenal sebagai “topeng kehamilan,” adalah contoh umum dari hiperpigmentasi yang disebabkan oleh hormon. Melasma muncul sebagai bercak gelap di wajah, terutama di dahi, pipi, dan hidung. Kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita dan dapat diperburuk oleh paparan sinar matahari.
Hormon stres, kortisol, juga memiliki dampak signifikan pada kulit. Peningkatan kadar kortisol akibat stres kronis dapat menyebabkan peradangan pada kulit, memperparah kondisi seperti jerawat, psoriasis, dan eksim. Kortisol yang berlebihan juga dapat memperlambat penyembuhan luka, membuat kulit tampak kusam, dan menyebabkan garis-garis halus lebih cepat terbentuk.
Kortisol juga dapat merangsang produksi minyak berlebih di kulit, yang dapat memperburuk jerawat. Ketika stres menjadi kronis, masalah kulit ini bisa menjadi sulit diatasi tanpa mengelola sumber stres dan menyeimbangkan kadar kortisol.
Baca juga: Viral! Curhatan Ibu Hamil yang Wajahnya Berubah Drastis Akibat Hormon, Bikin Dirinya Insecure
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mayo Clinic, Cleveland Clinic, American Academy Of Dermatology (AAD)