Ilustrasi Glass Skin. (Magnific)
INDOZONE.ID - Pernah nggak sih melihat orang dengan wajah super halus, glowing, dan kelihatan bening banget sampai seperti kaca? Bukan editan, bukan filter itulah yang disebut glass skin. Dan ya, tren ini masih jadi “holy grail” di dunia skincare sampai sekarang.
Tapi pertanyaannya: ini benar-benar bisa dicapai siapa saja, atau cuma mitos dunia kecantikan?
Banyak yang salah kaprah mengira glass skin itu cuma kulit yang kelihatan basah atau memakai produk highlighter tebal. Padahal bukan itu intinya!
Glass skin adalah kondisi kulit yang terlihat super halus, lembap maksimal, bersih, dan punya efek “transparan sehat” seperti kaca.
Menurut Alicia Yoon dari Peach & Lily, glass skin itu sebenarnya tanda kulit sedang dalam kondisi paling optimal. Bukan cuma lembap di permukaan, tapi benar-benar sehat dari dalam.
Bahkan kalau dibayangkan, kulit bayi sering jadi contoh paling dekat karena teksturnya yang masih super lembut dan “bersih alami”.
Baca juga: 8 Langkah Menuju Glass Skin Impian, Dijamin Bikin Wajah Glowing!
Ini yang sering bikin orang kaget! Walaupun identik banget sama K-beauty, di Korea sendiri orang nggak terlalu memakai istilah “glass skin”. Mereka lebih sering menyebut kulit ideal dengan istilah seperti kulit bening, kulit kenyal dan sehat, kulit cerah merata, atau kulit bercahaya alami.
Istilah “glass skin” justru lebih booming di luar Korea karena terdengar catchy dan gampang diingat. Dari situ, tren ini akhirnya meledak di dunia skincare global.
Nggak bisa dipungkiri, media sosial punya peran besar.
Begitu banyak beauty influencer dan pecinta skincare mulai membagikan hasil kulit mereka yang super glowing, istilah “glass skin” langsung jadi “standar baru” kecantikan modern.
Bahkan di era sekarang, banyak orang yang menjadikan glass skin sebagai goal skincare utama bukan sekadar cerah, tapi harus terlihat sehat, lembap, dan flawless.
Ilustrasi glowing maksimal (Magnific)
Nah, ini yang sering bikin orang kecewa. Glass skin itu bukan hasil dari satu malam memakai skincare mahal. Bahkan bukan juga karena faktor genetik saja.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline