Ilustrasi mengatasi rambut rusak dengan air beras. (freepik)
INDOZONE.ID - Sebelum ada serum rambut mahal dan treatment salon, perempuan Asia sudah lebih dulu punya senjata rahasia: air beras. Dan ternyata sains membuktikan ini bukan sekadar mitos belaka.
Kamu baru aja bleaching rambut dan sekarang ujungnya bercabang, teksturnya kasar, dan rasanya seperti jerami kering? Tenang — kamu nggak sendirian.
Dan solusinya mungkin jauh lebih murah dari yang kamu bayangkan: cukup dari dapur rumahmu sendiri.
Air beras — cairan bening sisa rendaman atau cucian beras — sudah lama digunakan sebagai ritual kecantikan di berbagai penjuru Asia.
Baca juga: Mengenal Sinergi Bahan Aktif yang Mampu Kunci Kelembapan Kulit dan Stimulasi Kolagen
Tapi baru belakangan ini ilmu pengetahuan mulai mengungkap kenapa bahan super sederhana ini bisa bekerja begitu efektif untuk rambut yang rusak.
Bleaching bekerja dengan cara memecah pigmen alami rambut menggunakan bahan kimia keras.
Proses ini memang efektif mengangkat warna, tapi sekaligus merusak lapisan pelindung luar rambut (kutikula) dan melemahkan struktur protein di dalamnya. Hasilnya?
Baca juga: Sering Dianggap Cuma Limbah Dapur, Air Beras Ternyata Bisa Bantu Atasi Kulit Kering!
Air beras mengandung senyawa bernama inositol — sejenis karbohidrat alami yang memiliki kemampuan unik untuk menembus masuk ke dalam batang rambut yang rusak.
Penelitian membuktikan bahwa inositol dalam air beras mampu memperbaiki kerusakan rambut dari dalam ke luar, termasuk mengatasi ujung rambut yang bercabang.
Baca juga: Rahasia Kulit Lebih Cerah dari Air Beras? Ini Fakta yang Jarang Diketahui!
Yang lebih mengesankan lagi, inositol tetap bertahan didalam rambut bahkan setelah proses pembilasan — artinya perlindungannya bersifat berkelanjutan.
Berbeda dengan kondisioner biasa yang hanya bekerja di permukaan luar rambut, inositol benar-benar masuk ke dalam struktur rambut dan memperkuat dari dalam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline