Tradisi Ceng Beng (Nathania/Z Creators)
INDOZONE.ID - Masyarakat Indonesia terdiri atas beragam budaya dan tradisi. Keberadaan etnis Tionghoa di Indonesia sudah ada sejak berabad-abad lalu dan menjadi suatu entitas tersendiri. Walaupun "terputus" dari tanah leluhurnya, mereka tetap memiliki adat istiadat dan budaya Tionghoa sendiri yang bercorak lokal.
Masyarakat Tionghoa di Indonesia memiliki berbagai tradisi yang secara turun-temurun rutin dilakukan, bahkan dianggap sebagai sebuah kewajiban. Terdapat berbagai macam tradisi, baik yang secara umum sudah dikenal luas seperti Cap Go Meh dan Sin Cia, maupun tradisi lain yang jarang diketahui, seperti mengunjungi makam, yaitu perayaan Ceng Beng.
Baca juga: Remaja Purbalingga Melestarikan Seni Tradisional Melalui Padepokan Wisanggeni
Ceng Beng berasal dari kata Ceng yang berarti "bersih", dan Beng yang berarti "cerah". Tradisi Ceng Beng sudah dilakukan oleh masyarakat Tiongkok sejak 500–700 tahun sebelum Masehi. Ceng Beng merupakan upacara doa yang dilaksanakan dengan mengunjungi makam leluhur, orang tua, maupun kerabat yang telah meninggal.
Selain bertujuan untuk menghormati leluhur, Ceng Beng juga dilakukan sebagai bentuk pengabdian kepada arwah dengan merapikan dan membersihkan makam leluhur. Upacara Ceng Beng biasanya dilaksanakan pada 4–6 April setiap tahun. Namun, ada juga masyarakat Tionghoa yang melaksanakannya sebelum atau sesudah tanggal tersebut.
Ceng Beng dilakukan di makam keluarga atau kerabat yang telah meninggal, dengan membawa makanan berupa masakan, aneka kue, dan buah-buahan yang dijadikan sesaji untuk persembahan kepada arwah leluhur. Setelah menyusun makanan dan menghias makam, prosesi dilanjutkan dengan doa yang dipanjatkan keluarga kepada leluhur.
Doa-doa tersebut di antaranya berisi permohonan berkat kesehatan, kesuksesan, dan kelimpahan rezeki. Sesudah memanjatkan doa, dilanjutkan dengan ritual membakar kertas perak (Gin Cua) serta peralatan lain seperti baju, celana, dan uang yang terbuat dari kertas. Masyarakat percaya bahwa pembakaran kertas tersebut akan menyampaikannya kepada arwah leluhur sebagai bekal di alam baka.
Baca juga: Mengenal Pakaian Adat Tradisional Aceh, dari Linta Baro hingga Dara Baro yang Penuh Makna
Setelah ritual selesai, keluarga yang berziarah biasanya menyantap makanan sesaji yang sebelumnya dipersembahkan kepada leluhur. Hal ini dilakukan agar makanan tersebut tidak terbuang sia-sia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal.unimed.ac.id