Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 04 SEPTEMBER 2025 • 15:10 WIB

Reak Dogdog, Warisan Budaya Tak Benda Jawa Barat yang Sudah Ada Sejak Zaman Majapahit

Reak Dogdog, Warisan Budaya Tak Benda Jawa Barat yang Sudah Ada Sejak Zaman MajapahitReak dogdog (mamajokaa.com) 

INDOZONE.ID - Merinding rasanya jika mendengar suara tabuhan dogdog diiringi terompet pencak silat. Sudah merinding jika mendengarnya, jika melihat secara langsung, penonton akan ditambah merinding lagi.

Sebab, ada Bangbarongan yang menggunakan karung goni sebagai penutupnya yang seakan memberi pesan kepada generasi muda sulitnya hidup para zaman kolonial.

Tak jarang penonton mulai kesurupan karena dirasuki arwah leluhur. Efek trans (kesurupan) menjadi bagian dalam seni reak dogdog menyiratkan interaksi para pelaku seni, malim, masyarakat, serta mahluk gaib yang melakukan intrans. 

Interaksi tersebut menekankan pentingnya rasa bersyukur dan mencari ridha Allah. Lagu yang dimainkan memberikan makna tersendiri mengenai arti kehidupan dan pentingnya rasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Baca juga: Tradisi Unik 17 Agustus di Medan: Warga Kampung Aur Nyebur Massal ke Sungai

Semakin lama lagu dimainkan dalam helaran, pemain reak terlihat seperti kesurupan. Akhir dari seni reak dogdog ditandai dengan mulai sadarnya pemain reak dari trans.

Kesenian ini bernama Reak. Terdengar seperti reog, ya, karena memang kesenian ini masih berkaitan dengan Kesenian Jawa Timur, Reog Ponorogo. 

Dikutip dari inisumedang, Seni Reak/Bangbarongan merupakan tiruan dari sindiran yang dibuat oleh Ki Ageng Surya Alam kepada Raja Majapahit berupa barongan sehingga mengakibatkan perang.

Kabar ini terdengar ke seluruh Nusantara termasuk kerajaan Pajajaran pada Abad 15. Raja Pajajaran lalu membuat sindiran serupa yang dimainkan di istana untuk merendahkan Raja Majapahit.

Baca juga: Uniknya Kesenian Singo Barong di Desa Bumiayu, Kecamatan Weleri

Menurut versi lain, Eak-eakan (sahut-sahutan pemain kesenian yang meramaikan) merupakan cikal bakal dari kesenian yang bernama Reak tersebut. 

Kesenian ini sudah ada pada abad ke-12 untuk merayakan hajat penduduk Jawa Barat yang bercorak Islam. Pada saat itu Prabu Kiansantang (putra Prabu Siliwangi) ingin para penduduknya memeluk agama Islam. 

Dalam ajaran Islam, anak laki-laki dianjurkan untuk dikhitan. Untuk membuat anak yang akan khitan tidak takut, sesepuh Sumedang menciptakan suatu kesenian untuk menghibur.

Sehingga rasa takut anak yang akan disunat berkurang. Tak jarang kesenian ini muncul di hajatan penduduk Sumedang, Jawa Barat dan seringkali dikolaborasikan dengan Tarling. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Inisumedang.com, Warisanbudaya.kemdikbud.go.i

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Reak Dogdog, Warisan Budaya Tak Benda Jawa Barat yang Sudah Ada Sejak Zaman Majapahit

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!