Tradisi Mappalette bola di Suku Bugis. (Instagram/wahyusaputra064)
INDOZONE.ID - Pindah rumah bagi sebagian orang identik dengan kegiatan mengemasi barang-barang ke dalam dus, lalu mengangkutnya ke lokasi baru.
Namun, konsep ini tidak berlaku bagi masyarakat Suku Bugis di Sulawesi Selatan.
Bagi mereka, pindah rumah memiliki makna harfiah, yakni memindahkan seluruh bangunan rumah secara utuh. Tradisi unik ini dikenal dengan sebutan Mappalette Bola.
Baca juga: Keunikan Wajah Orang Nepal, Perpaduan Etnis dari India dan Tibet
Tradisi ini biasanya dilakukan ketika seseorang menjual tanahnya, tetapi ingin tetap memiliki rumahnya.
Bukan sembarang rumah, yang dipindahkan adalah rumah adat panggung khas Bugis yang umumnya terbuat dari kayu.
Prosesnya melibatkan kolaborasi puluhan hingga ratusan warga kampung, menjadikannya salah satu wujud nyata dari semangat gotong royong.
Baca juga: Menyingkap Kisah Pasola Sumba, Ritual Sakral yang Digelar untuk Kesuburan Tanah
Rumah adat Bugis memiliki ciri khas kerangka tiang dan balok yang dirangkai tanpa menggunakan paku, serta berbentuk persegi panjang yang memanjang ke belakang.
Tiang-tiang rumah ada yang ditancapkan ke dalam tanah, dan sebagian lainnya diletakkan di atas batu dengan keseimbangan.
Sebelum rumah dipindahkan, perabotan di dalamnya, seperti lemari dan barang pecah belah, harus dikeluarkan terlebih dahulu untuk menghindari kerusakan.
Baca juga: Tradisi Bahari Hidup di Parepare, Ratusan Warga Saksikan Pelepasan Perahu Sandeq
Selanjutnya, bilah-bilah bambu atau kayu yang kuat dipasang di bawah tiang-tiang rumah panggung sebagai alat bantu untuk mengangkat.
Ada dua metode pemindahan yang dilakukan yakni jika lokasi baru tidak jauh, rumah akan didorong setelah bagian bawahnya dipasangi roda atau ban.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Indonesia.go.id