Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 09 SEPTEMBER 2025 • 19:00 WIB

Menyingkap Kisah Pasola Sumba, Ritual Sakral yang Digelar untuk Kesuburan Tanah

Menyingkap Kisah Pasola Sumba, Ritual Sakral yang Digelar untuk Kesuburan TanahIlustrasi orang lokal menunggangi kuda untuk ritual Pasola. (sumber: RiberodosSantos/IStock)

INDOZONE.ID - Sumba, sebuah pulau yang memukau dengan keindahan alamnya, menyimpan warisan budaya yang mendebarkan dan penuh makna, yakni Pasola.

Dilansir dari Kebudayaan Kemdikbud, ritual Pasola bukan sekadar permainan ketangkasan, melainkan sebuah perayaan sakral yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

Digelar setiap tahun antara Februari hingga Maret, Pasola adalah manifestasi dari keyakinan Marapu, kepercayaan leluhur yang mengikat erat hubungan manusia, alam, dan para dewa.

Baca juga: Perekat Persaudaraan: Makna Tradisi Ngayah Sebagai Bentuk Gotong Royong Masyarakat Bali

Pasola: Harmoni, Darah, dan Kesuburan

Pada dasarnya, Pasola adalah ritual perayaan musim tanam padi, sebuah doa yang dipanjatkan kepada Marapu agar hasil panen melimpah. Namun, lebih dari itu, Pasola adalah permohonan ampunan sekaligus simbol kemakmuran. Puncaknya dirayakan enam hingga delapan hari setelah bulan purnama, bertepatan dengan kemunculan cacing nyale di pesisir selatan Sumba. Kehadiran nyale menjadi penanda alamiah bahwa musim Pasola telah tiba, membawa pesan dari alam tentang waktu yang tepat untuk memulai ritual.

Meski terdengar seperti permainan, Pasola melibatkan dua kelompok "prajurit" yang berasal dari suku berbeda. Dengan menunggangi kuda, mereka saling melemparkan lembing kayu.

Aturan mainnya bukan hanya soal ketangkasan, melainkan juga penuh simbolisme. Menurut kepercayaan Marapu, darah yang tumpah di arena Pasola akan menjadi pupuk bagi tanah.

Semakin banyak darah yang tertumpah, baik dari hewan maupun manusia yang terluka, diyakini akan semakin menyuburkan tanah dan menjanjikan panen yang lebih melimpah.

Bagi penganut Marapu, setiap tetes darah yang tumpah adalah pengorbanan suci. Ini adalah wujud keyakinan bahwa kekerasan yang terjadi selama Pasola merupakan cara untuk memperbarui harmoni dengan alam dan seluruh ciptaan.

Dengan demikian, ritual ini menjadi jembatan antara kekerasan dan perdamaian, antara pengorbanan dan kemakmuran, yang pada akhirnya membawa kebahagiaan serta kesejahteraan bagi masyarakat Sumba.

Baca juga: Tradisi Bahari Hidup di Parepare, Ratusan Warga Saksikan Pelepasan Perahu Sandeq

Kisah Asal-Usul yang Mengikat Dua Kampung

Di balik kemeriahan Pasola, tersimpan sebuah legenda yang diwariskan secara turun-temurun. Kisah ini bermula dari petualangan tiga bersaudara Ngongu Toumatutu, Yagi Waikareri, dan Ubu Dulla dari kampung adat Waiwuang.

Perjalanan mereka melahirkan tokoh sentral, Rabu Kaba, yang menjalin hubungan perkawinan antara Waiwuang (Wanokaka) dan Tossi (Kodi). Pernikahan ini menjadi cikal bakal ritual "Nyale dan Pasola" yang terus dilestarikan hingga kini, mempererat tali persaudaraan antara kedua kampung.

Pasola adalah cerminan jiwa masyarakat Sumba. Sebuah tradisi yang mengajarkan bahwa pengorbanan dan pertarungan, jika dilandasi niat suci, dapat membawa berkah dan kemakmuran. Ritual ini membuktikan bahwa di Sumba, budaya dan alam saling terhubung erat, menciptakan harmoni yang tak lekang oleh waktu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Kemdikbud.go.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Menyingkap Kisah Pasola Sumba, Ritual Sakral yang Digelar untuk Kesuburan Tanah

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!