Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 10 FEBRUARI 2026 • 15:40 WIB

Tradisi Berburu Sumbun Jambi: Ritual Laut Suku Duano yang Kini Jadi Festival Budaya Unik

Tradisi Berburu Sumbun Jambi: Ritual Laut Suku Duano yang Kini Jadi Festival Budaya UnikWarga memancing sumbun di Beting, Muara Kampung Laut, Kuala Jambi, Tanjungjabung Timur, Jambi. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)

INDOZONE.ID - Sebagai negara dengan kekayaan budaya luar biasa, setiap daerah di Indonesia punya tradisi khas yang lahir dari cara masyarakatnya berinteraksi dengan alam. Di wilayah pesisir timur Jambi, tepatnya di Kampung Laut, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, ada satu tradisi unik yang jarang diketahui orang luar, yaitu Tradisi Berburu Sumbun.

Tradisi ini bukan sekadar kegiatan mencari hasil laut. Ia adalah warisan budaya Suku Duano yang sarat nilai spiritual, aturan adat, dan kearifan lokal dalam menjaga ekosistem pesisir.

Kini, tradisi tersebut bertransformasi menjadi Festival Sumbun, sebuah agenda budaya yang mulai dilirik sebagai daya tarik wisata.

Apa Itu Sumbun?

Sumbun adalah sejenis kerang bambu yang hidup di kawasan berlumpur pesisir. Biota laut ini hanya muncul saat air laut surut dan tidak bisa ditemukan sepanjang tahun. Kemunculannya sangat bergantung pada musim serta kondisi cuaca.

Bagi masyarakat Suku Duano, sumbun bukan hanya sumber makanan, tetapi juga bagian dari identitas budaya pesisir. Karena sifatnya musiman dan alami, proses mencarinya dilakukan dengan cara tradisional tanpa merusak lingkungan.

Sejarah Tradisi Berburu Sumbun

Tradisi menyumbun berasal dari kebiasaan turun-temurun masyarakat Suku Duano yang hidup bergantung pada laut. Awalnya, kegiatan ini murni dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

Seiring waktu, tradisi tersebut berkembang menjadi kegiatan komunal. Warga turun ke beting (hamparan lumpur saat laut surut) secara bersama-sama. Momen ini berubah menjadi semacam pesta rakyat karena melibatkan banyak orang, penuh kebersamaan, serta diiringi ritual adat.

Baca juga: Ngumbahkeun Pusaka: Tradisi Lama yang Relevan Dengan Kondisi Gen Z Saat Ini

Melihat potensi budaya yang kuat, pemerintah daerah kemudian mengemas tradisi ini menjadi Festival Sumbun. Sejak 2017, nama Festival Kampung Laut resmi diganti menjadi Festival Sumbun agar lebih khas dan punya identitas budaya yang kuat.

Kapan dan Bagaimana Sumbun Muncul?

Sumbun tidak bisa ditemukan setiap hari. Ada kondisi alam tertentu yang harus terpenuhi:

Sumbun hanya muncul saat air laut surut, terutama antara bulan April hingga Juni. Kemunculannya juga dipengaruhi cuaca. Saat hujan atau mendung, sumbun cenderung tidak keluar dari lumpur. Masyarakat biasanya mencari sumbun saat cuaca panas karena biota ini lebih mudah dipancing keluar.

Cara menangkapnya pun unik. Lumpur hanya dilubangi kecil lalu disiram larutan kapur. Sumbun akan keluar dengan sendirinya. Metode ini menunjukkan bahwa tradisi ini selaras dengan prinsip pelestarian lingkungan.

Ritual Sebelum Berburu Sumbun

Salah satu hal yang membedakan tradisi ini dari sekadar aktivitas mencari kerang adalah adanya ritual adat. Sebelum warga turun ke beting, tetua adat akan melakukan ritual tepung tawar.

Tepung tawar merupakan simbol keselamatan dan penghormatan kepada alam. Campuran tepung beras, kunyit, dan bahan alami lain digunakan dalam prosesi doa bersama. Ritual ini bermakna permohonan keselamatan, sekaligus pengingat bahwa manusia harus menjaga laut, bukan merusaknya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jambiprov.go.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Tradisi Berburu Sumbun Jambi: Ritual Laut Suku Duano yang Kini Jadi Festival Budaya Unik

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!