Sabtu, 02 AGUSTUS 2025 • 11:20 WIB

Mengenal Tradisi Buka Songsong Winadi Jelang Perayaan Yaaqowiyyu di Jatinom

Author

Tradisi Buka Songsong Winadi 

INDOZONE.ID - Berdasarkan hitung-hitungan, pelaksanaan tradisi Yaaqowiyu atau sebar apem di Oro-oro Klampeyan, Klaten, Jawa Tengah, jatuh pada Jumat 8 Agustus 2025. 

Salah satu panitia Tradisi Budaya Saparan Jatinom 2025, KRT. Moh Daryanta Rekso Hastonodipuro mengatakan ada banyak kegiatan dalam rangkaian Yaaqowiyu.

Kegiatan akan diawali mapag bulan Sapar. Dalam tradisi Yaaqowiyu, akan dilaksanakan upacara "Buka Songsong Winadi" di Makam Ki Ageng Gribig. 

Baca juga: Melelahkan, Momen Afterwork Bisa Jadi Seru dan Bermakna bersama Orang Terdekat

Ritual tersebut diikuti oleh jajaran Forkopimcam Jatinom, jajaran kepanitiaan, anggota Pengurus Pelestari Peninggalan Kyai Ageng Gribig (P3KAG) tokoh masyarakat, tokoh agama, dan sebagainya.

Semua peserta harus memakai pakaian adat Jawa tanpa canelo atau tanpa alas kaki.

"Selama upacara berlangsung, peserta harus topo bisu dan hanya melafalkan dzikir tahlil di sepanjang perjalanan sampai di Makam Ki Ageng Gribig," kata Daryanta.

Kyai Ageng Gribig sendiri ialah tokoh kharismatik penyebar agama Islam di Jatinom dan sekitarnya.

Baca juga: Pergelaran Aniwayang Live “Desa Timun” Meriahkan Hari Anak Nasional di Museum Wayang Jakarta

Tradisi sebar apem konon bermula darinya. Sepulang naik haji pada Jumat Pahing, 17 Sapar 1541, ia membagikan oleh-oleh berupa apem kepada para santrinya, setelah salat Jumat. Namun ternyata kue apemnya kurang, karena tamunya banyak.

Lalu Nyai Ageng (Raden Ayu Mas Winongan) disuruh Ki Ageng Gribig membuat kue apem yang banyak dan dibagi-bagikan kepada yang hadir.

Tradisi yang mengandung makna suka bersedekah inilah yang terus dilestarikan sampai sekarang. Tahun ini apem yang akan sediakan seberat 7-8 ton.

Baca juga: Pameran Pasar Kita: Sejauh Mata Memandang x TULUS: Kawinkan Budaya Lokal dan Peduli Lingkungan

Daryanta melanjutkan, diiringi dzikir tahlil, songsong makam berupa payung kuno berdiameter kurang lebih 70 centimeter dikirab turun ke gua dan ke Sendang Suran. Terakhir, menuju ke tengah Oro-oro Klampeyan. 

Menurut Daryanta, ada beberapa orang yang akan diberi tugas membuat pagar ghoib dari dupa di Oro-oro Klampeyan tersebut.

"Agar tempatnya wangi, dupa itu kan wewangian. Dengan membuat tempat menjadi wangi, kami berdoa kepada Allah, semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya, sampai acara Yaaqowiyu selesai, dan hari-hari selanjutnya," lanjut Daryanta.

Bagi orang Jawa, melestarikan kebudayaan leluhur dalam rangkaian upacara itu sangat penting. Berdoapun, kata Daryanta, berwujud geguritan atau puisi tradisional. 

Baca juga: Warisan Bahari Nusantara: Mengungkap Kentalnya Tradisi Nelayan Bugis, Mandar, dan Bajo

Selesai berdoa, songsong dibawa kembali menuju ke makam Eyang Ki Ageng Gribig dan diakhiri di Andrawino atau makan bersama secara sederhana. 

"Ada buka songsong winadi atau mekrok payung, ada juga mingkuping songsong winadi pada penutupan bulan Sapar atau satu bulan berikutnya," pungkas Daryanta.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU