INDOZONE.ID - Setiap 17 Agustus, masyarakat Indonesia biasanya merayakan kemerdekaan dengan lomba karung, panjat pinang, tarik tambang, atau makan kerupuk. Tapi ada satu tradisi unik di Kota Medan, tepatnya di Kampung Aur, Kecamatan Medan Maimun: warga merayakan 17-an dengan nyebur massal ke sungai.
Tradisi ini sudah berlangsung puluhan tahun dan jadi agenda tahunan yang selalu ditunggu. Sungai yang biasanya dipakai untuk aktivitas harian, mendadak berubah jadi “panggung kemerdekaan” penuh tawa dan keriuhan.
Semua Ikut, dari Anak Kecil sampai Sesepuh
Tradisi nyebur ini nggak kenal batas usia. Mulai dari anak kecil yang baru belajar berenang, remaja yang adu gaya loncat, bapak-bapak warung kopi, ibu rumah tangga, sampai sesepuh kampung ikut nimbrung.
Perantau yang kebetulan pulang kampung saat 17-an juga sering ikutan. Sesekali, pejabat kelurahan hadir untuk menyaksikan. Mereka jarang benar-benar nyebur, tapi cukup berdiri di tepian sungai sambil senyum melihat warga bersuka ria.
Baca juga: Mengenal Pakaian Adat Tradisional Aceh, dari Linta Baro hingga Dara Baro yang Penuh Makna
Sungai Jadi Ruang Kebersamaan
Lokasi perayaan ini ada di Sungai Deli yang melintasi Kampung Aur, salah satu kawasan padat penduduk di Medan. Bagi warga, sungai bukan sekadar aliran air, tapi juga bagian dari identitas dan ruang sosial.
Meski sungainya sering menuai kritik karena masalah kebersihan, saat 17 Agustus sungai kembali punya arti: tempat yang menyatukan semua orang tanpa memandang usia maupun status sosial.
Filosofi di Balik Tradisi
Buat warga Kampung Aur, nyebur bareng ke sungai punya makna simbolis. Air dianggap sebagai lambang kehidupan. Dengan melompat bersama, warga seolah membuang penat, melepas rasa susah, dan menyambut semangat baru.
Tradisi ini juga penuh nostalgia. Banyak orang tua yang dulunya main di sungai saat kecil, kini bisa mengenang masa lalu sambil berbagi momen dengan anak cucu mereka.
Meriah dengan Cara Sederhana
Pelaksanaannya sederhana banget. Warga cukup kumpul di tepi sungai, bawa pelampung seadanya: jerigen kosong, ban bekas, atau modal nyali buat nyebur.
Kadang juga ada lomba tambahan, seperti tarik tambang di air atau adu ketangkasan berdiri di atas bambu licin. Musik dangdut atau lagu perjuangan diputar lewat speaker seadanya, bikin suasana tambah pecah meski tanpa hadiah besar.
Baca juga: Perekat Persaudaraan: Makna Tradisi Ngayah Sebagai Bentuk Gotong Royong Masyarakat Bali
Tantangan: Sungai Tercemar & Generasi Gadget
Meski meriah, tradisi ini menghadapi tantangan. Menurut penelitian Lubis & Hasibuan (2022), Sungai Deli masuk kategori tercemar sedang hingga berat akibat limbah domestik. Kondisi ini jelas bisa membahayakan kesehatan warga kalau dibiarkan.
Selain itu, ada ancaman dari gaya hidup generasi muda. Hasil survei Putra (2021) menunjukkan 67% remaja perkotaan lebih memilih aktivitas online ketimbang tradisi lokal saat 17-an. Kalau tren ini berlanjut, tradisi nyebur sungai bisa perlahan ditinggalkan.
Potensi Jadi Atraksi Wisata
Padahal, tradisi lokal semacam ini punya potensi besar untuk dikembangkan. Dalam kajian Siregar (2020), tradisi unik bisa jadi atraksi wisata berbasis budaya. Bukan cuma melestarikan identitas, tapi juga menambah nilai ekonomi bagi masyarakat.
Bayangin aja, 17 Agustus di Medan dikenal dengan perayaan nyebur massal ke sungai. Seru, beda dari daerah lain, dan bisa jadi daya tarik wisatawan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal