INDOZONE.ID - Cianjur ternyata memiliki dua aset bernilai tinggi yang saling terkait, yakni kopi Cianjur dan musik Cianjuran. Keduanya dapat dipadukan dalam satu narasi sejarah dan identitas lokal.
Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) menjajaki kolaborasi strategis dengan Yayasan Rawindra Kata Hara dalam pilot project "The Cianjur Experience" yang mengintegrasikan Musik Cianjuran, kopi Cianjur, dan narasi sejarah lokal.
Inisiatif ini bertujuan mengubah paradigma pemasaran daerah dari sekadar menjual produk menjadi menawarkan pengalaman budaya yang utuh, dengan Kementerian berperan sebagai penggerak sinergi lintas kementerian dan subsektor.
“Program ini memiliki potensi besar yang sejalan dengan KPI kami di Kemenekraf, terutama terkait kontribusi terhadap tenaga kerja, investasi, dan ekspor. Agar dampaknya bisa konkret dan luas, kami tidak bisa bekerja sendiri, banyak pihak yang perlu dilibatkan.”
“Kami siap menjadi orkestrator untuk menguatkan sinergi lintas kementerian dan lintas subsektor dalam mendukung program ini,” ujar Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsya dikutip ANTARA.
Baca juga: Viral, Seorang Ibu Terpaksa Jalan Kaki Usai Melahirkan karena Macet Akibat Demo di Cianjur
Luasnya Perkebunan Kopi
Sementara itu, Delegasi Yayasan Rawindra Kata Hara, Aming Sukandar, menjelaskan bahwa luas perkebunan kopi nasional saat ini mencapai hampir 1,3 juta hektare, meningkat signifikan dari sekitar 800 ribu hektare pada 2015.
Namun, potensi ekspor belum optimal karena penyerapan kopi di pasar domestik jauh lebih besar dibandingkan dengan ekspor, sehingga peran pemerintah diperlukan untuk memperkuat tata kelola dan roadmap industri kopi nasional.
“Produksi kopi kita tinggi, tetapi ekspornya tidak terlalu besar karena penyerapan di dalam negeri sangat besar. Padahal, di balik itu ada ratusan ribu tenaga kerja yang menggantungkan hidup di sektor kopi, dari PTPN hingga Perhutani. Harapan kami pemerintah bisa hadir secara nyata di dunia kopi, agar potensi besar ini bisa terkelola dan bernilai tambah bagi masyarakat,” ujar Aming.
Musik Cianjuran
Lebih lanjut, Pendiri Yayasan Rawindra Katahara, Gilang Ramadhan, menilai Cianjur merupakan contoh ideal untuk mengembangkan kolaborasi antara komoditas dan budaya daerah.
“Kami ingin mendorong musik tradisi ke permukaan dengan menggunakan kopi sebagai medium. Musik Cianjuran kami tempatkan sejajar dengan komoditas kopi Cianjur, agar keduanya menjadi satu identitas daerah yang kuat. The Cianjur Experience ini bukan hanya soal kopi atau musik, tapi tentang bagaimana Indonesia bisa percaya diri menjual sejarah, nilai, dan narasi budayanya ke dunia,” imbuh Gilang.
Pilot project ini diproyeksikan untuk menjangkau pasar lokal hingga global melalui aktivasi domestik dan dilanjutkan dengan aktivasi internasional. Ketua Harian Yayasan Aldino Putra menjelaskan rencana proyek ini sebagai percontohan yang akan direplikasi ke berbagai daerah.
"Proyek di Cianjur ini akan menjadi blueprintuntuk nantinya bisa direplikasi ke kota-kota lain seperti Jakarta, Palu, NTT, Bali untuk mengangkat keunggulan daerah masing-masing dan memberdayakan masyarakatnya. Lalu di fase kedua kami ingin bisa adakan aktivasi di 4 kota yaitu Vancouver, Los Angeles dan New York, dan Oslo," jelas Aldino.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara