INDOZONE.ID - Perubahan dalam hubungan bisa muncul karena banyak faktor, dan penyebabnya tidak selalu jelas.
Situasi tersebut bisa merusak kepercayaan, tetapi juga bisa menjadi momen refleksi: apakah saya sudah memperlakukan pasangan dengan benar? Fokus utamanya bukan mencari siapa yang salah, tetapi memahami pola perilaku pribadi dan sikap dalam hubungan.
Psikolog Tatyana Vasilkova menjelaskan kepada AiF tujuh alasan yang paling sering memicu perselingkuhan dalam hubungan.
1. Kelahiran Anak
Perubahan besar sering muncul setelah kelahiran anak. Bila seorang wanita sepenuhnya mengalihkan perhatian dan energinya hanya pada bayi, tanpa menyeimbangkannya, ia tidak sadar menggeser prioritas hubungan. Hierarki sehat dalam keluarga adalah: dirimu sendiri, kemudian pasangan, lalu anak.
Ketika seorang pria merasa ditempatkan di posisi terakhir — tidak diperhatikan, kurang disayang, atau tidak mendapat keintiman — kebutuhan emosionalnya menjadi kosong. Pada titik itu, pertemuan dengan wanita lain yang ramah, perhatian, dan membuatnya merasa dihargai dapat membuka pintu pada perselingkuhan.
Bukan berarti seorang ibu harus mengabaikan anaknya, tetapi penting untuk tidak larut total dalam satu peran. Delegasi, bantuan keluarga, atau waktu jeda beberapa jam bisa menjaga keseimbangan perhatian antara pasangan, diri sendiri, dan anak.
Baca juga: Sanggar Tari Lenggang Dara Borong Piala di Kejuaraan Tingkat Jawa Timur
2. Pekerjaan dan Kurangnya Waktu
Bagi perempuan, salah satu pemicu perselingkuhan adalah ketika suami terlalu fokus pada pekerjaan. Jika pria mencurahkan hampir seluruh waktu dan energinya pada bisnis atau karier, istri dapat merasa sendiri dan tidak diperhatikan.
Ketika wanita mulai bekerja, bertemu banyak orang baru, dan menemukan seseorang yang memberikan perhatian atau kekaguman, ia mungkin sulit menolak godaan. Ruang emosional yang kosong di rumah menjadi mudah terisi oleh sosok lain yang hadir secara konsisten.
3. Kebutuhan yang Tidak Terpenuhi
Perselingkuhan sering terjadi karena kebutuhan emosional atau fisik yang tidak dipenuhi dalam rumah tangga.
Untuk pria:
- Bila kebutuhan seksual tidak terpenuhi, ia mencari sosok “kucing liar” yang memberi daya tarik fisik.
- Bila ia merasa tidak dihargai atau tidak diperhatikan, ia mencari sosok “ibu”, yaitu seseorang yang memuji, mendukung, dan menghangatkan emosinya.
Pada perempuan, motifnya sama:
- kebutuhan seksual berkualitas
- kedekatan emosional
- kebutuhan didengarkan.
Baca juga: Ketika Seni, Alam, dan Desain Bertemu, Pesona Baru Gallery Signature di Kuta Bali
Ketika hal itu tidak tersedia di rumah, peluang untuk mencarinya di luar jadi terbuka. Faktanya, memiliki selingkuhan itu merepotkan, butuh biaya, waktu, dan risiko ketahuan.
Karena itu, hubungan yang sehat adalah ketika pasangan bisa memenuhi kebutuhan satu sama lain tanpa harus mencarinya di luar. Analoginya sederhana: jika suami sangat suka pai apel dan istrinya sering membuatkannya, ia tidak merasa perlu “membeli” dari tempat lain.
4. Pola Hubungan Keluarga yang Salah Sejak Kecil
Pengalaman masa kecil berpengaruh besar. Jika seseorang tumbuh melihat orang tuanya bertengkar namun tetap bertahan dan menyelesaikan konflik, ia cenderung meniru pola itu saat dewasa.
Namun bila sejak kecil ia tidak melihat contoh penyelesaian masalah, atau hanya melihat kabur, menyerah, atau kekerasan, maka ketika menghadapi konflik rumah tangga ia tidak punya panduan. Pilihan paling mudah bagi orang seperti ini adalah keluar dari hubungan atau berselingkuh sebagai pelarian.
Baca juga: Makna Hari Raya Galungan Bali 2025: Filosofi, Jadwal, dan Rangkaian Perayaannya
5. Ketika Wanita Tidak Mengambil Nama Belakang Suaminya
Ini poin menarik: Vasilkova mengatakan perselingkuhan lebih sering terjadi pada pasangan ketika perempuan tidak mengambil nama belakang suaminya. Dua kemungkinan penyebabnya:
- Secara tidak sadar ia memang tidak sepenuhnya ingin “masuk” ke dalam pernikahan.
- Ia ingin tetap menjadi “putri ayahnya”, mempertahankan identitas keluarga asal.
Pada tipe “anak ayah” yang kuat, kendali biasanya dipegang oleh perempuan. Ayahnya menjadi figur lelaki utama dalam hidupnya, sehingga suami sering merasa bersaing dengan mertua sendiri. Dalam situasi seperti itu, beberapa pria mencari pelarian emosional di luar hubungan.
Catatan: Poin ini lebih relevan di negara yang memiliki tradisi pergantian nama keluarga setelah menikah. Dalam budaya seperti Indonesia, faktor ini jarang menjadi pemicu.
Baca juga: Profil dan Sosok Ki Anom Suroto, Dalang Legendaris Penjaga Filosofi Jawa yang Wafat di Usia 77 Tahun
6. Keinginan Membuktikan Diri atau Menolak Usia Tua
Selama pria masih memiliki energi erotis dan keinginan untuk merasa muda serta kuat, ia ingin mendapatkan pembuktian bahwa ia “masih hebat”. Ketakutan terhadap penuaan, menurunnya daya tarik, atau berkurangnya vitalitas dapat mendorong pria mencari pengakuan dari perempuan lain.
Dalam banyak kasus, pria berselingkuh ketika sedang berada dalam fase krisis umur — merasa kehilangan daya tarik atau tidak siap menghadapi tanda-tanda penuaan.
7. Situasi dan Lingkungan Baru
Lingkungan yang benar-benar baru — studi keluar kota, perjalanan dinas, pelatihan, atau wisata kerja — dapat membuka peluang perselingkuhan.
Saat seseorang berada jauh dari rutinitas, bebas dari masalah rumah tangga, tidak dibebani anak maupun pekerjaan rumah, ia merasa lebih ringan dan “hidup kembali”. Perasaan bebas sesaat ini dapat memperlemah kontrol diri. Bertemu orang baru, suasana baru, dan emosi yang lebih segar dapat memicu ketertarikan yang berkembang menjadi perselingkuhan.
Baca juga: Kesehatan Mental: Kecil Terlihat, Besar Dampaknya bagi Hidup
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Aif.by