INDOZONE.ID - Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, salah satunya berasal dari tradisi sastra Jawa.
Di antara berbagai bentuk sastra tersebut, tembang macapat menempati posisi penting karena bukan sekadar karya seni, tetapi juga media pendidikan moral dan spiritual.
Oleh karena itu, memahami tembang macapat tidak hanya penting bagi siswa di sekolah, tetapi juga bagi siapa sarja yang ingin mengenal kearifan lokal Nusantara.
Berikut beberapa jenis tembang macapat, jenis, aturan, watak hingga contohnya.
Baca juga: Mengenal Tradisi Pingit untuk Calon Pengantin Jawa: Asal-Usul, Proses, dan Maknanya
Pengertian Tembang Macapat
Tembang macapat adalah bentuk puisi tradisional Jawa yang memiliki aturan baku dalam penyusunannya. Kata macapat berasal dari istilah Jawa yang berkaitan dengan pembagian bait dan irama lagu.
Tembang ini biasanya dinyanyikan dengan nada tertentu, dan digunakan dalam berbagai kegiatan, seperti pendidikan, upacara adat, hingga pertunjukan seni.
Berbeda dengan puisi modern yang bebas, tembang macapat terikat oleh aturan ketat yang disebut guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu.
Setiap jenis macapat memiliki karakter, fungsi, dan filosofi tersendiri yang umumnya menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak sebelum lahir hingga meninggal dunia.
Baca juga: Profil dan Sosok Ki Anom Suroto, Dalang Legendaris Penjaga Filosofi Jawa yang Wafat di Usia 77 Tahun
Fungsi dan Peran Tembang Macapat
Tembang macapat memiliki beberapa fungsi penting dalam kehidupan masyarakat Jawa, antara lain:
1. Sarana pendidikan - digunakan untuk menanamkan nilai moral, etika, dan ajaran agama.
2. Media hiburan - dilantunkan dalam bentuk tembang yang indah dan menenangkan.
3. Pelestarian budaya - menjadi sarana menjaga warisan sastra Jawa agar tidak punah.
4. Refleksi kehidupan - isi tembang macapat sering menggambarkan perjalanan hidup manusia secara simbolis.
Aturan dalam Tembang Macapat
Salah satu ciri utama tembang macapat adalah adanya aturan yang harus dipatuhi. Aturan ini bersifat baku dan tidak boleh diubah.
1. Guru Gatra
Guru gatra adalah jumlah baris dalam satu bait tembang macapat. Setiap jenis tembang memiliki jumlah baris yang berbeda-beda. Misalnya ada yang empat baris, lima baris, hingga sepuluh baris dalam satu bait.
2. Guru Wilangan
Guru wilangan adalah jumlah suku kata dalam setiap baris tembang. Aturan ini menentukan panjang pendeknya setiap baris sehingga membentuk irama tertentu.
3. Guru Lagu
Guru lagu adalah bunyi vokal pada akhir setiap baris tembang. Bunyi inilah yang menjadi ciri khas masing-masing jenis macapat dan menentukan keindahan tembang saat dilagukan.
Jenis-jenis Tembang Macapat, Watak, dan Contohnya
Secara umum, terdapat 11 jenis tembang macapat yang menggambarkan tahapan kehidupan manusia.
1. Tembang Maskumambang
Watak: Sedih, prihatin, penuh nasihat
Makna Filosofis: Melambangkan kondisi sebelum kelahiran, ketidakpastian, dan kesedihan awal kehidupan
Aturan Umum:
Guru gatra: 4 baris
Contoh Lirik:
Dhuh anak mas sira wajib angurmati,
marang yayah rena,
aja pisan kumawani,
anyenyamah gawe susah.
Makna:
Tembang Maskumambang berisi pesan agar seorang anak selalu menghormati orang tua. Melawan atau menyakiti hati orang tua dipercaya akan membawa kesengsaraan bagi kehidupan anak di masa depan.
2. Tembang Mijil
Watak: Lembut, penuh harapan
Makna Filosofis: Melambangkan kelahiran dan awal kehidupan manusia
Contoh Lirik:
Poma kaki padha dipuneling,
ing pitutur ingong,
kudu anteng jatmika ing budi.
Makna:
Tembang ini berisi nasihat agar manusia sejak awal kehidupan memiliki sikap tenang, sopan, dan berbudi pekerti luhur.
3. Tembang Sinom
Watak: Ceria, penuh semangat
Makna Filosofis: Masa muda dan pertumbuhan
Contoh Lirik:
Nuladha laku utama,
sudane hawa lan nepsu.
Makna:
Sinom mengajarkan kaum muda untuk meneladani perilaku baik dan mampu mengendalikan hawa nafsu agar tidak terjerumus pada hal negatif.
4. Tembang Kinanthi
Watak: Bijaksana, penuh tuntunan
Makna Filosofis: Proses belajar dan pencarian jati diri
Contoh Lirik:
Salami mung awas eling,
supadi nir ing sangsaya.
Makna:
Pesan utama tembang Kinanthi adalah pentingnya kehati-hatian, kesadaran, dan kewaspadaan dalam menjalani kehidupan.
5. Tembang Asmarandana
Watak: Romantis, melankolis
Makna Filosofis: Perasaan cinta dan asmara
Contoh Lirik:
Dudu bandha dudu rupa,
amung ati pawitané.
Makna:
Cinta sejati tidak diukur dari harta atau penampilan fisik, melainkan ketulusan hati dan kesetiaan.
6. Tembang Gambuh
Watak: Tegas, penuh petuah
Makna Filosofis: Pedoman hidup dan pergaulan
Contoh Lirik:
Aja nganti kabanjur,
barang polah ingkang nora jujur.
Makna:
Tembang Gambuh mengingatkan manusia agar tidak bersikap sombong dan tidak jujur karena pada akhirnya akan merugikan diri sendiri.
7. Tembang Dandanggula
Watak: Luwes, menyenangkan
Makna Filosofis: Keharmonisan dan kebahagiaan hidup
Contoh Lirik:
Nanging yen sira ngguguru kaki,
amiliha manungsa kang nyata.
Makna:
Anjuran untuk memilih guru atau panutan yang memiliki martabat, ilmu, dan akhlak baik.
8. Tembang Durma
Watak: Keras, bersemangat
Makna Filosofis: Nafsu dan pengendalian diri
Contoh Lirik:
Cecegah dhahar guling,
napsu kang ngambra-ambra.
Makna:
Durma menekankan pentingnya menahan hawa nafsu dan hidup sederhana agar tercapai ketenangan batin.
9. Tembang Pangkur
Watak: Teguh, berwibawa
Makna Filosofis: Masa kedewasaan dan menjauhi keduniawian
Contoh Lirik:
Mingkar-mingkuring ukara,
mrih kretarta pakartining ilmu.
Makna:
Ilmu sebaiknya tidak digunakan untuk menyombongkan diri, melainkan untuk memperbaiki budi pekerti.
10. Tembang Megatruh
Watak: Sendu, khusyuk
Makna Filosofis: Perpisahan antara raga dan jiwa
Contoh Lirik:
Sigra milir sang gèthèk,
sang gèthèk lampahnya alon.
Makna:
Megatruh melambangkan kematian dan keikhlasan manusia dalam menerima takdir Tuhan.
11. Tembang Pucung
Watak: Ringan, jenaka, tetapi sarat makna
Makna Filosofis: Penutup kehidupan dan pesan moral terakhir
Contoh Lirik:
Ngelmu iku kalakone kanthi laku, setya budya pangekese dur angkara.
Makna:
Ilmu hanya bisa diperoleh melalui proses, kesungguhan, dan hati yang bersih untuk menaklukkan sifat angkara murka.
Pentingnya Mempelajari Tembang Macapat bagi Pelajar
Bagi pelajar, tembang macapat bukan hanya materi pelajaran bahasa daerah, tetapi juga sarana pembentukan karakter.
Melalui macapat, siswa dapat belajar:
- Menghargai orang tua dan guru
- Mengendalikan emosi dan hawa nafsu
- Bersikap rendah hati dan bijaksana
- Memahami makna kehidupan secara mendalam
Nilai-nilai tersebut sangat relevan dengan pendidikan karakter yang ditekankan saat ini.
Tembang macapat merupakan warisan sastra Jawa yang kaya akan nilai pendidikan, moral, dan spiritual. Dengan aturan guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu yang khas, setiap jenis macapat memiliki watak dan makna tersendiri yang menggambarkan perjalanan hidup manusia dari awal hingga akhir.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan Penulis