INDOZONE.ID - Bulan Ramadan bukan hanya soal puasa dan buka bersama seperti yang biasa kita lakukan di Indonesia. Di belahan dunia lain, umat Muslim juga memiliki cara unik untuk menyambut dan merayakan Ramadan. Tradisi-tradisi ini tidak hanya membuat Ramadan lebih berwarna, tetapi juga menunjukkan bagaimana budaya lokal menyatu dengan ibadah Islam yang sakral.
Kalau kamu penasaran bagaimana orang di luar negeri merayakan Ramadan, mulai dari ritual pra-puasa, perayaan tengah bulan, hingga cara buka puasa yang berbeda. Artikel ini akan mengajakmu keliling dunia dan mengenalkan tradisi unik yang mungkin belum pernah kamu dengar sebelumnya.
Ramadan di Mesir: Fanous dan Meja Berkah untuk Semua
Saat Ramadan tiba di Mesir, suasana kota dan desa langsung berubah menjadi penuh warna. Salah satu tradisi favorit yang sudah turun-temurun adalah Fanous Ramadan, yaitu lentera warna-warni yang digantung di rumah, jalan, hingga toko-toko. Fanous ini bukan sekadar dekorasi, tetapi simbol kebersamaan dan kegembiraan sepanjang bulan suci.
Selain itu, beberapa komunitas di Mesir memiliki tradisi Ma’idat ar-Rahman, di mana meja-meja besar penuh makanan disiapkan setiap hari Ramadan untuk siapa pun yang ingin berbuka. Tujuannya jelas: berbagi dengan orang yang membutuhkan dan memperkuat rasa solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Baca juga: 3 Fakta Munggahan, Tradisi Menyambut Bulan Ramadan di Tanah Sunda
Qaranqasho di Oman: Festival Tengah Ramadan untuk Anak-anak
Di Oman, ada tradisi unik yang mirip trick-or-treat versi Ramadan, disebut Qaranqasho. Setiap pertengahan Ramadan, anak-anak mengenakan baju tradisional, berjalan dari rumah ke rumah sambil bernyanyi dan mengumpulkan permen, kacang, atau uang kecil dari tetangga. Tradisi ini bertujuan memberi apresiasi pada anak-anak yang berhasil berpuasa setengah bulan pertama, sekaligus memotivasi mereka untuk tetap semangat melewati sisa Ramadan.
Permainan tradisional ini membuat suasana Ramadan lebih hangat dan penuh tawa, sekaligus mengajarkan anak-anak tentang berbagi sejak dini.
Maahefun di Maldives: Perayaan Sebelum Ramadan
Di Maldives, tradisi Maahefun dilakukan sebelum Ramadan dimulai. Keluarga dan teman-teman berkumpul untuk menikmati pesta makanan besar bersama. Tradisi ini bukan hanya soal makan, tetapi juga momen saling memaafkan, mempererat hubungan sosial, dan mempersiapkan diri secara batin dan fisik sebelum puasa.
Walaupun suasananya mirip pesta, maknanya tetap kental dengan nilai spiritual Ramadan, seperti refleksi diri, rasa syukur, dan kebersamaan. Ini menunjukkan bagaimana masyarakat Muslim menggabungkan budaya lokal dengan nilai-nilai Islam.
Gargee’an di Teluk Arab: Perayaan Tengah Ramadan
Di negara-negara Teluk seperti Kuwait, Qatar, Bahrain, dan Irak, ada tradisi Gargee’an. Anak-anak dan keluarga berkumpul, bernyanyi, berpakaian warna-warni, dan berjalan dari rumah ke rumah mengumpulkan permen dan kacang pada pertengahan Ramadan.
Gargee’an memberikan suasana sosial yang hangat, mirip dengan Qaranqasho di Oman, tetapi memiliki ciri khas musik, lagu, dan cara perayaan sendiri.
Mesaharaty dan Iftar Cannon: Tradisi Klasik Arab
Di beberapa negara Arab, sahur memiliki cara tradisional. Sebelum ada alarm, masyarakat dibangunkan oleh Mesaharaty, pemusik tradisional yang berkeliling sambil memainkan alat musik dan mengumandangkan salam sahur. Tradisi ini simbol kebersamaan komunitas yang bangun sahur dan berdoa bersama.
Selain itu, tradisi Iftar Cannon populer di banyak negara. Menjelang waktu berbuka, sebuah meriam ditembakkan sebagai tanda Maghrib. Awalnya praktis, kini lebih simbolik dan menambah suasana Ramadan khas Timur Tengah.
Tradisi Lain dari Afrika dan Asia
Di beberapa komunitas Muslim di Afrika Utara dan Timur Tengah, setelah berbuka sering digelar permainan tradisional atau kegiatan sosial bersama. Di Asia Timur, komunitas Muslim seperti Hui di Tiongkok memiliki makanan khas dan festival lokal selama Ramadan.
Baca juga: Sambut Bulan Suci Ramadan, Warga Sukadanau Bekasi Gelar Tradisi Pawai Obor
Perbedaan dengan Tradisi Ramadan di Indonesia
Di Indonesia, Ramadan memiliki ciri khas seperti ngabuburit, bukber, dan bazar takjil. Di Mesir atau negara Arab, suasananya terasa lewat lampu fanous atau suara meriam buka puasa. Di Oman dan negara Teluk, ada tradisi seru seperti Qaranqasho dan Gargee’an, sementara di Maldives ada Maahefun sebelum Ramadan.
Dengan begitu, Ramadan bukan hanya ibadah individu, tetapi juga sarana menanam nilai solidaritas, kegembiraan, dan kebersamaan melalui tradisi lokal.
Tradisi Ramadan di berbagai negara menunjukkan bahwa Islam dan budaya lokal dapat menyatu dalam bentuk yang unik, kreatif, dan penuh makna. Dari Fanous Ramadan di Mesir, Qaranqasho di Oman, hingga Maahefun di Maldives, semua menunjukkan bagaimana Ramadan memperkuat komunitas, mendalamkan nilai spiritual, dan merayakan kehangatan kebersamaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Gulfnews.com