Tradisi Dugderan di Semarang. (Z Creators/Arshanda Riza)
Bulan Ramadan merupakan bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat muslim di dunia, tak terkecuali di Indonesia.
Di bulan suci ini umat islam berbondong-bondong beribadah untuk mendapatkan pahala sebesar-besarnya. Mulai dari mengerjakan ibadah wajib hingga ibadah sunnah.
Baca juga: Melihat Tradisi Padusan di Boyolali saat Ramadan, Anak-Anak Main Air Ditemani Superhero
Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi yang berbeda-beda dalam menyambut bulan suci Ramadan, begitu pula di Kota Semarang.
Kota Semarang memiliki tradisi khusus dalam menyambut bulan puasa, salah satu tradisinya adalah Dugderan. Dugderan merupakan festival khusus yang diadakan untuk menandai bahwa ibadah puasa telah dimulai.
Tahun ini, perayaan dibuka oleh Wali Kota Semarang dan turut dimeriahkan oleh petasan dan kembang api serta para warga Semarang.
Kata ‘Dug’ dalam kata dugderan berasal dari bunyi bedug yang dibunyikan saat salat magrib yang akan dilaksanakan dan kata ‘Der’ dari bunyi meriam atau petasan yang dinyalakan.
Baca juga: Festival Tambun Bungai di Kalteng Dekatkan Masyarakat dengan Tradisi Dan Budaya
Prosesi tradisi dugderan ini terbagi menjadi tiga agenda, yaitu pasar malam atau festival dugderan, pengumuman puasa dimulai dan juga kirab budaya Warak Ngendok atau arak- arakan hewan mitologi yang merupakan perpaduan kambing pada bagian kaki, naga pada bagian kepala, dan buroq pada bagian badannya.
Warak Ngendok ini diartikan sebagai siapa saja yang menjaga kesucian di Bulan Ramadan maka kelak akan mendapatkan pahala pada hari lebaran.
Artikel Menarik Lainnya:
Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone. Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini .
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: