INDOZONE.ID - Bagi kalian yang pernah berkunjung ke Makassar, Kendari, Palu dan daerah lainnya di Sulawesi kemudian merasa bingung saat orang sering berbicara menggunakan kata “Kita”.
Kita yang dimaksud bukan berarti kamu dan dia melainkan kamu atau dirimu sendiri.
Di Sulawesi, kata "Kita" mengalami pergeseran fungsi dan makna yang bisa dikatakan cukup unik dan sering membuat bingung orang di luar daerah.
Jika dalam Bahasa Indonesia standar "kita" adalah kata ganti orang pertama jamak, di Sulawesi kata ini bertransformasi menjadi kata ganti orang kedua tunggal yang penuh rasa hormat.
Baca juga: Contoh Ucapan Minta Maaf saat Lebaran dalam Bahasa Jawa: Ngoko, Krama, hingga Krama Inggil
Fenomena ini bukan sekadar salah ucap, melainkan sebuah bentuk yang bisa dikatakan merupakan bentuk kecerdasan linguistik lokal.
Pengaruh Bahasa Daerah
Fenomena ini berakar kuat pada struktur bahasa ibu di Sulawesi, terutama Bahasa Makassar, Bugis, dan Melayu Manado.
1. Konsep "Ikatte" dan "Idi’"
Dalam Bahasa Makassar, terdapat kata "Ikatte", dan dalam Bahasa Bugis terdapat kata "Idi’". Secara harfiah, kedua kata ini berarti "kita" (inklusif).
Namun, dalam tata krama masyarakat Sulawesi Selatan, kata-kata ini digunakan untuk menyapa lawan bicara yang dihormati atau lebih tua.
Ketika masyarakat setempat berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia, mereka melakukan penerjemahan rasa.
Kata "Kamu" dirasa terlalu tajam atau kasar, sehingga kata "Kita" dipilih sebagai padanan yang paling pas untuk menunjukkan kesantunan.
2. Stratifikasi Bahasa
Dalam salah satu jurnal berjudul "Bentuk-bentuk Interfensi Gramatikal Bahasa Bugis ke Dalam Bahasa Indonesia", penggunaan kata ganti ini merupakan bentuk Honorifics (sapaan hormat).
Di Sulawesi, penggunaan kata "Kau" atau "Ko" biasanya hanya ditujukan kepada teman sebaya yang sangat akrab atau kepada orang yang lebih muda.
Menggunakan "Kau" atau “Kamu” kepada atasan atau orang tua dianggap sebagai pelanggaran etika serius atau tada'bere (tidak sopan).
Perspektif Sosiolinguistik
Secara sosiolinguistik, fenomena ini dapat ditarik penjelasannya dengan Teori Kesantunan (Politeness Theory) yang dikemukakan oleh Brown dan Levinson.
Penggunaan "Kita" berfungsi untuk menjaga face (muka/harga diri) lawan bicara.
Meskipun digunakan untuk menyapa satu orang, penggunaan kata jamak memberikan kesan "merangkul" dan mengurangi kekakuan formalitas tanpa kehilangan rasa hormat.
Penggunaan ini juga berfungsi sebagai penanda identitas. Seseorang yang menggunakan "Kita" sebagai pengganti "Kamu" secara otomatis mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari entitas budaya Sulawesi yang menjunjung tinggi tata krama.
Jadi semoga kalian gak bingung lagi ya!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal, Reportase