Jumat, 08 MEI 2026 • 16:35 WIB

Ronggeng Gunung Pangandaran, Warisan Budaya Penuh Sejarah dan Filosofi

Author

Ilustrasi ronggeng Gunung Pangandaran. (Ilustrasi Copilot )

INDOZONE.ID - Ronggeng Gunung Pangandaran bukan sekadar tarian rakyat, melainkan simbol kehidupan masyarakat Pangandaran yang menyatu dengan alam dan adat. 

Kesenian ini lahir dari tradisi agraris, menjadi sarana syukur, hiburan, sekaligus perekat sosial yang menjaga harmoni antarwarga.  

Asal Usul dan Filosofi

Ronggeng Gunung berasal dari daerah Pangandaran, Jawa Barat, dengan akar budaya kuat pada masyarakat pedesaan di kaki gunung. 

Nama “Ronggeng Gunung” mencerminkan hubungan erat antara tarian ini dengan alam pegunungan. 

Baca juga: 10 Nama Tarian Daerah dan Asalnya, Kamu Wajib Tahu!

Filosofinya adalah ungkapan rasa syukur atas panen, doa untuk kesejahteraan, serta simbol kebersamaan warga desa. 

Dalam setiap gerakan, tersimpan pesan bahwa hidup manusia tak bisa dipisahkan dari alam dan solidaritas sosial.  

Ciri Khas Gerakan dan Musik

Tarian ini dikenal dengan gerakan lincah, ritmis, dan penuh interaksi dengan penonton. Penari sering melibatkan penonton dalam suasana akrab, bahkan diselingi humor yang membuat pertunjukan meriah. 

Musik pengiring terdiri dari kendang, gong, kecrek, serta vokal sinden yang khas. Perpaduan alat musik tradisional ini menciptakan irama dinamis yang menghidupkan suasana pesta rakyat.  

Baca juga: Mengenal Dorodango, Bola Lumpur Mengilap Bernilai Seni Tinggi

Sejarah dan Kisah Legendaris

Sejarah Ronggeng Gunung tak lepas dari kisah Kerajaan Pananjung. Menurut cerita rakyat, Dewi Samboja, istri Raden Anggalarang, menyamar sebagai penari ronggeng untuk membalas dendam atas serangan perompak. 

Dari kisah ini, Ronggeng Gunung berkembang menjadi tarian penuh makna magis dan historis. Legenda tersebut menambah aura mistis sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Pangandaran.  

Dahulu, Ronggeng Gunung menjadi ajang berkumpul warga desa, sarana silaturahmi, hingga media komunikasi sosial. Pertunjukan biasanya digelar pada pesta panen atau hajatan besar, sehingga menjadi ruang interaksi yang mempererat ikatan sosial. 

Baca juga: 7 Cara Menyelamatkan Hubungan yang Hampir Kandas

Kini, kesenian ini tampil di festival budaya, acara pariwisata, dan pagelaran seni tingkat kabupaten. Pemerintah daerah bersama komunitas budaya aktif melestarikan tradisi ini melalui pelatihan generasi muda, dokumentasi seni, hingga promosi wisata budaya.  

Warisan yang Harus Dijaga

Ronggeng Gunung Pangandaran adalah warisan budaya yang memadukan sejarah, filosofi, dan hiburan rakyat. Keberadaannya menegaskan identitas masyarakat Sunda di pesisir selatan Jawa Barat, sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya yang patut dijaga. 

Di tengah arus modernisasi, Ronggeng Gunung tetap relevan sebagai simbol kebersamaan dan kearifan lokal. Melestarikan tarian ini berarti menjaga jati diri sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada dunia. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pamotan-pangandaran.desa.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU