INDOZONE.ID - Penglihatan buram sering dianggap sebagai bagian normal dari penuaan. Padahal, pada banyak kasus, kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal Katarak yang berkembang lebih cepat. Menariknya, masyarakat Indonesia disebut memiliki risiko mengalami katarak lebih dini dibandingkan orang Kaukasia yang tinggal di negara non-tropis.
Paparan sinar ultraviolet yang tinggi sepanjang tahun menjadi salah satu penyebab utamanya. Karena tinggal di wilayah khatulistiwa, masyarakat Indonesia terpapar sinar matahari dengan intensitas lebih tinggi sehingga risiko kerusakan lensa mata juga meningkat lebih cepat.
Melansir Executive Optical, katarak adalah area keruh yang terbentuk pada lensa mata, yaitu struktur bening dan fleksibel yang tersusun dari protein kristalin. Seiring bertambahnya usia, protein tersebut akan terurai dan membentuk bercak keruh sehingga penglihatan terasa seperti melihat melalui jendela yang kotor.
Dokter Spesialis Mata sekaligus Kepala Divisi Riset dan Pendidikan dr. Nina Asrini Noor dari Jakarta Eye Centermengatakan katarak pada masyarakat Indonesia tidak jarang mulai muncul pada usia 50 tahun, bahkan sebelum itu. Menurutnya, kondisi tersebut juga dapat dipicu faktor lain seperti diabetes, riwayat benturan pada mata, hingga minus tinggi yang tidak terkontrol.
Masalah terbesar bukan hanya tingginya angka katarak, tetapi juga kebiasaan pasien yang menunda operasi karena takut. Tidak sedikit pasien baru datang setelah penglihatannya sangat terganggu selama bertahun-tahun hingga aktivitas sehari-hari menjadi tidak nyaman dan harus bergantung pada bantuan orang lain.
Padahal, saat ini usia 50 hingga 60 tahun bukan lagi usia tidak produktif. Banyak orang masih aktif bekerja, menyetir, membaca, berolahraga, bahkan bepergian sendiri. Karena itu, gangguan penglihatan sekecil apa pun sebaiknya tidak diabaikan.
dr. Nina menjelaskan bahwa pasien sering datang dalam kondisi katarak yang sudah terlalu berat karena menunda pemeriksaan hingga bertahun-tahun. Akibatnya, proses operasi menjadi lebih sulit dan pemulihan penglihatan tidak seoptimal jika ditangani lebih awal.
Ia menekankan bahwa ketika gejala katarak mulai mengganggu aktivitas seperti membaca, berkendara, atau berjalan sendiri, maka pemeriksaan mata sebaiknya segera dilakukan agar kualitas hidup tetap terjaga.
Baca juga: Katarak Bisa Picu Kebutaan, Pahami Cara Deteksi Dini Sejak Usia Muda
Masih banyak masyarakat percaya bahwa katarak bisa hilang dengan obat tetes atau terapi tertentu. Padahal, secara medis, penanganan utama katarak tetap melalui operasi.
Dalam prosedur modern yang disebut phacoemulsification, dokter akan membuat luka kecil pada mata untuk mengambil lensa yang keruh. Katarak kemudian disedot hingga bersih dan diganti dengan lensa tanam baru. Operasi dilakukan dengan bius lokal sehingga pasien tetap nyaman selama tindakan berlangsung.
Kini, teknologi operasi katarak juga semakin berkembang melalui metode FLACS atau Femtosecond Laser Assisted Cataract Surgery. Pada prosedur ini, sayatan dan pembukaan kapsul lensa dilakukan menggunakan laser sehingga hasilnya lebih presisi dan pemulihan cenderung lebih cepat.
Teknologi ini sudah digunakan di sejumlah pusat layanan kesehatan mata modern, termasuk Jakarta Eye Center sebagai salah satu pionirnya di Indonesia. Operasi katarak saat ini bukan hanya bertujuan menghilangkan penglihatan buram. Lensa tanam yang digunakan juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasien.
Jika pasien memiliki minus atau silinder, maka kondisi tersebut juga dapat dikoreksi saat operasi dilakukan. Karena itu, pasien kini memiliki lebih banyak pilihan lensa sesuai kebutuhan aktivitas sehari-hari.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Executiveoptical.com