Aurikuloterapi. (Wikimedia Commons/Cpl. Paul Peterson)
INDOZONE.ID - Migrain kronis bukan sekadar sakit kepala biasa. Penderitanya dapat mengalami nyeri hingga 15 hari atau lebih setiap bulan, sering disertai mual serta sensitivitas terhadap cahaya dan suara.
Meski obat-obatan dapat membantu, tidak semua penderita merasakan hasil yang diharapkan. Karena itu, para peneliti terus mencari terapi lain yang bisa mendampingi pengobatan utama untuk membantu meredakan gejalanya.
Salah satu yang kini sedang diteliti adalah aurikuloterapi atau akupunktur telinga. Dalam uji klinis yang dipresentasikan pada Forum Federation of European Neuroscience Societies (FENS) 2026, metode ini menunjukkan hasil yang menjanjikan.
Penelitian yang dipimpin Fernanda Belle dari Universidade do Sul de Santa Catarina (UNISUL), Brasil melibatkan 68 perempuan dengan migrain kronis.
Baca juga: Perbandingan Psikiater BPJS dan Umum: Biaya, Layanan, dan Waktu Tunggu
Peserta dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menjalani aurikuloterapi, sedangkan kelompok kedua menerima prosedur serupa, tetapi pada titik telinga yang tidak berkaitan dengan migrain.
Selama delapan minggu, seluruh peserta menjalani delapan sesi terapi. Peneliti juga memantau aktivitas otak selama penelitian untuk melihat apakah terapi tersebut berkaitan dengan perubahan fungsi otak.
Setelah terapi selesai, kedua kelompok sama-sama mengalami penurunan tingkat nyeri dan berkurangnya dampak migrain terhadap aktivitas sehari-hari.
Kelompok yang menerima aurikuloterapi memang menunjukkan penurunan nyeri yang sedikit lebih konsisten hingga satu bulan setelah terapi.
Baca juga: Dilema Kafein: Pahami Dampak Baik dan Buruk Konsumsi Kopi Harian bagi Tubuh Kamu
Namun, karena kelompok pembanding juga mengalami perbaikan, peneliti belum dapat memastikan bahwa manfaat tersebut benar-benar berasal dari aurikuloterapi.
Meski demikian, hasil ini dinilai cukup menjanjikan dan menunjukkan bahwa aurikuloterapi berpotensi menjadi terapi pendamping bagi penderita migrain kronis. Untuk memastikannya, masih diperlukan penelitian dengan jumlah peserta yang lebih besar.
Para peneliti menduga bagian luar telinga memiliki hubungan dengan sejumlah saraf yang berperan dalam mengatur rasa nyeri, peradangan, dan berbagai fungsi tubuh.
Stimulasi pada titik-titik tertentu diduga dapat memengaruhi sistem tersebut, meski mekanisme pastinya masih belum diketahui.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Earth.com