INDOZONE.ID - Kondisi banjir membuat anak-anak makin senang berenang di jalanan. Tapi stop berenang di banjir karena jadi sumber penyakit.
Akibat hujan terus-menerus, wilayah Jabodetabek dikepung banjir sejak 2 hari lalu, Minggu-Senin, 6-7 Juli 2025. Jalanan utama banjir dan pemukiman warga pun jadi pusat banjir dan anak-anak malah main atau berenang di air banjir.
Orang tua harus melarang anaknya jika mereka terus-menerus main banjir. Salah satu yang harus diwaspadai yaitu leptospirosis atau penyakit kencing tikus.
Baca juga: Banjir Rendam RSUD Bekasi: Pasien Dievakuasi, Layanan MRI hingga CT Scan Terdampak
Dikutip dari laman Instagram Kemenkes, kencing tikus bisa sangat berbahaya apalagi kalau bawa leptospira dan menyebar di genangan air. Kalau masuk ke tubuh, seseorang bisa mengalami leptospirosis.
“Selama Januari - 6 Juni 2025, sudah ada 101 orang meninggal dari 787 kasus leptospirosis di Indonesia. Artinya 1 dari 8 pasien bisa kehilangan nyawa karena kencing tikus,” bunyi pernyataan di Feed Instagram Kemenkes.
Baca juga: 5 Cara Cepat Membersihkan Rumah Setelah Terendam Banjir
Penyebab Leptospirosis
Perubahan iklim bikin hujan makin deras dan banjir makin sering. Bakteri leptospira dari kencing tikus makin mudah menyebar.
DKI Jakarta masuk salah satu kota dengan kasus leptospirosis tertinggi dari 14 provinsi lain. Kasusnya jarang di-up maka jadi gunung es saja, jadi banyak yang kena tapi gak dilaporin.
“Leptospirosis sering terlambat dikenali karena mirip dengan penyakit lain. Jangan cuma nebak-nebak kalau habis aktivitas di air kotor, lalu demam, nyeri otot atau mata kuning,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram @kemenkes_ri