Ilustrasi pegal dan nyeri sendi di ruangan ac. (Magnific)
INDOZONE.ID - Banyak orang mengeluhkan tubuh pegal, leher kaku, nyeri punggung, atau rasa tidak nyaman pada sendi, setelah berjam-jam berada di ruangan berpendingin udara (AC). Namun, dokter ortopedi menegaskan bahwa keluhan tersebut umumnya bukan disebabkan langsung oleh penggunaan AC.
Ketua dan ahli bedah ortopedi di Welcare Hospital, Dr. Bharat S. Mody, mengatakan pendingin ruangan tidak menyebabkan radang sendi maupun kerusakan tulang secara langsung.
Menurutnya, masalah justru lebih sering dipicu oleh kebiasaan duduk terlalu lama dan kurang bergerak saat berada di dalam ruangan.
"AC tidak secara langsung menyebabkan arthritis atau degenerasi tulang. Namun, kebiasaan kurang gerak di dalam ruangan yang sering menyertai penggunaan AC berlebihan dapat memperburuk kekakuan dan ketidaknyamanan otot," kata Mody.
Menurut Mody, banyak orang menghabiskan waktu delapan hingga 10 jam di ruangan ber-AC dengan posisi duduk yang kurang baik. Kondisi ini dapat memicu kekakuan otot, ketegangan tubuh, hingga keluhan pada persendian.
Suhu dingin juga dapat membuat otot menegang sementara, mengurangi fleksibilitas tubuh, dan memperlambat sirkulasi darah. Efek tersebut biasanya lebih terasa pada orang yang sebelumnya telah memiliki masalah sendi atau nyeri kronis.
Beberapa kelompok diketahui lebih rentan mengalami keluhan otot dan sendi saat berada di ruangan dengan pendingin udara.
Keluhan lebih sering dirasakan oleh penderita osteoartritis, spondilosis servikal, frozen shoulder, nyeri punggung bawah, serta mereka yang memiliki riwayat cedera.
Baca juga: Sering Pegal Setelah Seharian di Ruang AC? Ternyata Ini Penyebabnya
Lansia juga lebih sering mengeluhkan nyeri sendi ketika berada di ruangan ber-AC. Hal ini dipengaruhi oleh berkurangnya massa otot, sirkulasi darah yang tidak sebaik saat muda, serta adanya kondisi degeneratif pada persendian.
Mody menegaskan tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa penggunaan AC dapat menyebabkan osteoporosis atau melemahkan tulang secara langsung.
Menurut dia, risiko yang lebih perlu diperhatikan adalah pola hidup yang sering menyertai aktivitas di dalam ruangan, seperti kurang bergerak, minim paparan sinar matahari, dan kurang minum air.
"Kekurangan vitamin D masih banyak ditemukan pada masyarakat perkotaan yang menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam ruangan dan jarang terpapar sinar matahari," katanya.
Vitamin D memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan tulang karena membantu penyerapan kalsium. Kekurangan vitamin D dapat menyebabkan kelemahan otot, mudah lelah, nyeri tulang, hingga meningkatkan risiko patah tulang pada kondisi yang lebih berat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA