Minggu, 01 FEBRUARI 2026 • 15:15 WIB

Kenapa Banyak Orang Sensitif Gluten Sekarang? Dokter Ungkap Fakta Mengejutkan

Author

Ilustrasi makanan yang mengandung gluten (Pexels/Madison Inouye)

INDOZONE.ID - Bagi banyak orang, menghindari gluten kerap dianggap sebagai tren kesehatan modern. 

Tidak sedikit pula, orang tua atau kakek-nenek yang mempertanyakan hal ini. Sebab, mereka merasa telah mengonsumsi gandum sepanjang hidup tanpa masalah berarti.

Namun, kenyataannya saat ini gluten semakin sering dikaitkan dengan perut kembung, peradangan usus, kelelahan, hingga berbagai bentuk intoleransi makanan.

Lalu, Apa yang Sebenarnya Berubah?

Menurut para ahli yang dikutip dari Hindustan Times, masalahnya bukan semata-mata pada tubuh manusia, melainkan pada gandum itu sendiri. 

Seiring maraknya penggunaan biji-bijian yang diolah secara ultra-proses dan melalui proses hibridisasi, gluten kini berdampak pada kesehatan usus dengan cara yang tidak dialami generasi sebelumnya. 

Baca juga: Hindari Gluten, Waspadai Penyakit Seliaka

Kondisi inilah yang membuat sensitivitas gluten menjadi semakin umum.

Dokter spesialis jantung sekaligus pendiri dan direktur Aashlok Hospital di India, Alok Chopra, menjelaskan, mengapa sensitivitas gluten kini menjadi persoalan kesehatan yang meluas.

Dalam sebuah video yang diunggah ke akun Instagram pribadinya baru-baru ini, ia memaparkan bagaimana gluten modern memengaruhi kesehatan usus, sekaligus membagikan langkah-langkah praktis untuk mengelola gejalanya.

Gluten Dulu dan Sekarang Tidak Sama

Ilustrasi makanan mengandung gluten. (Freepik)

Menurut Chopra, gluten yang dikonsumsi masyarakat saat ini, sangat berbeda dengan gluten yang dikonsumsi generasi terdahulu. 

Gandum yang dimakan oleh kakek-nenek kita umumnya masih alami, minim proses, dan belum mengalami hibridisasi seperti varietas gandum modern yang banyak beredar saat ini.

Sering kali kita mendengar orang tua berkata, ‘Dulu kami makan gandum seumur hidup dan tidak apa-apa. Mengapa sekarang gluten dianggap bermasalah?’ Mereka tidak sepenuhnya salah,” ujar dokter yang telah berpengalaman lebih dari 40 tahun ini. 

Gluten yang mereka konsumsi, bukanlah gluten yang kita makan sekarang,” sambungnya.

Ia menjelaskan, gandum di masa lalu lebih mudah dicerna oleh sistem pencernaan manusia. Sebaliknya, gluten modern, telah mengalami perubahan melalui proses hibridisasi dan pengolahan berlebihan.

Sehingga, tubuh cenderung menganggapnya sebagai zat yang mengiritasi.

Inilah alasan mengapa sensitivitas gluten meningkat tajam saat ini,” ucap Chopra.

Baca juga: Banyak Orang Terkecoh, Apakah Oat Itu Makanan Gluten Free?

Dampak Gluten Modern pada Usus

Chopra menuturkan, gluten modern dapat memicu peradangan pada saluran cerna. Peradangan ini berpotensi melemahkan lapisan pelindung usus, dan menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai leaky gut atau usus bocor.

Ketika gluten modern masuk ke dalam usus, ia dapat memicu peradangan. Pada banyak orang, hal ini melemahkan dinding usus dan menimbulkan robekan mikro, sehingga partikel-partikel tertentu bisa masuk ke aliran darah,” jelasnya.

Kondisi tersebut kemudian memicu respons sistem imun. Dalam jangka panjang, sistem kekebalan tubuh dapat salah mengenali jaringan tubuh sendiri sebagai ancaman dan mulai menyerangnya, termasuk jaringan tiroid, sendi, dan lapisan usus itu sendiri.

Tanda-tanda Sensitivitas Gluten

Chopra mengingatkan, sensitivitas gluten dapat menimbulkan berbagai gejala, antara lain:

  • Perut kembung, sering bergas, rasa asam, dan konstipasi yang menetap
  • Intoleransi makanan, terutama terhadap gandum, produk susu, dan telur
  • Gangguan autoimun
  • Kelelahan tanpa sebab yang jelas
  • Sulit berkonsentrasi atau brain fog
  • Peradangan dan nyeri sendi, hingga gejala radang sendi dini
  • Kenaikan berat badan meski sudah menjalani diet
  • Hipotiroidisme dan ketidakseimbangan hormon
  • Pada anak-anak: hiperaktivitas, sulit fokus, dan gangguan pencernaan berulang

Cara Mengelola Sensitivitas Gluten

Untuk mengatasi sensitivitas gluten, Chopra menyarankan pendekatan pemulihan usus dalam dua langkah, yakni melalui pola makan yang mendukung kesehatan usus, serta intervensi terapeutik tertentu.

Langkah pertama adalah menerapkan pola makan pemulihan usus, yang mencakup konsumsi kaldu tulang, daging segar, sayur-mayur, buah-buahan, labu-labuan, serta makanan fermentasi. 

Langkah kedua adalah mendukung perbaikan usus dengan bantuan nutrisi seperti L-glutamine, probiotik, dan enzim pencernaan, terutama yang membantu memecah gluten.

Ia juga merekomendasikan untuk menghilangkan gluten dari pola makan, setidaknya selama empat minggu bagi mereka yang mengalami gejala-gejala tersebut. 

Menurutnya, banyak orang mulai merasakan perbaikan signifikan pada kesehatan usus dalam kurun waktu tersebut.

Dengan pendekatan yang tepat, sensitivitas gluten bukanlah kondisi permanen yang tidak bisa diatasi,” ujar Dr Chopra.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Hindustan Times

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU