Minggu, 15 FEBRUARI 2026 • 13:15 WIB

Nggak Cuma Gaya Hidup! Ini Alasan Pria Lebih Cepat Terkena Penyakit Kardiovaskular

Author

Ilustrasi penyakit kardiosvakular. (Freepik)

INDOZONE.ID - Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American Heart Association menemukan, angka penderita penyakit kardiovaskular mencapai 5 persen pada pria

Kondisi tersebut rupanya sekitar tujuh tahun lebih cepat dibanding perempuan.

Dikutip dari Medical News Today, secara rinci, pada usia 50,5 tahun, sekitar 5 persen pria telah mengalami penyakit kardiovaskular.

Sementara perempuan, baru mencapai angka kejadian yang sama pada usia 57,5 tahun.

Analisis juga menunjukkan, perbedaan risiko ini mulai tampak sejak usia 35 tahun. Berdasarkan temuan tersebut, para peneliti menyarankan, agar dekade ketiga kehidupan, yakni usia 30-an, menjadi periode penting untuk melakukan skrining dan deteksi dini yang lebih intensif pada pria.

Baca juga: Angka Kematian Tinggi, RS Harapan Kita Lakukan Kolaborasi untuk Penanganan Penyakit Kardiovaskular yang Lebih Efektif

Perbedaan Risiko Penyakit Jantung Berdasarkan Jenis Kelamin

Para ilmuwan telah lama mengetahui, pria cenderung mengalami penyakit jantung koroner sekitar 10 tahun lebih awal, dibanding perempuan. 

Namun, penelitian mengenai perbedaan risiko berdasarkan jenis kelamin untuk kondisi lain, seperti gagal jantung dan stroke, masih relatif terbatas.

Selain itu, para peneliti juga ingin mengetahui apakah perubahan gaya hidup dalam beberapa dekade terakhir, memengaruhi perbedaan risiko tersebut. 

Secara historis, pria memiliki angka merokok, diabetes, dan tekanan darah tinggi yang lebih tinggi. Itu semuanya merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskular. 

Ilustrasi penyakit kardiovaskular. (Freepik/orion_production)

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kesenjangan faktor risiko antara pria dan perempuan semakin menyempit.

Lantas, bagaimana perubahan demografis ini memengaruhi perbedaan risiko penyakit jantung?

Mengamati Risiko Sejak Usia Muda

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para ilmuwan menggunakan data dari studi CARDIA (Coronary Artery Risk Development in Young Adults). 

Studi ini merekrut peserta pada usia muda, sehingga ideal untuk meneliti kemunculan dini penyakit jantung.

Sebanyak 5.112 peserta berusia 18–30 tahun, yang diikuti selama lebih dari 30 tahun. 

Penelitian ini memiliki tiga tujuan utama, yaitu:

  • Meneliti perbedaan usia awal munculnya penyakit kardiovaskular prematur (sebelum usia 65 tahun), dan berbagai bentuknya pada pria dan perempuan.
  • Memperkirakan angka kejadian penyakit kardiovaskular dalam periode 10 tahun, hingga usia paruh baya pada kedua kelompok.
  • Mengeksplorasi apakah perbedaan faktor kesehatan seperti kebiasaan merokok atau aktivitas fisik memengaruhi perbedaan risiko berdasarkan jenis kelamin.

Penurunan Kesehatan Jantung Pria Terjadi Lebih Awal

Hasil analisis menunjukkan, pria memiliki angka kejadian kumulatif yang secara signifikan, lebih tinggi untuk penyakit kardiovaskular, gagal jantung, dan penyakit jantung koroner, dibanding perempuan. 

Artinya, selama masa tindaklanjut penelitian, proporsi pria yang mengalami kondisi tersebut lebih besar.

Namun, tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam angka kejadian stroke antara pria dan perempuan.

Baca juga: Penyakit Kardiovaskular Berisiko Terjadi Pada Anak-Remaja, Begini Cara Pencegahannya

Peneliti juga menemukan, pria mencapai angka kejadian 5 persen penyakit kardiovaskular tujuh tahun lebih awal, dibanding perempuan (50,5 tahun berbanding 57,5 tahun).

Untuk penyakit jantung koroner, pria mencapai angka kejadian 2 persen, sekitar 10 tahun lebih awal dibanding perempuan.

Sementara itu, untuk stroke dan gagal jantung, usia terjadinya relatif serupa antara kedua kelompok.

Perbedaan Nyata Dimulai Sejak Usia 35 Tahun

Peneliti menyimpulkan, perbedaan risiko antara pria dan perempuan dalam penyakit kardiovaskular, penyakit jantung koroner, dan gagal jantung mulai menyimpang sejak usia 35 tahun, dan terus berlanjut hingga usia paruh baya.

Penasihat medis utama Sleepopolis, Dr. Raj Dasgupta, menjelaskan, hingga awal usia 30-an, tingkat risiko relatif serupa.

Namun, sekitar usia 35 tahun, pria mulai mengalami peningkatan risiko yang lebih cepat dibanding perempuan.

Menurutnya, perbedaan ini terjadi jauh sebelum skrining rutin biasanya direkomendasikan. Padahal, penyakit kardiovaskular berkembang secara perlahan selama beberapa dekade.

Para peneliti menegaskan, dekade keempat kehidupan merupakan periode krusial. Skrining dan deteksi dini penyakit kardiovaskular subklinis yang lebih intensif pada pria, dinilai dapat membantu mencegah penyakit di kemudian hari.

Cara Melindungi Kesehatan Jantung Seiring Bertambahnya Usia

Profesor kedokteran dan farmakologi klinis di Thomas Jefferson University, Dr. Peter Kowey, menekankan, pentingnya gaya hidup sehat bagi pria maupun perempuan.

Ia menyarankan olahraga teratur, pola makan seimbang, menghindari rokok, membatasi konsumsi alkohol, serta mengelola stres. 

Kebiasaan ini sebaiknya diterapkan oleh semua orang dewasa, tanpa memandang usia maupun jenis kelamin.

Dasgupta menambahkan, membangun kebiasaan sehat sejak dini, termasuk menjaga kualitas tidur dan mengendalikan stres, dapat membantu memperbaiki risiko jangka panjang.

Baca juga: Tanpa Disadari Orang Tua, Kebiasaan Ini Bisa Berdampak ke Jantung Anak

Peran Pola Makan dalam Menjaga Kesehatan Jantung

Pola makan menjadi salah satu pilar utama kesehatan jantung. Konsumsi makanan ultra-proses yang tinggi, yang kerap dipromosikan secara luas, diketahui berdampak buruk bagi kesehatan jantung.

Keterjangkauan harga makanan olahan dibandingkan bahan segar, juga berkontribusi pada meningkatnya angka obesitas.

Para ahli menyarankan, konsumsi sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, protein tanpa lemak, serta lemak sehat, sambil membatasi minuman manis dan asupan natrium berlebih.

Diet Mediterania dan diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) disebut, memiliki bukti ilmiah kuat dalam mendukung kesehatan jantung.

Benarkah Lemak Jenuh Berbahaya?

Asupan lemak jenuh yang tinggi masih dikaitkan dengan peningkatan kadar kolesterol LDL, faktor risiko utama penyakit jantung. Meski demikian, belakangan ini lemak jenuh seperti mentega kembali populer di sebagian kalangan.

Para pakar menegaskan, pentingnya pola makan seimbang yang mencakup daging dan produk susu dalam jumlah wajar, serta porsi signifikan buah dan sayuran.

Diet tinggi daging olahan dan lemak jenuh tanpa diimbangi serat, antioksidan, dan lemak sehat tetap berhubungan dengan risiko penyakit jantung yang lebih tinggi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Medical News Today

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU