INDOZONE.ID - kamu harus tau kalau jarang ganti sikat gigi bisa berdampak langsung pada kesehatan mulutmu.
Hal ini dikarenakan bulu sikat gigi yang jarang diganti tidak mampu lagi bekerja maksimal untuk membersihkan sisa-sisa makanan dan plak di sela-sela gigi.
Selain itu, sikat gigi yang terlalu sering dipakai juga bisa jadi tempat berkumpulnya bakteri berbahaya untuk kesehatan mulut.
Nah, agar kamu makin paham dampaknya apa saja, berikut penjelasan lengkapnya.
1. Plak Menumpuk
Bulu sikat yang sudah lama dipakai biasanya mulai melebar, aus, dan kehilangan elastisitasnya.
Akibatnya, sikat gigi tidak lagi mampu membersihkan sela-sela gigi dan garis gusi secara maksimal.
Padahal, area tersebut sering menjadi tempat plak dari sisa makanan menumpuk.
Jika plak tidak terangkat dengan baik, lama-kelamaan ia bisa berubah menjadi lapisan biofilm yang lebih sulit dibersihkan.
Inilah sebabnya mengganti sikat gigi secara rutin penting dilakukan. Bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga agar proses menyikat gigi benar-benar efektif
2. Menyebabkan Bau Mulut
Bau mulut atau halitosis sering kali muncul karena bakteri yang memecah sisa makanan di dalam mulut. Proses ini dapat menghasilkan senyawa berbau tidak sedap yang membuat napas jadi kurang segar.
Kalau sikat gigi sudah kotor atau bulunya tidak lagi efektif, sisa makanan dan plak bisa lebih mudah tertinggal.
Baca juga: Panduan Memilih Kandungan Pasta Gigi Anak yang Aman dan Tepat, Orang Tua Wajib Tahu!
Bakteri pun semakin berkembang dan membuat bau mulut semakin sulit dihindari. Selain itu, sikat gigi yang tidak dibersihkan dengan baik setelah dipakai juga bisa menjadi sumber bau.
Jadi, jangan heran kalau napas tetap terasa kurang segar meski sudah menyikat gigi.
3. Risiko Gigi Berlubang Semakin Meningkat
Ketika plak tidak dibersihkan dengan optimal, bakteri di dalamnya bisa menghasilkan asam yang merusak enamel gigi. Proses ini terjadi perlahan, tetapi bisa berujung pada gigi berlubang.
Sikat gigi yang sudah aus tentu tidak bisa bekerja sebaik sikat gigi baru. Meski kamu rajin menyikat gigi, hasilnya tetap bisa kurang maksimal jika alat yang digunakan sudah tidak layak.
Jadi, kualitas sikat gigi ternyata sama pentingnya dengan kebiasaan menyikat gigi itu sendiri. Kalau sikatnya sudah rusak, perlindungan terhadap gigi pun ikut berkurang.
4. Penumpukan Bakteri pada Sikat Gigi
Sikat gigi yang dipakai berulang kali bisa menjadi tempat berkumpulnya bakteri dari mulut maupun lingkungan sekitar.
Apalagi kalau sikat gigi disimpan di tempat yang lembap, mikroorganisme bisa lebih mudah bertahan di sela-sela bulunya.
Salah satu bakteri yang bisa menempel adalah streptococcus mutans, yaitu bakteri yang berperan dalam pembentukan karies atau gigi berlubang.
Jika sikat gigi jarang diganti, jumlah bakteri yang menumpuk bisa semakin banyak. Saat digunakan kembali, bakteri tersebut berpotensi masuk lagi ke rongga mulut.
Dalam kondisi tertentu, terutama saat daya tahan tubuh sedang menurun, hal ini bisa meningkatkan risiko masalah kesehatan mulut.
5. Memicu Masalah Gusi
Plak yang menumpuk di sekitar garis gusi dapat memicu peradangan atau gingivitis. Biasanya, kondisi ini ditandai dengan gusi yang terlihat merah, bengkak, hingga mudah berdarah saat menyikat gigi.
Baca juga: 6 Cara ke Dokter Gigi Pakai BPJS dan Jenis Perawatan yang Ditanggung, Wajib Tahu!
Jika dibiarkan, gingivitis bisa berkembang menjadi periodontitis, yaitu infeksi yang lebih serius pada jaringan penyangga gigi.
Kondisi ini tentu tidak bisa dianggap sepele, karena dapat mempengaruhi kesehatan gigi dalam jangka panjang.
Sikat gigi yang sudah tidak efektif akan membuat area sekitar gusi semakin sulit dibersihkan. Akibatnya, risiko masalah gusi pun bisa semakin besar.
6. Berisiko menyebabkan infeksi ulang
Setelah sakit, terutama sakit tenggorokan, flu, atau infeksi yang berkaitan dengan mulut dan saluran pernapasan, sikat gigi sebaiknya segera diganti.
Sebab, mikroorganisme penyebab sakit bisa saja masih menempel pada bulu sikat. Jika sikat gigi tersebut digunakan kembali, ada kemungkinan kuman masuk lagi ke tubuh.
Kondisi ini dapat meningkatkan risiko reinfeksi, terutama jika tubuh belum benar-benar pulih. Oleh karena itu, mengganti sikat gigi setelah sakit bisa menjadi langkah sederhana untuk menjaga kebersihan mulut.
Cara ini juga membantu mencegah kuman lama kembali berkembang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: American Dental Association, Mayo Clinic