INDOZONE.ID - Tak sedikit orang baru menyadari kondisi kesehatannya bermasalah setelah muncul tanda yang cukup jelas pada tubuh. Menariknya, tanda tersebut tidak selalu muncul dalam bentuk rasa sakit atau keluhan serius.
Kadang, perubahan kecil pada bagian tubuh yang jarang diperhatikan justru bisa menjadi petunjuk awal. Salah satunya terlihat dari kondisi kuku.
Jika kuku mendadak terasa lebih lembek, tampak sangat tipis, mudah terkelupas, atau gampang patah seperti cangkang telur, kondisi ini patut diperhatikan. Dalam dunia medis, kondisi tersebut dikenal sebagai hapalonychia.
Meski sekilas terlihat seperti masalah sepele akibat terlalu sering memakai kuteks atau kurang perawatan, kuku yang rapuh ternyata juga bisa menandakan tubuh sedang kekurangan nutrisi penting.
Baca juga: Kuku Kamu Kuning? Vitamin E Bisa Bantu Mengatasinya!
Dalam banyak kasus, perubahan pada kuku terjadi karena tubuh tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan kuku yang sehat. Karena itu, penting untuk tidak mengabaikan perubahan kecil yang terlihat pada kuku.
Malnutrisi Jadi Penyebab yang Paling Sering Terjadi
Salah satu pemicu paling umum hapalonychia adalah malnutrisi atau kekurangan nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh.
Malnutrisi bukan selalu berarti seseorang jarang makan. Dalam banyak kasus, kondisi ini juga bisa terjadi ketika seseorang sering mengkonsumsi makanan, tetapi kandungan gizinya tidak seimbang.
Selain itu, terlalu banyak makanan cepat saji, jarang makan sayur, kurang protein, atau sering melewatkan waktu makan. Akibatnya, tubuh tidak mendapatkan nutrisi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan kuku yang sehat.
Baca juga: Cara Alami Mengatasi Kuku yang Tiba-Tiba Menguning dengan Oregano Oil
Beberapa nutrisi penting yang sering dikaitkan dengan kuku rapuh meliputi:
1. Vitamin B
Vitamin B membantu proses pertumbuhan sel, termasuk sel kuku. Jika tubuh kekurangan vitamin ini, kuku bisa menjadi lebih lemah dan pertumbuhannya terganggu.
Vitamin B bisa ditemukan dalam telur, susu, ikan, daging, dan biji-bijian.
2. Zat Besi
Kekurangan zat besi sering dikaitkan dengan kuku rapuh dan tipis. Mineral ini berperan membawa oksigen ke seluruh tubuh, termasuk ke jaringan kuku.
Sumber zat besi bisa didapat dari daging merah, bayam, hati ayam, hingga kacang-kacangan.
3. Kalsium
Kalsium bukan hanya penting untuk tulang, tetapi juga membantu menjaga kuku tetap kuat.
Jika tubuh kekurangan kalsium, kuku bisa menjadi lebih mudah retak dan patah.
Baca juga: Warna Kuku Menguning? Jangan Panik! Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
4. Asam Lemak Omega-3
Omega-3 membantu menjaga kelembapan alami kuku agar tidak mudah kering dan pecah.
Nutrisi ini bisa ditemukan pada ikan salmon, tuna, chia seed, dan kacang walnut.
Tubuh Biasanya Memberikan Tanda Lain
Saat tubuh mengalami kekurangan nutrisi, biasanya bukan hanya kuku yang terdampak. Beberapa gejala lain yang sering muncul antara lain:
- Tubuh mudah lelah
- Kulit menjadi kering
- Rambut kusam atau mudah rontok
Baca juga: Tips Mudah Atasi Bintitan di Kelopak Mata agar Cepat Kempis, Jangan Asal Pegang
- Berat badan menurun tanpa alasan jelas
- Tubuh terasa lemas
- Konsentrasi menurun
Jika gejala-gejala ini muncul bersamaan dengan perubahan pada kuku, ada baiknya mulai memperhatikan kondisi tubuh secara keseluruhan.
Kapan Harus Periksa ke Dokter?
Jika kondisi kuku rapuh hanya terjadi sesekali, kamu bisa mulai dengan memperbaiki pola makan dan mengurangi kebiasaan yang merusak kuku.
Namun jika kuku terus menipis, berubah warna, terasa nyeri, atau kondisinya tidak membaik dalam waktu lama, sebaiknya segera konsultasi ke dokter untuk mengetahui penyebab pastinya.
Baca juga: Garis Hitam Bisa Jadi Tanda 3 Masalah Kesehatan Ini!
Jangan anggap perubahan pada kuku sebagai masalah sepele. Bisa saja tubuh sedang memberi sinyal bahwa ada nutrisi penting yang selama ini kurang terpenuhi. Kadang, tanda masalah kesehatan muncul dari hal kecil yang jarang diperhatikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline