INDOZONE.ID - Tahukah kamu, selama ini masyarakat sering melihat dokter sebagai sosok yang tegas, kuat, dan selalu punya solusi untuk setiap keluhan pasien.
Padahal, pandangan itu tidak sepenuhnya tepat karena di balik jas putihnya dokter juga manusia yang bisa merasa lelah, bahkan ikut terbawa emosional saat menghadapi cerita pasien.
Sisi manusiawi inilah yang sering kali jarang terlihat di ruang praktik maupun rumah sakit.
Lalu, seperti apa sisi lain kehidupan dokter yang jarang diketahui pasien? Simak kisah lengkapnya melalui buku Dokter Juga Manusia berikut ini:
Mengangkat Cerita Manusiawi di Balik Jas Putih
Buku “Dokter Juga Manusia”, berisi 25 cerita pendek yang menyoroti sisi-sisi manusiawi profesi dokter.
Melalui kumpulan cerita tersebut, penulisnya ingin menunjukkan bahwa dunia kedokteran tidak hanya berisi ilmu medis, seperti diagnosis, tindakan, dan teknologi, tetapi juga penuh pertemuan emosional antara dokter dan pasien.
Baca juga: Hamidah Rachmayanti Suka Minum Susu Kurma saat Hamil hingga Menyusui, Dokter Ungkap Manfaatnya
“Buku ini adalah ikhtiar kecil untuk mengingatkan kita semua bahwa di balik jas putih, ada manusia. Dan di hadapan kita itu, di kursi pasien, juga ada manusia. Jadi sama-sama setara dan punya perasaan,” kata Dr. Wawan Mulyawan dalam acara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional dan Peluncuran Buku Dokter Juga Manusia di Jakarta Pusat (20/05/26)
Kalimat tersebut menjadi inti dari pesan buku ini.
Jadi , dokter bukan mesin yang hanya bekerja berdasarkan prosedur, sementara pasien juga bukan sekadar angka atau rekam medis.
Keduanya adalah manusia yang bertemu dalam situasi yang sering kali penuh harapan, kecemasan, dan kebutuhan untuk saling percaya.
Dokter dan Pasien Sama-sama Punya Sisi Rentan
Buku ini juga mengajak pembaca melihat hubungan dokter dan pasien secara lebih hangat.
Dalam pelayanan kesehatan, dokter memang memiliki tanggung jawab profesional, tetapi mereka juga bisa merasa takut salah, kelelahan, atau terbebani oleh keputusan sulit.
Di sisi lain, pasien datang dengan kondisi yang tidak selalu mudah.
Ada rasa sakit, kekhawatiran terhadap masa depan, tekanan keluarga, hingga harapan besar untuk sembuh.
Baca juga: Tidur Pakai Bra Ternyata Aman! Dokter Bongkar Faktanya
Oleh karena itu, pertemuan dokter dan pasien seharusnya tidak hanya dipahami sebagai hubungan layanan, tetapi juga sebagai perjumpaan dua manusia yang sama-sama memiliki sisi rentan.
“Pertemuan dua manusia inilah yang menjadi jiwa kedokteran, artinya dari sisi paisen dan dokter harus salaing menghargai satu sama lain,” lanjut Dr. Wawan.
Pernyataan tersebut sejalan dengan tema besar acara ILUNI FKUI tahun ini, yaitu membangun kesehatan nasional yang lebih manusiawi.
Buku ini hadir sebagai pengingat bahwa empati tetap menjadi bagian penting dalam dunia kedokteran, bahkan di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi sistem kesehatan.
Diharapkan Bisa Dibaca Lebih Luas
Penulis juga berharap buku “Dokter Juga Manusia” tidak hanya dibaca oleh kalangan medis.
Buku ini juga diharapkan bisa menjangkau masyarakat umum, mahasiswa, hingga para pengambil kebijakan agar lebih banyak pihak memahami sisi kemanusiaan dalam pelayanan kesehatan.
Bagi masyarakat, buku ini bisa menjadi jendela untuk melihat bahwa dokter juga memiliki pergulatan dan perasaan dalam menjalankan tugasnya.
Sementara bagi tenaga medis, cerita-cerita di dalamnya dapat menjadi ruang refleksi untuk kembali mengingat nilai dasar profesi kedokteran.
Buku ini juga menjadi relevan bagi pembuat kebijakan, karena sistem kesehatan yang baik tidak hanya membutuhkan regulasi dan infrastruktur, tetapi juga pemahaman tentang manusia yang ada di dalamnya.
Pelayanan kesehatan yang ideal bukan hanya cepat dan modern, tetapi juga penuh empati.
Melalui peluncuran buku ini, ILUNI FKUI ingin menegaskan bahwa kebangkitan kesehatan nasional harus berjalan bersama nilai kemanusiaan.
Sebab, pada akhirnya, dunia kedokteran tidak hanya tentang menyembuhkan penyakit, tetapi juga tentang merawat manusia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan