INDOZONE.ID - Penggunaan bahan pengawet dalam makanan olahan, kembali menjadi perbicangan.
Hal itu terjadi setelah salah satu studi terbaru menemukan, hubungan antara beberapa zat aditif umum, dengan peningkatan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah European Heart Journal itu menunjukkan, konsumsi sejumlah bahan pengawet tertentu dapat dikaitkan dengan tekanan darah tinggi.
Meski demikian, para peneliti menegaskan, studi ini bersifat observasional. Sehingga, belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.
Mereka menyebutkan, masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan, apakah bahan pengawet benar-benar menjadi pemicu utama peningkatan risiko tersebut.
Baca juga: Makanan Ultra-Olahan, Enak Tapi Berbahaya: Fakta yang Perlu Kamu Tahu!
Penggunaan Bahan Pengawet dalam Makanan Semakin Meluas
Dikutip dari Medical News Today, makanan ultra-proses atau ultra-processed foods (UPF) semakin banyak dikonsumsi masyarakat modern.
Produk-produk ini umumnya mengandung bahan pengawet, untuk memperpanjang masa simpan sekaligus menjaga kualitas dan keamanan pangan.
Pada 2019, sekitar sepertiga produk makanan yang dibeli di Amerika Serikat, diketahui mengandung setidaknya satu jenis bahan pengawet.
Meski telah melalui uji keamanan sebelum diizinkan beredar oleh lembaga seperti, Food and Drug Administration (FDA) dan European Food Safety Authority (EFSA), sebagian ilmuwan menilai pengujian tersebut belum cukup mendalam untuk menilai dampak jangka panjang terhadap kesehatan.
Beberapa bahan pengawet sebenarnya juga ditemukan secara alami pada makanan. Seperti, asam askorbat (vitamin C) dan alfa-tokoferol (vitamin E).
Namun, penelitian awal menunjukkan, efek zat tersebut bisa berbeda ketika dikonsumsi dalam bentuk tambahan pada makanan olahan.
Penelitian Melibatkan Lebih dari 112 Ribu Orang
Studi terbaru ini menggunakan data dari proyek penelitian nutrisi besar di Prancis bernama NutriNet-Santé yang dimulai sejak 2009.
Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 112 ribu peserta, dengan rata-rata usia 42,8 tahun dan dipantau selama hampir delapan tahun.
Para peneliti mengidentifikasi 58 jenis bahan pengawet yang dikonsumsi peserta. Dari jumlah tersebut, terdapat 17 bahan pengawet yang dikonsumsi oleh setidaknya 10 persen peserta, dan menjadi fokus utama penelitian.
Berikut, 10 bahan pengawet yang paling umum ditemukan dalam konsumsi peserta:
- Asam sitrat
- Lesitin
- Sulfit total
- Asam askorbat
- Natrium nitrit
- Kalium sorbat
- Natrium eritrobat
- Natrium askorbat
- Kalium metabisulfit
- Kalium nitrat
Sebagian besar zat tersebut ditemukan pada produk makanan olahan seperti daging olahan, minuman ringan, buah dan sayuran olahan, serta minuman beralkohol.
8 Bahan Pengawet Dikaitkan dengan Hipertensi
Baca juga: Kamu Akan Jadi Lebih Cepat Gemuk Bila Sering Konsumsi Makanan Olahan
Dalam analisisnya, peneliti telah mempertimbangkan berbagai faktor lain. Seperti usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi garam, alkohol, hingga kualitas pola makan secara keseluruhan.
Hasil penelitian menunjukkan, konsumsi bahan pengawet di bawah ini, rupanya berpengaruh pada peningkatan risiko hipertensi. Di antaranya:
- Kalium sorbat
- Asam sitrat
- Kalium metabisulfit
- Nitrit total
- Natrium nitrit
- Asam askorbat
- Natrium eritrobat
- Natrium askorbat
Peneliti menemukan, konsumsi total bahan pengawet dikaitkan dengan peningkatan risiko hipertensi hingga 24 persen. Sementara beberapa jenis pengawet tertentu, menunjukkan peningkatan risiko yang lebih tinggi.
Kalium sorbat, misalnya, dikaitkan dengan peningkatan risiko hipertensi hingga 39 persen.
Selain hipertensi, beberapa bahan pengawet juga disebut memiliki hubungan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner, dan penyakit kardiovaskular lainnya.
Tidak Hanya Karena Pola Makan Buruk
Menariknya, peneliti menyebut hubungan tersebut tidak sepenuhnya disebabkan oleh pola makan yang buruk atau konsumsi makanan ultra-proses semata.
Artinya, efek bahan pengawet kemungkinan tetap ada, meskipun kualitas pola makan seseorang relatif baik.
Temuan ini membuat para ilmuwan menyerukan evaluasi ulang, terhadap keamanan bahan tambahan makanan, khususnya terkait dampaknya terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Cara Kurangi Konsumsi Bahan Pengawet
Ahli nutrisi dan peneliti dari Imperial College London, Dr. Federica Amati, menyarankan masyarakat memulai kurangi konsumsi makanan ultra-proses. Hal itu untuk menekan paparan bahan pengawet.
Menurutnya, langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
- Memperbanyak konsumsi makanan utuh seperti buah, sayur, biji-bijian, kacang, dan rempah alami
- Mengurangi konsumsi daging olahan yang mengandung nitrat dan nitrit
- Menghindari minuman bersoda dan minuman ultra-proses
- Memilih produk dengan daftar bahan yang lebih singkat dan sederhana
Ia juga menekankan, pentingnya asupan serat untuk menjaga kesehatan usus, sistem imun, dan kesehatan jantung.
Penelitian Masih Perlu Dilanjutkan
Walau hasil studi ini menarik perhatian, para peneliti menegaskan, penelitian observasional tidak dapat membuktikan, bahan pengawet secara langsung menyebabkan hipertensi atau penyakit jantung.
Namun, temuan ini dinilai menjadi peringatan penting, konsumsi makanan ultra-proses dan bahan tambahan pangan perlu diperhatikan lebih serius, terutama jika dikonsumsi dalam jangka panjang dan berlebihan.
Dengan meningkatnya konsumsi makanan instan dan olahan di berbagai negara, penelitian lanjutan diharapkan bisa memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai dampak nyata bahan pengawet terhadap kesehatan manusia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical News Today