INDOZONE.ID - Masalah gizi pada anak masih menjadi tantangan besar yang dihadapi banyak negara, termasuk Indonesia. Isu ini harus segera diatasi dengan memberikan nutrisi yang tepat.
Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Universitas Indonesia sekaligus Konsultan Tumbuh Kembang Pediatri Sosial FKUI-RSCM, Prof. DR. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K) mengatakan, setiap negara memiliki persoalan nutrisi dengan karakteristik yang berbeda-beda. Ia sendiri sebagai seorang dokter anak, praktisi kecerdasan anak, sehari-hari bekerja di rumah sakit dan juga sebagai dosen selama 30 tahun menemui cukup banyak masalah yang ada di Indonesia.
“Kita lihat masalah nutrisi pada anak bukan hanya milik negara Indonesia. Jadi secara global, negara berkembang maupun negara maju masing-masing memiliki masalah tersendiri," papar Prof. Rini saat peluncuran AceKid bertajuk 'Let's Witness Together, a New Fresh Standard from AceKid' di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Minggu 7 Juni 2026.
Baca juga: Anak Kurang Gizi? Simak Penyebab dan Dampak Malnutrisi yang Perlu Diketahui
Stunting Banyak Dihadapi di Negara Berkembang
Prof Rini menambahkan, di negara maju lebih banyak menghadapi masalah gizi lebih, overweight, dan obesitas pada anak. Sementara itu, di negara berkembang fokusnya menyelesaikan gizi kurang, stunting, serta tingginya angka penyakit infeksi.
"Kalau di negara maju, masalah nutrisi yang banyak adalah gizi lebih dan obesitas. Sedangkan di negara berkembang yang banyak adalah gizi kurang, stunting, dan penyakit infeksi,” imbuhnya.
Kabar baiknya, walau angka stunting di Indonesia sudah mulai menurun, masalah ini tetap menjadi perhatian yang sangat penting. Orang tua perlu selektif saat memberikan gizi seimbang, termasuk susu.
Dijelaskan lebih lanjut, stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan yang pendek. Kondisi ini akqn memengaruhi kesehatan dan produktivitas anak.
"Kalau bayi lahir dengan kondisi kurang baik, kemudian asupan gizinya tidak optimal hingga usia dua tahun, tinggi badannya akan menjadi pendek. Jika tidak tertangani, dia akan tumbuh menjadi remaja dengan perawakan pendek. Ketika dewasa dan hamil, dia berisiko melahirkan anak dengan kondisi yang sama. Jadi ini seperti lingkaran yang tidak ada habisnya," jelasnya.
Prof Rini menekankan bahwa status gizi sangat berpengaruh terhadap sistem kekebalan tubuh anak. Baik anak yang mengalami gizi kurang maupun obesitas sama-sama berisiko mengalami gangguan imunitas
"Imunitas tubuh sangat dipengaruhi oleh status gizi. Memang anak dengan gizi buruk atau gizi kurang memiliki sistem imun yang lebih rendah. Tetapi anak dengan obesitas juga bukan berarti status imunnya lebih baik. Yang paling baik adalah status gizi yang normal sesuai usianya," jelasnya.
Studi: Kekurangan Vitamin D
Dalam kesempatan ini, Prof Rini menyoroti pentingnya memperhatikan kecukupan zat gizi mikro, seperti zat besi dan vitamin D. Jika anak kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia akan berdampak pada perkembangan kecerdasan jika terlambat ditangani.
"Anemia defisiensi besi bisa terjadi sejak masa kehamilan. Kalau terlambat ditangani, dampaknya terhadap kecerdasan anak bisa menetap. Hemoglobinnya mungkin bisa membaik, tetapi perkembangan otaknya belum tentu bisa mengejar ketertinggalan yang sudah terjadi," ungkapnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa hasil penelitian yang dilakukan timnya menemukan cukup banyak bayi dan anak Indonesia yang mengalami kekurangan vitamin D meskipun Indonesia merupakan negara tropis yang kaya sinar matahari.
"Penelitian kami di lapangan menunjukkan banyak bayi dan anak Indonesia yang mengalami defisiensi vitamin D. Padahal kita negara yang mataharinya melimpah. Namun sekarang banyak anak yang kurang terpapar sinar matahari karena selalu menggunakan payung, topi, atau lebih banyak berada di dalam ruangan," katanya.
Menurut Prof. Rini, untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, orang tua perlu memperhatikan dua faktor utama yang tidak bisa dipisahkan, yaitu nutrisi dan stimulasi.
"Dua hal penting dalam meningkatkan perkembangan otak adalah nutrisi dan stimulasi. Dua-duanya harus diberikan seratus persen. Nutrisi penting, tetapi stimulasi juga sama pentingnya," ucapnya.
Baca juga: Cegah Stunting Harus dari Hulu ke Hilir, Wajib Penuhi Gizi Anak hingga Sanitasi Bersih
Tips Pilih Susu dengan Nutrisi yang Tepat
Pendiri dan CEO FEIHE International, Leng Youbin melihat banyak permasalahan kesehatan di Indonesia, termasuk tingginya angka stunting lebih dari 26 persen, karena kurangnya asupan protein. Berdasarkan hasil riset, ia perlu mengembangkan formula dengan nutrisi yang mendekati ASI. Tujuannya untuk mendukung perkembangan anak dan menjaga daya tahan agar lebih optimal.
Tapi sayangnya, saat berkunjung ke Jakarta ia melihat banyak susu pertumbuhan yang menggunakan bahan utama susu skim, tambahan gula dan perisa sintetik. Belum lagi ditambah pewangi dan perasa sintetik yang kurang baik untuk anak dan membuat mereka menolak makan.
Ia menjelaskan, susu skim sudah melalui tahap suhu tinggi berulang. Sementara konsumsi gula dan maltodekstrin berdampak buruk pada anak.
Sementara di China masih banyak menggunakan susu bubuk pada sufor bayi di tahun 1980-1990an. Tapi dalam 20 tahun terakhir industri susu berubah di Tiongkok dan negara barat, karena menggunakan susu segar sebagai bahan baku.
“Kami sebagai penggerak utama dari situlah muncul harapan saya menghadirkan susu sehat dan bermanfaat bagi anak di dunia, Indonesia jadi salah satu tujuan, bersama Makuku, setelah persiapannya bertahun-tahun,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan