INDOZONE.ID - Penggunaan gadget dalam waktu lama pada anak kembali menjadi sorotan. Terbaru, ada suatu studi melibatkan lebih dari 50.000 anak di Amerika Serikat.
Studi itu menemukan, anak-anak yang menghabiskan waktu lebih dari empat jam per hari di depan layar, memiliki risiko depresi 61 persen lebih tinggi.
Lalu, bisa juga berisiko alami kecemasan 45 persen lebih tinggi, dibandingkan mereka yang menggunakan layar dalam durasi lebih singkat.
Temuan ini menjadi salah satu bukti kuantitatif terbesar hingga saat ini. Hal itu menunjukkan, penggunaan layar secara berlebihan bukan sekadar kebiasaan sehari-hari, melainkan dapat menjadi masalah kesehatan yang berdampak serius pada kondisi mental anak.
Hasil penelitian tersebut muncul di tengah meningkatnya upaya sejumlah negara bagian di Amerika Serikat, untuk memperketat regulasi penggunaan media sosial, dan perangkat digital oleh anak-anak serta remaja.
Baca juga: Mata Cepat Capek Gara-gara Gadget? Ini Solusi yang Disarankan Dokter
Studi Libatkan Lebih dari 50.000 Anak dan Remaja
Penelitian yang diterbitkan pada Januari 2026 dalam jurnal Humanities and Social Sciences Communications dari Nature Portfolio ini, menganalisis data dari 50.231 anak, dan remaja berusia 6 hingga 17 tahun, yang berasal dari National Survey of Children's Health periode 2020–2021.
DIkutip dari Medical Daily, para peneliti menggunakan metode structural equation modeling, untuk mengkaji hubungan antara durasi penggunaan layar harian dengan empat masalah kesehatan mental utama.
Mulai dari depresi, kecemasan, gangguan perilaku, dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).
Hasilnya menunjukkan, anak-anak yang menggunakan perangkat digital selama empat jam atau lebih setiap hari mengalami:
- Risiko depresi 61 persen lebih tinggi.
- Risiko kecemasan 45 persen lebih tinggi.
- Risiko gangguan perilaku atau masalah kedisiplinan 24 persen lebih tinggi.
- Risiko ADHD 21 persen lebih tinggi.
Peneliti juga menemukan, dampak negatif penggunaan layar terhadap kesehatan mental tidak hanya berasal dari konten yang dikonsumsi. Tapi, juga dari aktivitas penting yang tergantikan akibat terlalu lama menatap layar.
Aktivitas Fisik dan Tidur Menjadi Faktor Penting
Menurut hasil penelitian, kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor mediasi terbesar yang menjelaskan hubungan antara waktu layar, dan gangguan kesehatan mental.
Aktivitas fisik menyumbang sekitar 30,9 hingga 38,9 persen dari hubungan tersebut. Sementara itu, jadwal tidur yang tidak teratur, berkontribusi sebesar 18,4 hingga 23,9 persen, dan durasi tidur yang kurang menyumbang sekitar 4,2 hingga 7,2 persen.
Artinya, penggunaan layar yang berlebihan dapat berdampak buruk. Sebab, itu bisa mengurangi waktu anak untuk bergerak, berolahraga, beristirahat, dan menjaga pola tidur yang sehat.
Yang menjadi perhatian, hampir satu dari tiga anak dalam penelitian ini dilaporkan menggunakan layar selama empat jam atau lebih setiap hari.
Hal tersebut menunjukkan, perilaku tersebut telah menjadi kebiasaan yang cukup umum.
Aturan Ketat Penggunaan Media Sosial Anak
Seiring semakin kuatnya bukti ilmiah mengenai dampak penggunaan layar terhadap kesehatan mental, sejumlah negara bagian di Amerika Serikat mulai mengambil langkah regulasi.
Pada 8 April 2026, DPR Negara Bagian Massachusetts meloloskan rancangan undang-undang yang disebut sebagai salah satu regulasi media sosial paling ketat di negara tersebut.
Baca juga: Anak Sebaiknya Dikasih Gadget di Usia Berapa? Ini Rekomendasi Ahli
Aturan tersebut melarang anak-anak berusia di bawah 14 tahun menggunakan media sosial. Sementara remaja berusia 14 hingga 15 tahun diwajibkan memperoleh persetujuan orang tua sebelum dapat mengakses platform media sosial.
Selain itu, rancangan undang-undang tersebut juga mewajibkan larangan penggunaan ponsel selama jam sekolah di seluruh negara bagian, apabila nantinya disahkan oleh Senat dan ditandatangani gubernur.
Gubernur Massachusetts, Maura Healey, menyatakan, banyak platform media sosial dirancang dengan algoritma yang bersifat adiktif, dan mengeksploitasi kerentanan psikologis anak-anak serta remaja.
Sementara itu, Jaksa Agung Massachusetts, Andrea Campbell, menegaskan, pentingnya meminta pertanggungjawaban perusahaan teknologi yang merancang platform.
Sehingga, membuat anak-anak terus terikat pada media sosial, dan berpotensi mengganggu kesehatan mental mereka.
Gelombang Regulasi Meluas ke Berbagai Negara Bagian
Massachusetts bukan satu-satunya wilayah yang mengambil langkah tersebut. Negara bagian lain seperti New York dan Florida juga telah menerapkan atau mengusulkan pembatasan penggunaan media sosial dan ponsel pintar bagi anak-anak.
Selain itu, puluhan rancangan undang-undang terkait keamanan chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) juga tengah dibahas di berbagai negara bagian AS.
Regulasi tersebut muncul karena, meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak chatbot AI, yang berpotensi menciptakan ketergantungan emosional pada remaja yang rentan.
Meski demikian, sejumlah pihak mengingatkan, hubungan antara penggunaan layar dan kesehatan mental tidak selalu bersifat sebab-akibat secara langsung.
Beberapa penelitian lain menunjukkan, remaja yang telah mengalami masalah kesehatan mental mungkin cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar.
Oleh karena itu, para ilmuwan menilai diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami hubungan tersebut secara lebih mendalam.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?
Para ahli menilai, hasil penelitian ini memberikan pesan penting bagi orang tua, untuk lebih memperhatikan kebiasaan penggunaan perangkat digital pada anak.
Selama ini, American Academy of Pediatrics merekomendasikan agar anak di bawah usia dua tahun tidak mendapatkan waktu layar untuk hiburan.
Sementara anak yang lebih besar, dianjurkan membatasi penggunaan layar rekreasional sekitar satu hingga dua jam per hari.
Baca juga: Mengapa Mata Cepat Lelah Setelah Penggunaan Gadget! Begini Penjelasannya
Selain membatasi durasi penggunaan perangkat digital, para peneliti menekankan pentingnya menjaga kualitas tidur anak, dan memastikan mereka melakukan aktivitas fisik setiap hari.
Menurut para ahli, tiga langkah sederhana tersebut menjadi cara paling efektif, yang dapat dilakukan keluarga untuk membantu menjaga kesehatan mental anak di era digital.
Waktu Layar Perlu Dikelola dengan Bijak
Temuan terbaru ini menambah daftar bukti ilmiah yang menunjukkan, penggunaan layar secara berlebihan, dapat berdampak pada kesehatan mental anak dan remaja.
Meskipun teknologi memiliki banyak manfaat dalam pendidikan maupun komunikasi, para peneliti menegaskan, keseimbangan tetap menjadi kunci.
Membatasi waktu layar, menjaga pola tidur, dan mendorong aktivitas fisik secara rutin dapat membantu mengurangi risiko gangguan kesehatan mental sekaligus mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical Daily