Minggu, 21 JUNI 2026 • 13:15 WIB

Waspada! Kejang Berulang Bisa Jadi Tanda Penyakit Epilepsi Autoimun yang Menyerang Otak

Author

 Ilustrasi epilepsi autoimun. (Freepik)

INDOZONE.ID – Epilepsi selama ini dikenal sebagai gangguan saraf yang menyebabkan kejang berulang, akibat aktivitas abnormal di otak. Namun, tidak semua kasus epilepsi memiliki penyebab yang sama. 

Salah satu bentuk yang relatif jarang namun semakin mendapat perhatian dari kalangan medis adalah, epilepsi autoimun.

Itu merupakan kondisi ketika sistem kekebalan tubuh tidak bekerja sebagai mestinya dan justru menyerang sel-sel otak, hingga memicu terjadinya kejang. 

Para ahli menyebutkan, kondisi ini sebagai autoimmune-associated epilepsy, atau kejang simptomatik akut yang terjadi akibat ensefalitis autoimun. 

Berbeda dengan epilepsi pada umumnya, epilepsi autoimun sering kali tidak memberikan respons optimal terhadap obat antikejang biasa, dan memerlukan terapi yang menargetkan sistem imun. 

Baca juga: Hati-hati! Trauma Masa Kecil Bisa Jadi Faktor Pemicu Penyakit Autoimun

Apa Itu Epilepsi Autoimun? 

Dikutip dari Mayo Clinic, epilepsi autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh dari virus, bakteri, dan zat berbahaya lainnya, justru menyerang jaringan otak yang sehat. 

Dalam kondisi ini, antibodi yang diproduksi tubuh salah mengenali reseptor atau protein di otak sebagai ancaman. Akibatnya, terjadi peradangan pada jaringan otak, yang kemudian memicu munculnya kejang. 

Dokter umumnya menggunakan terapi imun atau imunoterapi untuk mengurangi serangan sistem imun terhadap otak.

Jika diberikan sejak dini, pengobatan ini dapat menurunkan peradangan, mengendalikan kejang, bahkan menghentikan kejang sepenuhnya pada sebagian pasien. 

Ilustrasi orang kejang berulang akibat epilepsi autoimun. (Freepik)

Gejala Epilepsi Autoimun 

Gejala epilepsi autoimun sering muncul secara mendadak, terkadang setelah seseorang mengalami penyakit yang disertai demam. 

Jenis kejang yang paling sering terjadi adalah kejang fokal, yaitu kejang yang berasal dari satu area tertentu di otak. 

Pada beberapa kasus, kejang dapat menyebabkan penderita: 

  • Menatap kosong dan tidak merespons lingkungan sekitar.
  • Mengalami gerakan berulang pada salah satu bagian tubuh.
  • Merasakan sensasi déjà vu atau merasa pernah mengalami situasi yang sama sebelumnya.
  • Mengalami mual.
  • Melihat kilatan cahaya atau gangguan penglihatan lainnya. 

Selain kejang fokal, terdapat pula kejang distonik fasio-brakial, yaitu kontraksi otot mendadak yang terjadi pada satu sisi wajah dan lengan di sisi tubuh yang sama. 

Gejala lain yang dapat menyertai epilepsi autoimun meliputi: 

  • Kejang berulang beberapa kali dalam sehari.
  • Kejang yang tidak membaik meski sudah mengonsumsi obat antikejang.
  • Kejang berkepanjangan lebih dari lima menit.
  • Gangguan daya ingat.
  • Kesulitan berpikir atau berkonsentrasi.
  • Perubahan kepribadian dan perilaku.
  • Gerakan tubuh tidak terkendali. 
  • Gangguan pergerakan mata.
  • Perubahan denyut jantung dan tekanan darah. 

Kapan Harus Segera Mendapatkan Pertolongan Medis? 

Kejang yang berlangsung lebih dari lima menit, merupakan kondisi darurat medis yang memerlukan penanganan segera. 

Pertolongan darurat juga diperlukan jika: 

  • Kejang terjadi berulang tanpa penderita sadar di antara episode kejang.
  • Disertai demam tinggi.
  • Mengalami gangguan pernapasan.
  • Kejang terjadi untuk pertama kali dalam hidup. 

Baca juga: Jangan Panik! Ini Cara Tolong Orang yang Alami Kejang ‘Epilepsi Grand Mal’

Penyebab Epilepsi Autoimun 

Penyebab utama epilepsi autoimun adalah serangan sistem imun terhadap sel-sel otak. Beberapa kondisi yang dapat memicu gangguan ini antara lain: 

1. Ensefalitis Autoimun 

Ensefalitis autoimun merupakan penyebab paling umum epilepsi autoimun. Kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang otak dan menyebabkan peradangan. 

Beberapa jenis ensefalitis autoimun dikaitkan dengan antibodi yang menyerang: 

  • Reseptor NMDA
  • LGI1
  • CASPR2
  • GAD65 

2. Sindrom Rasmussen 

Sindrom Rasmussen merupakan penyakit langka yang menyebabkan peradangan kronis pada salah satu sisi otak. 

Penyakit ini terjadi akibat aktivitas sel imun yang merusak jaringan otak dan dapat menyebabkan kejang yang sulit dikendalikan, bahkan setelah pengobatan. 

3. Kanker 

Pada sebagian kasus, tumor dapat memicu respons imun abnormal yang menyerang jaringan otak sehat. Kondisi ini dikenal sebagai sindrom paraneoplasti,k dan dapat menyebabkan epilepsi autoimun. 

Faktor Risiko 

Meskipun tergolong jarang, epilepsi autoimun dapat terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa. Risiko lebih tinggi ditemukan pada individu yang: 

  • Memiliki penyakit autoimun lain seperti rheumatoid arthritis, lupus, penyakit Graves, tiroiditis Hashimoto, penyakit Crohn, atau kolitis ulseratif.
  • Memiliki riwayat kanker.
  • Memiliki anggota keluarga dengan penyakit autoimun.  

Baca juga: 7 Mitos dan Fakta Penyakit Epilepsi, Apakah Benar Tak Bisa Disembuhkan?

Komplikasi yang Mungkin Terjadi 

Salah satu komplikasi paling serius adalah status epileptikus, yaitu kondisi ketika kejang berlangsung sangat lama, atau terjadi berulang tanpa kesadaran pulih di antaranya. 

Status epileptikus merupakan keadaan darurat yang dapat mengancam jiwa, dan memerlukan penanganan segera di rumah sakit. Pada sebagian penderita, kejang juga dapat terus berlanjut meskipun telah menjalani berbagai terapi. 

Bagaimana Dokter Menegakkan Diagnosis? 

Diagnosis epilepsi autoimun diawali dengan pemeriksaan fisik dan evaluasi gejala yang dialami pasien. Untuk memastikan diagnosis, dokter dapat melakukan sejumlah pemeriksaan, antara lain: 

Pemeriksaan Laboratorium 

Tes darah dan cairan serebrospinal dilakukan untuk mendeteksi antibodi yang menyerang jaringan otak. Cairan serebrospinal diperoleh melalui prosedur pungsi lumbal atau pengambilan cairan tulang belakang. 

Pencitraan Otak 

Pemeriksaan MRI otak digunakan untuk mencari tanda-tanda peradangan atau kelainan pada jaringan otak.

Dokter juga dapat menggunakan PET Scan FDG untuk melihat aktivitas metabolisme otak yang dapat mengindikasikan adanya ensefalitis autoimun. 

Elektroensefalografi (EEG)

EEG digunakan untuk merekam aktivitas listrik otak dan membantu mengidentifikasi pola kejang yang khas pada epilepsi autoimun. 

Pengobatan Epilepsi Autoimun

Penanganan epilepsi autoimun berbeda dari epilepsi biasa karena fokus utamanya adalah mengendalikan aktivitas sistem imun. 

 Imunoterapi 

Beberapa terapi yang sering digunakan meliputi: 

  • Kortikosteroid dosis tinggi seperti metilprednisolon.
  • Imunoglobulin intravena (IVIG).
  • Rituximab.
  • Siklofosfamid.
  • Mikofenolat mofetil.
  • Azathioprine.
  • Tocilizumab. 

Terapi tersebut bertujuan mengurangi peradangan dan menghentikan serangan sistem imun terhadap otak. 

Pertukaran Plasma (Plasma Exchange) 

Prosedur ini dilakukan dengan memisahkan plasma darah yang mengandung antibodi penyebab penyakit, kemudian menggantinya dengan plasma baru.

Cara ini membantu mengurangi jumlah antibodi yang menyerang jaringan otak. 

Obat Antikejang 

Meski efektivitasnya sering lebih terbatas dibandingkan pada epilepsi biasa, obat antikejang tetap digunakan untuk membantu mengendalikan kejang. 

Jika kejang berhasil dikendalikan melalui imunoterapi, dokter dapat secara bertahap mengurangi dosis obat antikejang. 

Operasi Otak 

Pada kasus tertentu, terutama pada penderita sindrom Rasmussen, operasi otak sering menjadi pilihan karena terapi obat tidak memberikan hasil yang memadai. 

Pentingnya Diagnosis dan Penanganan Dini 

Para ahli menekankan, diagnosis dini sangat penting dalam epilepsi autoimun. Penanganan yang cepat, dapat membantu mengurangi kerusakan otak akibat peradangan, meningkatkan peluang bebas kejang, dan memperbaiki kualitas hidup pasien. 

Meski tergolong penyakit yang relatif jarang, kesadaran masyarakat terhadap gejala epilepsi autoimun perlu ditingkatkan. Kejang yang muncul secara tiba-tiba, berulang, dan tidak membaik dengan pengobatan standar, sebaiknya segera diperiksakan oleh dokter spesialis saraf. 

Hal itu dilakukan untuk mendapatkan diagnosis dan terapi yang tepat. 

  

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Mayo Clinic

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU