INDOZONE.ID - Karena tingkat stressfull yang tinggi, perempuan sangat mudah mengalami beragam penyakit. Salah satu yang dikhawatirkan adalah terjadinya tumor otak.
Banyak yang hal dipikirkan oleh seorang perempuan dan ibu sampai kadang lupa dengan kondisi kesehatannya. Terlebih karena perempuan punya hormon yang berbeda daripada laki-laki maka lebih rentan mengalami penyakit.
Dalam acara Media Gathering di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Dokter Spesialis Bedah Saraf RS Premier Bintaro, dr. Moch Evodia Slamet R., Sp.BS mengatakan, gaya hidup perempuan modern lebih rentan dengan berbagai serangan penyakit dibandingkan zaman dulu.
Terlebih sekarang ini, hormon stres lebih mudah diproduksi tubuh kalau tidak dikelola dengan baik.
Baca juga: Fenomena El Nino Tingkatkan Penularan Demam Berdarah Dengue, Simak Cara Mencegahnya
“Gaya hidup yang memang terlalu capek, biasanya bersifat (pengaruh) ke hormon-hormon, termasuk hormon stres. Itu kemudian menjadi mutasi,” ujar Dokter Evodia kepada wartawan.
Bahkan, kata Dokter Evodia, kejadian tumor otak ini mengintai orang usia lebih muda. “Sekarang cenderung lebih muda. Dulu itu umur 50-an, sekarang umur 30-an,” ungkapnya.
Ia berpesan agar para perempuan harus bisa mengatur pola stres dan gaya hidup. Terutama bagi mereka yang punya banyak aktivitas atau membagi waktu antara urusan rumah tangga dan pekerjaan.
“Jadi boleh terlalu stres ya. Biasa pribadi orang juga, ada orang yang lebih stressfull, ada orang yang lebih santai-santai aja. Tapi intinya adalah mindset yang perlu kita latih,” bebernya.
Baca juga: Viral Pria Minum Oli Mesin Setiap Pagi, Tetap Sehat Selama 33 Tahun
Tumor Otak pada Perempuan
Dalam kesempatan ini, Dokter Evodia menjelaskan bahwa tumor otak terdiri dari tumor primer yang berasal dari jaringan otak dan tumor sekunder yang merupakan penyebaran kanker dari organ lain.
Menurutnya, sekitar 72% tumor otak bersifat jinak. Dari jumlah ini, sekitar 55% merupakan meningioma atau tumor yang tumbuh pada selaput otak dan sekitar 28% lainnya tergolong ganas.
“Baik tumor jinak maupun ganas tetap dapat berbahaya apabila menekan jaringan otak penting atau menghambat aliran cairan otak sehingga meningkatkan tekanan di dalam kepala,” jelasnya.
Sementara itu, Dokter Evodia menegaskan bahwa beberapa jenis tumor otak lebih banyak ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki. Salah satunya adalah meningioma yang memiliki kaitan dengan faktor hormonal.
Baca juga: 7 Manfaat Jus Semangka dan Apel untuk Kesehatan yang Perlu Kamu Tahu
“Bahwa untuk hormon-hormon perempuan-perempuan, saya sebutkan sebetulnya di meningioma, kaitannya mutasi dari estrogen dan progesterone, perempuan harus aware,” kata sang dokter.
Gejala Tumor Otak yang Sering Dibaikan
Sayangnya, masih banyak sekali pasien yang mengabaikan gejala tumor otak. Salah satu yang mesti diwaspadai adalah gejala pusing atau sakit kepala di satu titik yang sangat intens dan jangka waktu lama.
“Gejala tumor biasanya ditandai dengan sakit kepala, nyeri, terus lama hilang, terus nyeri lagi. Biasanya waktu yang berdekatan tuh dan terjadi di satu titik, bergantung di mana lokasi tumor itu tubuh,” ungkapnya.
Di saat gejala sakit kepala muncul, pasien juga langsung mengalami pandangan kabur. Hal ini terjadi karena tekanan yang terus meningkat, sehingga memengaruhi saraf mata yang membuat penglihatan menjadi kabur.
Baca juga: Apa Itu Buta Warna? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya
“Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi kebutaan permanen," katanya.
Selain gangguan penglihatan, gejala tumor otak bisa menyebabkan perubahan perilaku dan kepribadian. Pada kasus tertentu, pasien yang sebelumnya pendiam bisa berubah menjadi lebih agresif atau hiperaktif karena gangguan pada bagian depan otak.
"Apabila ukuran tumor terus bertambah, risiko komplikasi yang lebih serius juga meningkat. Salah satunya adalah penurunan kesadaran akibat terganggunya pusat kesadaran di otak," paparnya.
Selain itu, masih ada gejala penyerta lainnya yang dialami pasien. Termasuk kejang pertama kali pada usia dewasa, gangguan keseimbangan dan koordinasi, tangan atau kaki terasa lemah, hingga pasien mengalami penurunan kesadaran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan