INDOZONE.ID - Masa setelah melahirkan tidak hanya menjadi periode pemulihan fisik bagi ibu, tetapi juga fase yang rentan terhadap berbagai masalah kesehatan mental. Selain depresi dan kecemasan, para peneliti mengingatkan bahwa post-traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma juga dapat dialami sebagian ibu setelah persalinan.
Penelitian terbaru dari tim Emory University, Amerika Serikat, menemukan bahwa gejala PTSD dapat memengaruhi aktivitas otak yang berperan dalam mengenali dan merespons kebutuhan bayi. Temuan ini menunjukkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental ibu sejak masa kehamilan hingga setelah melahirkan.
PTSD Setelah Melahirkan Tidak Boleh Diabaikan
Melansir Psychology Today, penelitian tersebut menjelaskan bahwa fokus terhadap kesehatan mental ibu selama ini lebih banyak tertuju pada depresi pascamelahirkan. Padahal, sebagian ibu juga mengalami gejala PTSD yang dapat memengaruhi proses pengasuhan.
Baca juga: Bukan Sekedar PTSD Biasa, Ketahui Complex PTSD Beserta Gejalanya
Gejalanya meliputi:
- Ingatan yang terus muncul terhadap pengalaman traumatis.
- Kewaspadaan berlebihan.
- Menghindari situasi tertentu.
- Mati rasa atau sulit merasakan emosi.
Kondisi tersebut bisa muncul pada masa nifas, yaitu periode ketika ibu juga sedang beradaptasi dengan peran barunya sambil menjalani pemulihan fisik.
Peneliti Amati Respons Otak Saat Mendengar Tangisan Bayi
Penelitian yang dipimpin oleh Rebecca Lipschutz melibatkan ibu yang memiliki bayi berusia enam hingga 12 minggu.
Para peneliti terlebih dahulu mengamati interaksi antara ibu dan bayinya untuk menilai seberapa sensitif ibu dalam mengenali dan merespons kebutuhan sang anak.
Sekitar satu hingga dua minggu setelahnya, para ibu menjalani pemeriksaan functional magnetic resonance imaging (fMRI) sambil mendengarkan rekaman tangisan bayi mereka sendiri.
Tujuannya adalah melihat bagian otak mana yang aktif ketika seorang ibu merespons suara tangisan bayinya.
Gejala PTSD Berkaitan dengan Aktivitas Otak yang Lebih Rendah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang lebih peka terhadap kebutuhan bayinya memiliki aktivitas lebih tinggi pada insula, yaitu area otak yang berperan mengenali sinyal emosional dan sensasi tubuh.
Sebaliknya, ibu dengan gejala PTSD yang lebih tinggi memperlihatkan aktivitas yang lebih rendah pada beberapa wilayah otak penting, yaitu:
- Insula
- Amigdala
- Ventromedial prefrontal cortex
Ketiga bagian otak tersebut berperan dalam mengenali sinyal emosional, mendeteksi ancaman, sekaligus mengatur respons emosi.
Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa hasil ini bukan berarti ibu dengan PTSD tidak mampu menjadi orang tua yang hangat atau responsif.
Menurut mereka, gejala trauma hanya dapat membuat proses pengasuhan menjadi lebih menantang, terutama karena masa setelah melahirkan juga dipenuhi berbagai perubahan fisik dan emosional.
Mengapa Masa Pascamelahirkan Menjadi Periode yang Rentan?
Selain menghadapi gejala trauma, ibu yang baru melahirkan umumnya juga mengalami:
- Kurang tidur.
- Perubahan hormon.
- Kelelahan fisik.
- Proses pemulihan tubuh setelah persalinan.
Kombinasi berbagai faktor tersebut dapat membuat proses merawat bayi terasa lebih berat, sehingga dukungan kesehatan mental menjadi semakin penting.
Baca juga: Berisiko Alami PTSD Akibat Trauma, Jangan Cuek pada Kesehatan Mental Ibu usai Melahirkan
Peneliti Dorong Skrining PTSD Dilakukan Lebih Rutin
Berdasarkan temuan tersebut, peneliti menilai skrining PTSD dan gejala trauma sebaiknya dilakukan secara rutin, baik selama kehamilan maupun setelah persalinan, sebagaimana skrining depresi pascamelahirkan.
Dengan deteksi yang lebih dini, ibu yang membutuhkan bantuan dapat memperoleh penanganan melalui terapi berbasis bukti, seperti:
- Terapi perilaku kognitif berfokus trauma.
- Pelatihan regulasi emosi.
- Pendekatan mindfulness.
Menurut peneliti, dukungan terhadap kesehatan mental ibu sejak awal tidak hanya membantu proses pemulihan, tetapi juga mendukung kualitas pengasuhan, perkembangan anak, serta memperkuat ikatan antara ibu dan bayi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychology Today