Ilustrasi pria China. (Freepik)
INDOZONE.ID - Percaya enggak kalau di China ada jutaan pria yang hidup jomlo. Bahkan pria miskin di sana disebut makin sulit dapat jodoh.
Yap, peluang mereka buat dapetin sangat kecil. Padahal, banyak dari mereka merasa siap menikah. Karena jumlah pria di China jauh melebihi jumlah perempuan, selisih sekitar 30 juta.
Yang lebih pedih lagi, pria dari kelas sosial bawah makin sulit dapat pasangan. Hal ini diungkapkan oleh Hao, seorang pelatih kencan asal China yang telah menangani lebih dari 3.000 klien.
“Sebagian besar dari mereka adalah kelas pekerja, mereka justru yang paling kecil kemungkinannya untuk menemukan istri,” katanya dikutip BBC, Minggu (13/7/2025).
Biar gampang dapat istri, Hao nyuruh pria jomlo buat ubah penampilan. Dari rambut baru dan bahkan pilih pakaian yang lebih keren buat kliennya.
Ia ngajarin teknik kencan online atau langsung. Salah satu tekniknya disebut "push and pull", yaitu memuji, julid sampai ngajak bercanda.
Baca juga: Momen Pertemuan Anak dan Orang Tua Setelah 5 Bulan LDR-an, Bikin Netizen Terharu
Realita ini juga tergambar dalam dokumenter karya Violet Du Feng berjudul "The Dating Game, yang mengikuti Hao dan tiga kliennya selama satu minggu dalam program pelatihan kencan.
Hao maupun para kliennya berasal dari latar belakang miskin dan pedesaan. Mereka termasuk generasi yang tumbuh setelah tahun 90-an, ketika banyak orang tua pergi merantau dan anak-anakna diasuh saudara.
Kini, generasi itu makin dewasa dan merantau buat cari, sekaligus ningkatin status sosial mereka.
Du Feng, pembuat dokumenter yang kini tinggal di AS itu menyoroti bahwa filmnya ini menggambarkan realita generasi muda di tanah kelahirannya.
“Di masa ketika kesenjangan gender sangat ekstrem, khususnya di China, film ini mencoba menjembatani jurang itu dan menciptakan ruang dialog,” ungkapnya.
Du Feng menambahkan, banyak pria jomlo ini dianggap gagal karena status ekonomi mereka. Mereka jadi minder kalau pendapatannya rendah atau pekerjaannya gak nentu.
"Mereka dianggap lapisan terbawah masyarakat—kelas pekerja. Maka, menikah jadi semacam simbol keberhasilan baru."
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BBC