Ilustrasi sedang membaca (Unsplash/Lucrezia Carnelos)
INDOZONE.ID - Dalam kehidupan sehari-hari, kita jarang membaca tulisan dengan bersuara. Lebih sering, kita membaca nama warung, komposisi pada kemasan, iklan jalanan, pesan media sosial, maupun berbagai tulisan di sekitar kita secara diam-diam atau dalam hati. Cara ini dinilai lebih nyaman, terutama di tempat umum, karena tidak mengganggu orang lain serta lebih efisien karena tidak perlu menggerakkan lidah dan bibir. Namun, di balik efisiensi energi dan etika sosial tersebut, adakah perbedaan lain antara membaca bersuara dan membaca dalam hati?
Berdasarkan artikel ilmiah tahun 2023 berjudul “Reading text aloud benefits memory but not comprehension,” membaca dengan bersuara terbukti membantu otak dalam mengingat bahan bacaan. Namun, manfaat ini terbatas pada ingatan secara verbatim atau kata demi kata. Hal ini mirip dengan para penghafal kitab suci yang mengingat ayat demi ayat tanpa mengubah teksnya. Seperti yang dinyatakan dalam judul artikel tersebut, membaca bersuara tidak meningkatkan kualitas pemahaman bacaan. Artinya, mau membaca bersuara atau dalam hati, jika tidak paham ya tetap tidak paham. Dengan demikian, efektivitas membaca bersuara lebih condong pada literal comprehension atau hafalan. Jadi, jika ingin menghafal sesuatu, cobalah mengulang-ulangnya secara bersuara.
Baca juga: Trik Membaca Cepat Tanpa Mengorbankan Pemahaman, Gak Bakal Bikin Ngantuk!
Menariknya, artikel ini juga membuka kemungkinan adanya peningkatan pemahaman ketika membaca bersuara. Dalam salah satu eksperimen, hasil menunjukkan peningkatan baik dalam ingatan maupun pemahaman. Faktor yang diduga berperan adalah kondisi menegangkan, seperti membaca bersuara di hadapan orang lain. Hal ini disimpulkan karena dalam eksperimen tersebut, partisipan diminta membaca dengan bersuara sementara peneliti hadir secara langsung untuk memastikan jalannya penelitian.
Wanita yang sedang membaca buku. (photo/Ilustrasi/Pexels/Thought Catalog)
Baca juga: Kebiasan Membaca Buku, Cara Sederhana untuk Hidup Lebih Lama
Penelitian lain berjudul “The effects of teacher’s reading aloud versus students’ silent reading on surface and deep level comprehension: a quasi-experimental study from a tertiary context” menemukan bahwa siswa yang membaca dalam hati memiliki pemahaman lebih baik dibanding ketika mereka dibacakan oleh guru. Kesimpulan ini diperoleh dari penelitian terhadap 60 mahasiswa kelas persiapan bahasa Inggris di sebuah perguruan tinggi di Istanbul.
Namun, penting dicatat bahwa penelitian ini menggunakan teks informasional (informational text), yaitu teks yang berfokus pada penyajian fakta-fakta. Hal ini krusial karena penelitian lain menunjukkan hasil berbeda ketika yang dibacakan adalah teks naratif. Pada teks naratif, baik pemahaman permukaan maupun pemahaman mendalam justru meningkat secara signifikan ketika guru membacakannya. Perbedaan ini dapat dipahami karena karakteristik teks informasional dan naratif memang berbeda. Teks informasional berfokus pada fakta, sementara teks naratif lebih menekankan emosi serta percakapan (dialog).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Doi.org