Ilustrasi pasangan yang punya kecerdasan emosional setara (freepik)
INDOZONE.ID - Banyak orang mikir, kalau hubungan yang langgeng itu cuma modal cinta, chemistry, dan komunikasi. Padahal, ada satu hal penting yang jarang dibahas, kecerdasan emosional.
Yap, kecerdasan emosional membantu kamu dan pasangan buat lebih peka, nggak gampang defensif, dan bisa ngobrol tanpa saling nyerang.
Di sini, kita bakal bahas kenapa kecerdasan emosional itu penting banget dalam hubungan cinta. Yuk, baca langsung biar kisah cintamu makin awet!
Kecerdasan emosional dalam hubungan (freepik)
Singkatnya, kecerdasan emosional adalah soal gimana kamu paham perasaan sendiri dan orang lain. Isinya antara lain:
Setiap orang punya level kecerdasan emosional yang beda-beda. Bisa jadi, kamu dewasa dan profesional di kantor, tapi gampang kebawa emosi pas urusan cinta.
Bahkan, ada yang ngerasa lebih stabil secara emosional pas masih single dibanding saat lagi di hubungan yang rumit.
Baca juga: Soft Launch vs Hard Launch Hubungan Percintaan Zaman Now: Mana Gaya Kamu?
Ilustrasi pentingnya kecerdasan emosional dalam hubungan (freepik)Paham perasaan sendiri itu penting banget, karena ngaruh ke hampir semua aspek hidup, termasuk cara kamu pacaran atau menjalani hubungan serius.
Dari sini, bisa tahu apa yang kamu mau, apa yang bikin nggak nyaman, dan di mana batasanmu.
Kalau nggak sadar sama emosi sendiri, kamu bisa tanpa sadar mengulang pola hubungan lama yang nggak sehat. Ujung-ujungnya, malah merasa sendirian meski punya pasangan.
Kalau kecerdasan emosional nggak setara, biasanya hubungan bakal kerasa lebih capek. Yang lebih peka nebak-nebak perasaan pasangan, merasa nggak didengarkan, atau malah dibilang terlalu baper.
Baca juga: 40 Istilah Percintaan Ala Gen Z, Cari Tahu Biar Nggak Kudet!
Ada juga kasus di mana seseorang nggak bisa nenangin diri sendiri pas cemas. Padahal, kemampuan menenangkan diri itu bagian penting dari EQ.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychology Today