Ilustrasi orang tua dan anak. (Photo/Ilustrasi/Pexels)
INDOZONE.ID - Pernah nggak sih kamu mikir kenapa cara kamu ngerasain cinta, baik dalam hubungan percintaan maupun dengan keluarga, bisa beda banget sama teman kamu? Atau kenapa kadang kamu ngerasa “kurang diperhatiin”, padahal orang tua sayang banget sama kamu? Jawabannya mungkin ada hubungannya dengan bahasa cinta atau love language yang kamu pelajari sejak kecil, dari cara orang tua menunjukkan perhatian dan kasih sayang.
Konsep bahasa cinta ini pertama kali diperkenalkan oleh Gary Chapman, penulis asal Amerika Serikat, lewat bukunya yang terkenal, The Five Love Languages. Menurut Chapman, setiap orang punya cara unik sendiri untuk merasakan dan memberikan cinta, dan pola itu sering mulai terbentuk dari pengalaman kita waktu kecil bersama orang tua.
Bahasa cinta atau love languages adalah cara kita merasa dicintai. Chapman membagi bahasa cinta menjadi lima, yaitu:
Meski awalnya teori ini dikembangkan untuk hubungan romantis, versi anak juga sudah dibahas dan diaplikasikan oleh orang tua untuk membangun hubungan sehat dalam keluarga.
Baca juga: Orang Tua Wajib Tahu! Ini 10 Tips Pola Asuh Anak Biar Jadi Pede, Tangguh, dan Sukses
Menurut penelitian psikologi perkembangan, perhatian orang tua sejak kecil membentuk “dasar emosional” kita, yang bisa kuat atau rapuh. Anak yang merasa dicintai dan diperhatikan punya dorongan lebih besar untuk percaya diri dan membangun hubungan sehat di masa dewasa. Sebaliknya, jika kasih sayang atau perhatian orang tua tidak sesuai dengan love language anak, si kecil bisa merasa kosong secara emosional.
Contohnya, jika kamu adalah anak yang paling senang dengan quality time, tetapi orang tua sibuk terus hingga jarang punya waktu bersama, kamu bisa merasa kurang diperhatikan. Secara tidak langsung, pengalaman ini bisa membentuk love language kamu di masa dewasa, misalnya menjadi orang yang sangat menghargai waktu bersama pasangan atau keluarga karena dulu kamu kurang merasakannya.
Atau mungkin, kamu lebih sering diberi hadiah daripada sentuhan fisik. Banyak anak yang akhirnya merasa bahwa cinta harus ditunjukkan lewat benda terlebih dahulu, bukan lewat pelukan atau kata-kata sayang. Semua ini bisa berkaitan erat dengan pola perhatian orang tua saat kamu kecil.
Ilustrasi orang tua dan anak. (freepik)
Jika melihat versi love languages untuk anak, perhatian itu tidak hanya soal materi, tetapi tentang bagaimana orang tua mengomunikasikan rasa sayang. Banyak penelitian parenting internasional menyebutkan bahwa saat anak merasa dicintai dengan cara yang ia pahami, hal itu bisa membantu perkembangan sosial dan emosinya.
Contohnya:
Inilah bagian yang membuat pembahasan bahasa cinta semakin relevan. Banyak ahli psikologi percaya bahwa bahasa cinta yang kita pelajari dari orang tua sejak kecil sering terbawa hingga dewasa. Artinya, cara kita menjalani hubungan romantis atau bersikap kepada pasangan sering kali mirip dengan cara orang tua menunjukkan kasih sayang dulu.
Jika kamu sering merasa pasangan kurang peka, padahal menurutmu kamu sudah menunjukkan cinta dengan jelas, bisa jadi kalian memiliki bahasa cinta yang berbeda. Dan perbedaan itu sering kembali ke pengalaman masa kecil, tentang bagaimana orang tua menunjukkan kasih sayang saat itu.
Baca juga: 5 Bahasa Cinta yang Juga Perlu Diterapkan ke Diri Sendiri
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instituteofchildpsychology.com