Ilustrasi pengasuhan anak. (Freepik)
INDOZONE.ID - Selama ini, pengasuhan anak sering diposisikan sebagai urusan domestik.
Padahal, satu keputusan menitipkan anak bisa memicu dampak berlapis. Mulai dari ketenangan keluarga, performa kerja orang tua, hingga kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Menurut Antoni Lewa, CEO MainStory, pengasuhan anak punya efek lintas sektor dan lintas generasi.
“Ketika seorang ibu bisa tetap bekerja karena anaknya mendapatkan pengasuhan yang aman dan berkualitas, dampaknya tidak berhenti di keluarga itu saja. Dampaknya menjalar ke produktivitas perusahaan dan ekonomi nasional,” ujarnya kepada Indozone, Kamis (29/1/2026).
Berbagai riset menunjukkan investasi pada pengasuhan anak berkualitas dapat menghasilkan return hingga 7–10 kali lipat.
Dampaknya bukan hanya pada tumbuh kembang anak, tetapi juga pemerataan peluang ekonomi di masa dewasa.
Dalam konteks Indonesia, akses childcare yang terjangkau dan berkualitas berpotensi mendorong partisipasi kerja perempuan dari 53% menjadi 58%. Kenaikan ini diperkirakan bisa menyumbang hingga USD62 miliar ke PDB per tahun.
Angka tersebut menegaskan satu hal: pengasuhan anak adalah infrastruktur sosial yang ikut menentukan daya saing tenaga kerja nasional.
Sejak berdiri pada 2022, MainStory telah mengoperasikan lebih dari 30 unit daycare dan homecare di lima kota.
Hingga Januari 2026, layanan ini telah menjangkau lebih dari 7.000 keluarga, dengan sekitar 4.500 di antaranya adalah ibu bekerja.
Total hari pengasuhan yang tercatat mencapai lebih dari 150.000 hari, dengan tingkat retensi keluarga sebesar 89% dan net promoter score 71%.
“Angka-angka ini bukan sekadar pertumbuhan bisnis. Ini mencerminkan kebutuhan riil keluarga bekerja hari ini dan kepercayaan yang mereka titipkan kepada kami,” kata Antoni.
Survei internal MainStory menunjukkan efek domino pengasuhan anak di level keluarga.
Sebanyak 68% orang tua mengaku lebih fokus bekerja.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan