Ilustrasi gaya hidup santai anak muda. (Freepik)
INDOZONE.ID - Media sosial seolah tak pernah kehabisan tren hidup. Setelah hustle culture merajalela, kini muncul istilah yang terdengar jauh lebih adem: soft life. Di TikTok dan Instagram, soft life digambarkan lewat hidup yang pelan, penuh istirahat, minim drama, dan jauh dari tekanan. Kedengarannya ideal, ya?
Namun, jika ditelisik lebih dalam, soft life sebenarnya bukan konsep baru. Ini lebih seperti nama kekinian untuk prinsip hidup yang sudah lama diajarkan dalam dunia terapi dan kesehatan mental, hanya saja kini dikemas lebih estetik dan mudah viral.
Soft life adalah pilihan sadar untuk tidak terus hidup dalam mode “capek tapi dipaksa kuat”. Kontennya sering menampilkan pagi santai, journaling, traveling tanpa ribet, hingga pesan tentang berhenti memaksakan diri demi terlihat produktif.
Istilah ini pertama kali populer di Nigeria, terutama di kalangan perempuan kulit hitam yang lelah dengan tuntutan untuk selalu tangguh dan tahan banting. Soft life hadir sebagai penolakan terhadap hidup yang isinya hanya bertahan. Saat menyebar secara global, maknanya memang sempat bergeser dan diasosiasikan dengan kemewahan, tetapi intinya tetap sama: hidup lebih tenang dan ramah pada diri sendiri.
Baca juga: 6 Cara Melakukan Color Walking, Tren Jalan Kaki Viral yang Bikin Pikiran Auto Tenang
Meski terdengar trendi, nilai-nilai soft life sudah lama menjadi “menu utama” dalam terapi. Selama bertahun-tahun, para terapis membantu orang untuk:
Singkatnya, soft life hanyalah label baru untuk kerja emosional yang sudah lama ada.
Ilustrasi caption tentang santai di taman (freepik/benzoix)
Banyak prinsip soft life sejalan dengan pendekatan terapi modern seperti Dialectical Behavior Therapy (DBT). Terapi ini berfokus pada keterampilan hidup yang relevan dengan realita sekarang, seperti:
Soft life bukan anti-ambisi. Justru mengajarkan bahwa mengejar mimpi dan istirahat bisa berjalan beriringan.
Baca juga: Capek Selalu Merasa FOMO? Yuk Kenalan dengan JOMO, Tren Hidup Tenang di Tengah Dunia Serba Update
Soft life juga mengajak kita mempertanyakan “aturan hidup” yang selama ini dianggap normal, seperti:
Dengan meninggalkan pola pikir ini, hidup terasa lebih ringan, napas lebih lega, dan stres tidak menumpuk.
Soft life bukan cuma soal estetika atau kutipan manis. Supaya tidak berhenti di konten media sosial semata, ada beberapa hal penting yang perlu dilakukan:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Lifestance.com