Ilustrasi hidup tenang (Freepik)
INDOZONE.ID - Di tengah dunia yang bergerak supercepat dan linimasa media sosial yang tak pernah tidur, banyak orang tanpa sadar terjebak dalam rasa takut tertinggal. Mulai dari tren terbaru, pencapaian teman, sampai promo diskon yang seolah wajib diikuti. Fenomena ini dikenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out) dan dampaknya sering kali lebih melelahkan daripada yang kita sadari.
Menariknya, kini muncul konsep kebalikannya yang justru terasa lebih menenangkan, yaitu JOMO (Joy of Missing Out). Bukan soal ketinggalan, JOMO adalah tentang menikmati keputusan untuk tidak ikut semuanya dan merasa baik-baik saja dengan pilihan tersebut.
Baca juga: Fenomena FoMO di Era Media Sosial, Begini Solusi untuk Mengelolanya
FOMO bukan hanya soal media sosial. Rasa takut tertinggal ini bisa merembet ke berbagai aspek hidup, mulai dari karier, gaya hidup, sampai standar kesuksesan yang ditentukan orang lain. Akibatnya, banyak orang terus membandingkan diri, merasa kurang, dan sulit merasa puas.
Sementara itu, JOMO hadir sebagai pengingat bahwa tidak semua hal harus diikuti. JOMO adalah tentang memilih mana yang benar-benar penting, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan diri sendiri. Sikap ini membantu seseorang lebih sadar, lebih bersyukur, dan lebih damai menjalani hidup.
Meski terdengar seperti “menarik diri”, JOMO bukan berarti menutup mata dari dunia. Psikolog Adi Dinardinata, S.Psi., M.Psi., seperti dikutip dari Kompas.com, menegaskan bahwa kuncinya ada pada keseimbangan. Tetap mengikuti perkembangan itu wajar, tetapi tidak perlu memaksakan diri hingga kehilangan arah hidup sendiri.
Ilustrasi stress. (photo/Ilustrasi/Pexels/Tim Gouw)
Jika terus dibiarkan, FOMO bisa membawa efek negatif yang cukup serius. Apa saja dampaknya?
Baca juga: Mengenal Istilah JOMO, Lawan dari FOMO: Kala Hidup Lebih Bahagia Tanpa Terbawa Arus Tren Sosial
Kabar baiknya, JOMO bukan sesuatu yang rumit dan bisa diterapkan pelan-pelan dalam keseharian. Berikut caranya:
Intinya, JOMO mengajak kita untuk berhenti hidup dalam perlombaan yang tak pernah selesai. Dengan memilih lebih sadar, fokus pada diri sendiri, dan tidak terus-menerus membandingkan hidup dengan orang lain, hidup terasa lebih ringan, tenang, dan bermakna. Tidak ikut semuanya bukan berarti kalah, justru bisa jadi pilihan paling sehat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Bfi.co.id