Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 03 FEBRUARI 2026 • 17:45 WIB

Duck Syndrome: Terlihat Santai, Padahal Mental Lagi Merana

Duck Syndrome: Terlihat Santai, Padahal Mental Lagi MeranaIlustrasi pura-pura bahagia (Unsplah/Alpgiray Kelem)

INDOZONE.ID - Istilah duck syndrome digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang tampak tenang dan baik-baik saja di luar, padahal di balik itu ia sedang berjuang keras memenuhi ekspektasi sambil dihantui kecemasan. Meski tidak dikategorikan sebagai gangguan mental klinis, duck syndrome berpotensi memicu masalah serius seperti stres kronis, kecemasan berlebih, hingga depresi jika dibiarkan berlarut-larut.

Sesuai namanya, kondisi ini diibaratkan seperti seekor bebek yang terlihat mengapung dengan tenang di permukaan air. Padahal, di bawah permukaan, kakinya mengayuh dengan sangat cepat agar tetap bergerak. Analogi ini menggambarkan seseorang yang tampak santai dan terkendali, tetapi sebenarnya sedang bekerja keras dan menekan diri secara mental.

Baca juga: Ini Cara Menghadapi Main Character Syndrome, Orang yang Selalu Ingin Jadi Pusat Perhatian

Asal-Usul Istilah Duck Syndrome

Merangkum berbagai sumber, istilah duck syndrome pertama kali populer di lingkungan Stanford University, Amerika Serikat. Istilah ini kerap digunakan oleh mahasiswa, dosen, dan akademisi untuk menggambarkan mahasiswa yang tampak menjalani hidup santai, namun diam-diam belajar dan bekerja sangat keras demi mempertahankan prestasi.

Mahasiswa dengan duck syndrome sering kali dikenal sebagai sosok yang mengaku “tidak belajar sama sekali”, tetapi justru mendapatkan nilai tertinggi. Meski terlihat menyebalkan bagi sebagian orang, kondisi ini kerap lahir dari tekanan ekspektasi yang besar serta ketakutan akan kegagalan dan penilaian sosial.

Tak sedikit dari mereka memilih menyembunyikan usaha kerasnya agar tidak terlihat istimewa. Tujuannya, supaya ketika gagal, mereka tidak merasa malu atau tidak perlu menghadapi komentar yang justru memperburuk kondisi mental.

Gejala Duck Syndrome yang Perlu Diwaspadai

Duck Syndrome: Terlihat Santai, Padahal Mental Lagi MeranaIlustrasi Duck Syndrome. (Freepik)

Seseorang yang mengalami duck syndrome umumnya menunjukkan sejumlah tanda berikut:

  1. Terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain. Tolok ukur keberhasilan bukan berasal dari perkembangan diri sendiri, melainkan pencapaian orang lain, yang akhirnya memicu stres dan rasa tidak pernah cukup.
  2. Selalu merasa orang lain lebih baik. Rasa rendah diri membuat pengidapnya terus meremehkan kemampuan sendiri dan menutup-nutupi kerja keras yang telah dilakukan.
  3. Ketakutan berlebihan terhadap kegagalan. Meski sudah berusaha maksimal, mereka terus dihantui pikiran akan masa depan yang buruk dan merasa tidak pernah aman dengan pencapaian yang diraih.
  4. Sangat sensitif terhadap kritik. Alih-alih menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi, mereka justru semakin menyalahkan diri, menarik diri dari lingkungan, dan kehilangan motivasi.
  5. Munculnya keluhan fisik. Tekanan mental yang menumpuk dapat memicu gangguan tidur, kelelahan ekstrem, sakit kepala, gemetar, hingga mulut kering tanpa sebab medis jelas.
  6. Tidak bisa lepas dari pola pikir kompetitif. Segala hal dipandang sebagai perlombaan yang harus dimenangkan, sehingga membuat pikiran lelah dan sulit menikmati proses.

Baca juga: Apa Itu Duck Syndrome? Terlihat Penampilan Sempurna, Tapi Tersiksa Diam-diam

Cara Mencegah Duck Syndrome Berkepanjangan

Jika gejala duck syndrome mulai mengganggu aktivitas harian, langkah terbaik adalah mencari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater, bukan melakukan diagnosis mandiri. Pendampingan ahli dapat membantu mengelola tekanan, pola pikir, serta ekspektasi yang tidak realistis.

Selain itu, penting untuk membangun afirmasi diri secara sehat. Mengakui bahwa usaha yang dilakukan sudah cukup, belajar menerima kesalahan, dan memberi ruang istirahat bagi diri sendiri merupakan bagian dari menjaga kesehatan mental.

Menuntut diri untuk berkembang memang penting, namun toleransi terhadap diri sendiri tak kalah krusial. Karena tanpa keseimbangan, ambisi justru bisa berubah menjadi beban yang melelahkan secara emosional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Better Help

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Duck Syndrome: Terlihat Santai, Padahal Mental Lagi Merana

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!