Ilustrasi surat cinta (freepik).
INDOZONE.ID - Mengungkapkan cinta lewat surat puitis? Boleh. Tapi kalau surat itu ditulis kecerdasan buatan, siap-siap dibilang malas dan tak autentik.
Sebuah studi terbaru dari Universitas Kent, Inggris, menemukan fakta menohok di tengah hiruk-pikuk Hari Kasih Sayang.
Penelitian yang melibatkan 4.000 partisipan ini menguji persepsi orang terhadap mereka yang menggunakan AI untuk berbagai tugas.
Hasilnya: menulis surat cinta, permintaan maaf, atau janji pernikahan dengan bantuan AI dinilai "kurang peduli, kurang tulus, kurang dapat dipercaya, dan lebih malas"—bahkan ketika kualitas tulisannya bagus dan penggunanya jujur soal pemakaian AI.
Baca juga: 30 Ucapan Hari Valentine Romantis untuk Pacar dalam Bahasa Inggris
Dr Scott Claessens, peneliti dalam proyek Trust in Moral Machines, menyebut publik tak hanya menilai produk akhir, tapi juga proses di baliknya.
"Jika Anda menggunakan AI untuk tugas-tugas sosial yang merekatkan hubungan, Anda berisiko dinilai bukan cuma karena tak cukup berusaha, tapi juga karena dianggap tak peduli," ujar Dr Jim Everett, rekan peneliti dari Universitas Kent.
Warga biasa punya pendapat serupa. Jacqueline McKenzie warga Tunbridge Wells mengaku tak akan pernah memakai AI untuk urusan personal.
"Sejuta tahun pun tidak," tegasnya. Liam Goodhew dari Bexley menambahkan, surat cinta untuk pasangannya, Paige, harus dari hati, bukan komputer.
Baca juga: Daring Adalah: Pengertian, Kelebihan, Kekurangan, dan Contohnya
Senada, Reza Jafary bilang pesan Valentine "harus datang dari hati, bukan mesin."
Studi ini dirilis tepat di momen Valentine. Pesannya jelas: AI boleh jago merangkai kata, tapi cinta tetaplah urusan manusia.
Para psikolog mengingatkan agar masyarakat "berpikir bijak" sebelum menekan tombol generate untuk hal-hal personal.
Karena pada akhirnya, yang dicari dalam hubungan antarmanusia bukanlah kesempurnaan diksi, melainkan kehadiran dan usaha tulus.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BBC