Ilustrasi patah hati karena putus cinta. (photo/Ilustrasi/Pexels/Kat Jayne)
INDOZONE.ID - Putus cinta hampir nggak pernah terasa mudah. Bahkan ketika kamu sudah yakin hubungan itu nggak lagi berjalan sehat, tetap saja ada rasa takut yang bikin langkah terasa berat.
Takut dia marah, menangis, mengemis supaya nggak meninggalkan dia, atau bahkan, dicap jahat dan nggak punya hati karena memilih pergi.
Banyak orang justru bertahan dalam hubungan yang sebenarnya sudah “mati”, hanya karena nggak sanggup menghadapi reaksi pasangannya.
Padahal hubungan itu ibarat naik kendaraan jarak jauh. Kalau dari awal tujuan kalian sudah berbeda arah, memaksa tetap duduk di kursi yang sama cuma bikin perjalanan makin melelahkan.
Baca juga: Jangan Buru-Buru Putus! 3 Cara Ini Bisa Selamatkan Asmara yang Hampir Hancur
Saat kamu mengakhiri hubungan, respons pasangan bisa sangat beragam dan kadang di luar dugaan.
Ada yang langsung menangis.
Ada yang marah besar.
Ada juga yang tiba-tiba memohon agar diberi kesempatan lagi.
Situasi seperti ini sering membuat seseorang goyah dan membatalkan keputusan putus di detik terakhir. Rasa bersalah muncul begitu saja saat melihat orang yang pernah kamu sayang terluka di depan mata.
Tapi kamu perlu memahami satu hal penting: reaksi emosional mereka bukan tanggung jawabmu sepenuhnya. Kamu tetap bisa bersikap empati tanpa harus mengorbankan kebahagiaan sendiri.
Baca juga: Doa Menyembelih Hewan Kurban Lengkap dengan Tata Caranya
Tangisan memang bikin hati luluh. Apalagi jika hubungan kalian sudah berjalan lama dan penuh kenangan. Namun, jangan sampai air mata sesaat membuatmu lupa alasan kenapa kamu ingin pergi sejak awal.
Kalau hubungan dipenuhi kebohongan, pertengkaran tanpa akhir, rasa tidak dihargai, atau kamu terus merasa lelah secara emosional — bertahan hanya karena kasihan justru bisa memperpanjang luka untuk dua orang sekaligus.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline