Ilustrasi berdoa. (Eliani Kusnedi)
INDOZONE.ID - Bagi seorang Muslim, kalimat syahadat adalah napas dari keimanan. Kalimat ini bukan sekadar deretan kata yang dihafalkan sejak kecil, melainkan fondasi utama dan rukun Islam yang pertama. Tanpa syahadat, amalan ibadah lainnya ibarat sebuah bangunan megah yang tidak memiliki fondasi kokoh.
Bahkan, bagi seseorang mualaf, mengucapkan kalimat suci ini adalah gerbang utama atau syarat sah untuk menjadi seorang Muslim. Lantas, bagaimana lafal dua kalimat syahadat yang benar? Dan apa sebenarnya arti serta makna yang terkandung di balik bacaan ashadualla ilahailallah wa asyhadu anna muhammadarrasulullah?
Agar keimanan kita semakin mantap, mari kita bedah satu per satu tulisan Arab, bacaan latin, arti, hingga makna filosofis dari dua kalimat syahadat ini.
Baca juga: Apa Itu Kalimat Syahadat? Ini Penjelasan dan Maknanya
Secara bahasa, kata "syahadat" berasal dari bahasa Arab syahida-yasyhadu-syahadatan yang berarti "kesaksian" atau "bersaksi". Dalam syariat Islam, syahadat dibagi menjadi dua bagian yang tak terpisahkan, yakni Syahadat Tauhid dan Syahadat Rasul. Keduanya merangkum intisari ajaran Islam.
Berikut adalah lafal lengkap dua kalimat syahadat beserta tulisan Arab, latin, dan terjemahannya:
Tulisan Arab:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ ٱللَّهِ
Tulisan Latin:
Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhadu anna Muhammadar rasuulullaah.
Artinya:
"Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah."
Setelah mengetahui bacaannya, penting bagi kita untuk tidak sekadar melafalkannya di lisan. Syahadat memiliki kedudukan di tiga tempat: lisan (diucapkan), kalbu (diyakini dalam hati), dan badan (diamalkan lewat perbuatan).
Untuk bisa mengamalkannya, kita harus memahami makna dari kalimat ini yang terbagi menjadi dua bagian:
Kalimat pertama ini disebut Syahadat Tauhid. Maknanya sangat tegas dan mutlak. Ketika seorang Muslim mengucapkan kalimat ini, ia sedang berikrar dan bersaksi bahwa hanya Allah SWT satu-satunya Dzat yang berhak dan wajib disembah.
Kalimat ini menuntut kita untuk menolak segala bentuk kemusyrikan atau menduakan Allah, baik berupa benda mati, jin, manusia, maupun hawa nafsu duniawi. Keyakinan ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 18, di mana Allah dan para malaikat bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia Yang Maha Perkasa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber, NU Online